Ketam Ladam Rumah Ingatan: Menggali Madura, Menggali Pesantren

Kalau Subaidi Pratama menggali khazanah Madura dari tradisi keseniannya,  Selendang Sulaiman menggali segi lain dari tanah kelahirannya, yaitu idiom-idiom Madura dan manusianya. Dalam hal terakhir adalah petani tembakau. Puisinya “Daun Kehidupan” (dimuat dalam buku ini) secara eksplisit ditujukan kepada mereka. Yang dikemukakannya tentang petani tembakau adalah pandangan romantik: hijau daun tembakau adalah kilau yang segar. Sebab, bertani tembakau tak lain adalah ibadah siang-malam yang tak kenal waktu, bahkan tak kenal cuaca:dingin dan panas sebatas pertemuan/ antara kehadiran dan kepergian di sajadah alam. Selebihnya adalah rasa syukur: puji-pujian dipanjatkan/…/ lalu semerbak kebahagiaan berkabar ke kota-kota.

Dalam perspektif berbeda, Ahmad Subki juga berbicara tentang petani tembakau Madura. Puisinya yang berjudul “Fragmen Hujan dalam Sebuah Lukisan” dia persembahkan kepada mereka. Dengan halus sekali puisi Ahmad Subki mengemukakan jeritan pedih mereka. Banyak petani tembakau Madura memang seringkali menderita kerugian akibat ketidakpastian cuaca dan terutama ketidakpastian harga tembakau. Bahkan harga tembakau terkesan dipermainkan di musim panen. Tapi dalam puisi Ahmad Subki, jeritan pedih petani terutama disebabkan oleh ketidakpastian cuaca, dimana hujan bisa turun tiba-tiba dan pasti merusak tanaman tembakau: sejenak ingin kukemas hujan dari lukisanmu/ sebab tak kuasa kurahasiakan derai airmata/ kalau senyum yang tertampung di ujung setiap daun/ harus sirna dirampas deras tetesannya

Meskipun tak ada kepastian cuaca dan harga, petani tembakau tetap bertani bila musim kemarau tiba ―masa pertanian tembakau memang di musim kemarau. Sebab, pada pertanian tembakaulah mereka menaruh harapan ekonomi sementara tak ada pilihan pertanian lain di musim kemarau. Pada titik itu tembakau seakan sebuah misteri yang tak terpahami: petani tembakau akan menderita kerugian, tapi toh pertanian tembakau tetap mesti dijalankan. Berkatalah seorang ayah kepada anaknya: anakku, kapan engkau akan paham?/ bahwa selaksa mimpi yang kita rangkai/ tersimpan pada lembaran daunnya yang menjuntai. 

Saya kutip puisi Ahmad Subki, penyair asal Bangkalan, itu selengkapnya (dimuat dalam buku ini):

FRAGMEN HUJAN DALAM SEBUAH LUKISAN
: kepada para petani tembakau di Madura

kenapa tak kaugoreskan saja kemarau
dalam lukisanmu, anakku?
agar tembakau yang kita tanam
sempurna memaknai hijau

sejenak ingin kukemas hujan dari lukisanmu
sebab tak kuasa kurahasiakan derai airmata
kalau senyum yang tertampung di ujung setiap daun
harus sirna dirampas deras tetesannya

anakku, kapan engkau akan paham?
bahwa selaksa mimpi yang kita rangkai
tersimpan pada lembaran daunnya yang menjuntai

Pare, 2011.

Sementara itu, hubungan penyair Madura dengan khazanah pesantren merupakan satu dinamika sendiri. Telah dikemukakan bahwa penyair Madura pada mulanya hampir sepenuhnya berorientasi pada puisi Indonesia modern. Meskipun berlatar pendidikan pesantren, hampir sepenuhnya pula mereka tidak berorientasi pada khazanah pesantren, termasuk puisi Arab yang secara tradisional hidup di pesantren. Telah dikatakan pula bahwa ilmu balâghah pada mulanya tidak memberikan kontribusi langsung pada pertumbuhan sastra Indonesia di pesantren, bahkan keduanya teralienasi satu sama lain. Namun dalam perkembangan belakangan ini, tak syak lagi penyair Madura mulai mengarahkan orientasi kepenyairan mereka pada pesantren sebagai khazanah yang dapat digali untuk puisi, baik dari segi bentuk maupun tema.

Di atas telah dikutip puisi Faidi Rizal Alif yang mencoba mengadopsi bentuk puisi tradisional Arab untuk puisinya, dengan menjaga metrum (bahr/`arûdh) dan rima akhir (qâfiyah) secara ketat dan teratur. Hal serupa dilakukan oleh Sofyan RH Zaid, penyair yang puisinya dimuat dalam buku ini. Secara sadar Sofyan juga mengadopsi bentuk puisi tradisional Arab yang hidup di pesantren, yang dikenal dengan syi’ir dan nadham. Hanya saja, dia mengadopsinya secara agak longgar, terutama menyangkut metrum. Dia hanya mengadopsi larik yang terdiri dari dua bagian, dan menjaga rima akhir (qâfiyah) di setiap bagian akhir pada setiap larik puisinya. Berbeda pula dengan puisi tradisional Arab, dia memberi tanda pagar (#) di antara bagian pertama dan bagian kedua setiap larik puisinya. Tanda pagar (#) seperti itu biasa digunakan santri dalam menyalin syi’ir atau nadham. Bagaimanapun, dengan mengadopsi syi’ir dan nadham secara terbatas itu Sofyan mengaitkan puisi Indonesia dengan ilmubalâghah sebagai tradisi keilmuan pesantren.

Kiranya perlu dijelaskan sedikit tentang syi’ir dan nadham dalam tradisi pesantrenSebagai bentuk puisi tradisional Arab, syi’ir dan nadham sebenarnya sama, dan seringkali memang digunakan sebagai sinonem. Namun pada umumnya keduanya dibedakan berdasarkan isi atau temanya. Syi’ir berisi nasihat, renungan keagamaan, doa, ajaran moral, dan sejenisnya, seperti syi’ir Abu Nuwas dan syi’ir Imam Syafi’i. Sedangkannadham berisi ilmu-ilmu Islam yang ditulis dalam bentuk puisi tradisional Arab (syi’ir)seperti ilmu nahwu dan ilmu aqidahDi pesantren, baik syi’ir maupun nadham biasanya dinyanyikan. Dari kata nadham inilah di pesantren baik di Madura, Jawa, maupun Sunda dikenal istilah nadom atau nadoman, yang secara umum berarti puisi Arab yang biasanya dinyanyikan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.