Asal-Usul Desa Lombang

Rama Kaè, Ramalan Musim, Dan Kematian Yang Tak Bisa Dihentikan
Gambar: Tamar Saraseh

ilustrasi: Tamar Saraseh

Namun, usaha yang begitu keras dan menghabiskan banyak tenaga tak juga membuahkan hasil. Dalam dzikirnya dia merenung. Adakah yang salah dengannya sehingga semua kata-katanya tak ada yang menghiraukan bahkan santrinya sekalipun. Pintu-pintu pertaubatan sepertinya sudah tertutup rapat dan terkunci sedemikian rupa. Seketika tangis itu pecah dan membasahi kedua pipinya. Dalam hening dia memohon kepada Allah ketabahan dan petunjukNya.

“Bagaimana pun mereka adalah makhluk Allah yang kebetulan saat ini masih tersesat di jalan gelap-gulita. Semoga kelak, mereka sadar dan kembali ke jalanNya.” Dia membatin di antara desir udara dingin di penghujung malam yang basah.

Setelah sekian lama upayanya tak membuahkan hasil, Kiai Mahfud masih saja menyabarkan diri untuk terus berdakwah dengan telaten sambil menyesuaikan dengan kebiasaan masyarakat sekitar. Dia juga berusaha menggaet anak-anak untuk diajari ilmu agama dengan harapan bisa memutus rantai maksiat yang sudah meraja-lela di kota itu. Hanya beberapa orang saja yang mengizinkan anaknya mengaji. Selebihnya, mereka lebih suka mengajak anaknya membantu mencari rezeki, menungui rumah atau disuruh menemani dalam bermain judi.

Kiai Mahfud termenung dalam sambil berdzikir semakin kencang. Kembali air matanya jatuh membasahi pipi dan surbannya. Dihitungnya sebuah langkah. Dipertimbangkannya sebuah keputusan. Diulang berkali-kali dan dihela napasnya dalam-dalam.

Dalam suasana bimbang dan dilema itulah, kemudian terucap dari bibirnya yang rekah dan lisannya yang begitu fasih sebuah sumpah dan doa yang menggetarkan seluruh jagat raya. Hatinya sungguh perih, namun tak punya banyak pilihan. Jalan itulah yang harus dia tempuh, meski harus memakan korban. Paling tidak, bisa memutus sebuah generasi yang sudah terlanjur hancur. Dia memohon sebuah penyakit segera diturunkan. Penyakit yang sulit disembuhkan dan mampu membunuh penderitanya dalam waktu singkat. Dia meminta penyakit ta’un. Dia berdoa sungguh-sunguh dengan penuh khusuk. Dan doa itu terkabulkan tanpa menunggu waktu lama.

Puluhan masyarakat di kota pesisir itu menderita sakit perut yang sangat parah dan sulit diobati sedang mencari dukun atau tabib juga tak memungkinkan. Penyakit itu menyerang siapa saja dan kapan saja. Saat mereka sedang istirahat, sedang bekerja, sedang bercengkerama dengan keluarga, bahkan sedang berjudi dan berzina. Dalam sekejap, jumlah orang meninggal membeludak tak terkendali. Masyarakat menjadi sibuk dan kebingungan. Belum selesai mengurus satu jenazah, sudah terdengar kembali berita duka. Begitulah setiap hari mereka hanya disibukkan mengurus jenazah yang terus berjatuhan dan semakin meledak jumlahnya.

Pada puncak kesibukan dan kebingunan dalam mengurus jenazah-jenazah itulah kemudian terbersit sebuah usul untuk menggali lobãng besar untuk para jenazah sehingga mereka bisa menghemat tenaga yang sudah dipastika esok harinya akan ada lagi jenazah-jenazah dengan jumlah yang lebih banyak lagi.

Kiai Mahfud yang masih tinggal di kota pesisir itu, terkena imbasnya. Dia juga menderita penyakit yang sama hingga meninggal dunia dan dimakamkan di sana. Dari peristiwa lobang besar itulah kota pesisir itu kemudian diberi nama. Namun, kemudian hari anak cucu mereka yang masih tersisa menyebutnya dengan kata Lombang.

 

 

Responses (2)

  1. ijin mengambil sedikit informasi dari website saudara sebagai kebutuhan pembuatan buku terkait sejarah Desa Lombang sendiri

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.