▲ Menuju 🏛 HomeLegenda MaduraKehamilan Potré Konéng

Kehamilan Potré Konéng

Cerita tentang kehamilan anak gadis tanpa nikah yang kena dapat dilihat pada kisah Potré Koning, Dikisahkan bahwa dahulu kaks, hidupkuh seorang raja yang bernama Prabu Saccadiningrat, la menguasai sebush wilayah di bagian timur pubu Madura yang bernama Sumenep, Raja ini memiliki dikaruniai seorang Putri bernama Dewi Saini yang keih dikenal sebagai Raden Ayu Potré Keng karena kecantikannya yang luar biasa dan berkufinya yang halus dan berwarna kuning,

Sejak kecil, Potré Konéng rajin beribadah pada Yang Maha Kuasa Setelah dewasa, orang tuanya meminta putrinya yang cantik ita untuk menikah. Namun sayangnya, permintaan itu ditibik okch Sang Putri. Ia menolik karena ia ingin berbakti pada Tuhan terlebih dahulu jika la merasa Tuhan mengijinkannya menikah, maka Potré yang pasti akan mendapat petunjuk untuk melakukan hal ini,

Suatu ketika, Potré Koneng berpamitan pada kedua orang tanya untuk bertapa di sebuah gua di gunung Pajucklan, Kedua orang luanya mengijinkas Potré Konéng bertapa meskipun hati mereka bersedih karena akan ditinggalkan untuk beberapa oleh puteri kesayangan mereka tersebut

Dengan diiringi beberapa pengawal dan Abdidalam, Potré Koning berangkat ke gunung Pajuddan. Hari demi hari ia kwati dengan tenang dalam pertapaannya. Pada hari ke tujuh tepatnya tinggel empatbelas, Potre Koneng bermimpi.

Dalam mimpinya ia berjumpa dengan seorang laki-liki pertapa tampan yang bernama Adipoday. Melihat Potré Koneng yang dijumpainya dalam mimpi begitu mempesona, Adipoday langsung jatuh cinta. Melihat Adipoday yang begitu istimewa dalam mimpi. Potre Konéngpun merasakan ketertarikan yang sama. Dalam alim gaib pertapaan, mereka melakukan hubungan perkawinan dalam mimpi.

Potré Konéngpun terbangun dari mimpinya. la bertanya-tanya kira-kira siapakah laki-laki yang bernama Adipoday itu gerangan. Akibat dari mungkin dapat diteruskan lagi karena ia jodohnya akan segera ta lantas memutuskan kendi

Atas pemeriksaan tabib istana, diketahuilah babes Vog Koneng berbadan dus. dengan kisah pertama. Pota hukuman yang tak pernah abayangkan sebes Meskipun dari hudoman mati karena dalam bers yang meringankan hukumannya, namun apa yang diterima ayahnya, membuat hidupnya berubah selamanya (Kis arkengleapnya dapat bulau yang ditulis Iqbal Nun dengan judul Mortéks dari Madhura Antologi Cerits Madura Edii Kabupaten Bangkalan. Sidoarjo Kementenas Pendidikan dan Kebudayaan, Pengembangan Pembi Bahasa, Bahasa Jawa Timur).

Hukuman Berat yang Dipilih daripada Menanggung Malu

Seorang gadis yang belum menikah telah hamil merupakan satu aib yang tak dapat ditoleransi dalam kacamata masyarakat Madura. Ini ditunjukkan melalui sikap masyarakat legenda menyikapi tersebut.

Dalam konteks Bendoro Gung, setelah mendengar benar-benar menunjukkan kehamilan, dengan penuh kemurkaan, Sang Raja memanggil Patih Pranggulang untuk membawa Putri ke tengah hutan untuk menghilangkan nyawanya. Tindakan ini diambil Sang Raja sebagai hukuman perbuatan Putri yang dianggap telah mencoreng nama baik Raja beserta kerajaannya.

Sikap yang ditunjukkan menjumpai Potré Konéng hamil, dikisahkan bahwa setelah mengetahui bahwa anaknya hamil tanpa nikah, Rajapun marah besar hendak menghukum mati Potré Konéng karena kehamilan Potré tanpa suami, adalah yang memalukan. Untungnya, pengawal istana dan Abdidalam yang mengiringi Potré Konéng memberikan kesaksian yang membuat Pottré Konéng terhindar dari hukum pati.

Mereka menceritakan bahwa sejak pertama kali masuk gua, Potré Konéng tidak pernah keluar dari gua. Mendengar kesaksian ini, Raja merasa lega bahkan merasa kasihan kepada Potré Konéng. la pun meminta Putrinya itu diasingkan agar tidak terlihat oleh orang banyak jika sedang hamil

Dari kisah-kisah seputar hamil di luar nikah di atas, kita dapat melihat kearifan lokal masyarakat Madura dalam menyikapi masalah ini. Hamil di luar nikah adalah aib yang tidak dapat ditoleransi. Sanksi tegas akan menungu pelaku aib ini.

Di jaman sekarang, hamil sebelum nikah masih tetap dianggap aib di Madura. Bukti-bukti bahwa ini adalah aib masih bisa dirasakan hinggga sekarang. Di surat kabar baik elektronik maupun cetak, jarang kita membaca berita tentang aduan keluarga kepada kepolisian yang tentang anak gadisnya yang dihamili orang.

Jikapun ada, maka aduan kehamilan ini bukan disebabkan karena suka-sama suka, namun lebih kepada kehamilan karena kekerasan atau perkosaan (bisa dilihat di http://www.kabarjatim.com, edisi 4 Februari 2017 tentang gadis hamil yang karena diperkosa di hutan, berita di http://news.detik.com edisi Jumat 05 Desember 2008 tentang siswi MTS di Sumenep yang diperkosa hingga hamil 4 bulan, atau di http://madurasatu.com edisi 13 Maret 2017 tentang berita anak gadis yang diperkosa 13 Kali, lalu kemudian hamil dan dicekoki obat aborsi). Ini mungkin disebabkan karena kehamilan anak gadis dengan pemuda lain yang disukainya adalah hal yang harus ditutupi dan diselesaikan secara diam-diam. Jika sampai bocor, maka nama baik keluarga adalah taruhannya.

Keluarga yang mengalami masalah ini akan merasa malu yang luar biasa disebabkan karena perbuatan anak gadisnya. Untuk mengatasi masalah ini, beberapa tindakan biasanya dilakukan oleh keluarga Madura. Meskipun tidak seekstrim tindakan Sang Hyang Tunggal yang menghukum anak gadisnya dengan hukuman mati, keluarga Madura tetap memberikan sanksi. Sanksinyapun bervariasi menyesuaikan diri dengan hasil kesepakatan keluarga, atau keluarga perempuan dengan keluarga laki-laki. Beberapa keluarga kadang dijumpai menikahkan anaknya secara diam-diam ketika diketahui anaknya hamil pranikah dengan orang yang disukainya, atau bahkan dengan tunangannya, Pernikahan diam diam ini biasanya ada setelah kedua belah pihak mencapai kesepakatan

Beberapa lainnya diketahui memindahkan anak gadisnya ke keluarga lain yang tinggal jauh dari keluarganya agar berita kehamilan itu tidak tersebar dan agar anak yang dikandungnya dapat dengan mudah diatur kelak. Beberapa yang keras, bahkan menjatuhkan sanksi pengusiran dari rumah meskipun ini bersifat kasuistik. Beberapa kasus kehamilah ini berujung pada penganiayaan oleh pihak anak perempuan pada penghamilnya, meskipun jumlahnya tidak banyak.

Disalin dari buku; Oreng Madhura, Keyakinan, Prinsip Hidup, dan Potensi Tersembunyinya, Penulis: Iqbal Nurul Ashar, Penerbit: LkiS, Cetakan 1: 2017, halaman 57-60

Tulisan bersambung:

1. Orang Madura dan Kehormatan Anak Gadisnya
2. Kehamilan Potré Konéng
3. Penguatan Karakter Menjunjung Tinggi Harga Diri

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.