Peperangan Periode Koloneal di Tanah Sumenep

Warga Belanda saat di Kalianget

Pada masa-masa sebelum kedatangan kolonial ke tanah Sumenep, sulit ditemukan sumber yang menyatakan bahwa ada suatu peperangan antara Kerajaan Sumenep dengan kerajaan di luar Sumenep. Yang tercatat secara jelas adalah gambaran mengenai perlawanan Aria Wiraraja kepada Singasari, yang pada saat itu dipimpin oleh Prabu Kertangera, yang akhirnya membantu berdirinya kerajaan Majapahit.

Perlawanan itu berawal dari rasa balas dendam Jayakatwang karena kerajaan kakek moyangnya, Prabu Kertajaya, di Kediri diporakporandakan oleh kakek moyang Kertanegara. Melihat rasa balas dendam itu, Aria Wiraraja yang pada saat itu dijauhkan oleh Prabu Kertanegara ke Sumenep dari pusat Kerajaan Singasari menulis surat agar Jayakatwang membuat perhitungan dengan Prabu Kertanegara. Surat itu berisikan:

“Patik memberitahukan ke hadapan Sang Prabu Paduka-Nata yang sedang berburu, hendaklah waspada memilih saat dan waktu yang setepat-tepatnya. Pergunakanlah saat yang paling baik dan tepat. Tegal sedang tandus, tidak ada rumput, tidak ada alang-alang, daun-daun segar sedang gugur berhamburan di tanah. Bukitnya kecil-kecil jurangnya tidak berbahaya, hanya didiami harimau yang sama sekali tidak menakutkan. Tidak ada kerbau, sapi, dan rusa yang bertanduk. Jika sedang menyenggut, baiklah mereka itu diburu, pasti tidak berdaya. Satu-satunya harimau yang tinggal adalah harimau guguh. Sudah tua renta, yakni Mpu Raganata”. (tertulis dalam kidung Panji Wijayakrama).[11]

Jayakatwang pun menghimpun kekuatan dan strategi untuk menaklukan Prabu Kertanegara. Peperangan pun terjadi, hingga akhirnya Prabu Kertanegara tewas dan Jayakatwang menguasai wilayah yang dikuasai oleh Jayakatwang. Pada saat terdesak itu, menantu Prabu Kertanegara, Raden Wijaya pergi ke Sumenep menemui Aria Wiraraja. Aria Wiraraja memang sudah dikenal sebagai ahli strategi perang yang baik. Di Sumenep terjadilah suatu persengkokolan untuk bersama menjatuhi Jayakatwang. Mereka sepakat akan membagi dua kekuasannya bila berhasil menaklukan Jayakatwang. Di sinilah Aria Wiraraja mengerahkan orang-orang Madura untuk turut ikut berperang melawan Jayakatwang.

Akan tetapi, sebelum perlawanan itu dimulai, Aria Wiraraja menyarankan agar Raden Wijaya berpura-pura meminta maaf kepada Jayakatwang dan mengabdi kepada kerajaannya. Sampai suatu waktu Jayakatwang mempercayai Raden Wijaya, Aria Wiraraja menyuruh Raden Wijaya untuk meminta tanah hutan di desa Tarik agar nantinya dibabat oleh orang-orang Madura dan dijadikan suatu wilayah tinggal. Daerah Tarik pun menjadi semakin ramai oleh penduduk, sehingga Raden Wijaya mengambil banyak hati masyarakatnya. Hal ini dilaporkan kepada Aria Wiraraja di Sumenep.

Aria Wiraraja kembali menyarankan agar menyerang Jayakatwang saat kedatangan tentara Khu Bilai Khan, karena suatu saat Jayakatwang pernah menolak dan mempermalukan utusan Khu Bilai Khan atas permintaan kekuasaan Jayakatwang tunduk kepada kekuasaan Khu Bilai Khan. Dalam menyiapkan peperangan Raden Wijaya membagi pasukan sesuai arah mata angin. Untuk Aria Wiraraja dan pasukannya disiapkan menyerang melalui utara. Sedangkan Raden Wijaya dari arah sebaliknya. Saat persiapan matang, tentara Khu Bilai Khan datang menyerang Jayakatwang, di sinilah Aria Wiraraja juga memainkan perang dalam menghasut sebagian tentara Khu Bilai Khan. Maka, terjadi pertarungan sengit antara Jayakatwang dengan pasukan Cina dan pasukan Raden Wijaya dan Aria Wiraraja. Jayakatwang pun terdesak dan akhirnya terbunuh.

Pada saat yang hampir bersamaan, pasukan Raden Wijaya dan Aria Wiraraja menyerbu pasukan Cina yang sedang asik berpesta merayakan kemenangannya. Setelah perang usai Raden Wijaya menjadi raja Majapahit. Dengan demikian, Aria Wiraraja dan pasukannya memainkan peran yang sangat penting atas berdirinya Majapahit, sehingga dalam sastra Jawa nama Aria Wiraraja selalu muncul dalam proses pembentukan Majapahit. Aria Wiraraja pun mendapatkan kekuasaan yang lebih luas, yaitu Blambangan dan Lumajang. Kekuasaan di Sumenep diserahkan kepada adiknya, Aria Bangah.

Setelah Aria Wiraraja tidak ada lagi sumber yang menceritakan suatu perang besar yang melibatkan orang-orang Sumenep sebagai aktor utamanya. Meskipun begitu di dalam kisah Majapahit ada beberapa perang yang cukup besar, seperti perang Bubat dan perang Paregreg yang merupakan perang antara wilayah Barat dan Timur. Meskipun tidak secara jelas apakah orang-orang Sumenep dilibatkan dalam kedua perang tersebut, tapi sebagai pasukan yang sukses membantu pendirian Majapahit, tentu pasukan di Sumenep dapat diperhitungkan, apalagi mengingat orang-orang Sumenep dan Madura pada umumnya merupakan tenaga ahli dalam pasukan perang, begitu pula sampai hadirnya kolonial ke kepulauan Nusantara. Yang jelas, hubungan Sumenep dan Majapahit terjalin dengan baik.

________________

11 Sahwanoedin Djojoprajitno, Kangean Dari Zaman Wilwatikta Sampai Republik Indonesia 1350-1950, Pamekasan: Buletin KNM, hal.  6.
12 Iskandar Zulkarnain, Op.Cit., hal. 44.

Tulisan bersambung:

  1. Masa Kejayaan Kerajaan Sumenep Pra Islam
  2. Raja-raja Sumenep yang Berkuasa Masa Pra Islam
  3. Peperangan Periode Koloneal di Tanah Sumenep
  4. Kerajaan Sumenep Masa Periode Islam
  5. Masa Keemasan Zaman Sultan Abdurrahman
  6. Pengaruh Islam dalam Sistem Birokrasi Pemerintahan Sumenep
  7. Hubungan Kerajaan Sumenep dengan Belanda
  8. Pengawasan VOC Tidak Seketat Madura Barat
  9. Konflik yang Mengakibatkan Keruntuhan Kerajaan Sumenep

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.