Kerajaan Sumenep Masa Periode Islam

Masuknya Islam dalam Keluarga Kerajaan

Sejauh menyangkut kedatangan Islam di Nusantara, terdapat diskusi dan perdebatan panjang di antara para ahli mengenai tiga masalah pokok: tempat asal kedatangan Islam, para pembawanya, dan waktu kedatangannya. Banyak pengamat sejarah berpendapat bahwa migrasi muslim dalam jumlah besar, termasuk ke Nusantara, terjadi di antara periode abad ke-10 dan akhir abad ke-13. Hal itu disebabkan oleh dinamika politik yang terjadi di wilayah dunia muslim, seperti Baghdad dan Persia, pada saat itu. Namun, bukan berarti sebelum kedua periode tersebut belum terjadi kontak antara penduduk pribumi Nusantara dengan muslim pendatang. Arnold, Coromandel, dan Malabar yang banyak berbicara mengenai kedatangan Islam di Indonesia berasumsi bahwa sejak abad ke-7 dan ke-8 sudah terjadi interaksi antara penduduk pribumi Nusantara dan para pedagang muslim. Pendapat ini disandarkan pada sumber-sumber Cina yang menyatakan bahwa seorang Arab menjadi pemimpin sebuah pemukiman Arab Muslim di pesisir pantai Sumatera.

Orang-orang Arab itu dilaporkan melakukan perkawinan dengan wanita lokal, sehingga membentuk nucleus sebuah komunitas muslim yang terdiri dari orang-orang Arab pendatang dan penduduk lokal. Dalam kaitan ini, kitab Ajaib al-Hind salah satu sumber Timur Tengah berbahasa Persia yang paling awal mengisahkan tentang Nusantara mengisyaratkan tentang eksistensi komunitas muslim lokal di wilayah kerajaan Hindu-Budha Zabaj (Sriwijaya). Sayang teks ini tidak memberi informasi tentang apakah penduduk asli di wilayah itu diislamkan oleh para pedagang Arab tersebut. Yang jelas, kebiasaan duduk bersila ketika menghadap raja di daerah Zabaj pada masa itu dihapuskan karena mendapat protes dari pedagang Oman bahwa tradisi itu tidak sesuai dengan ajaran Islam.[13]Agar tidak terjadi anakronistis, beberapa pendapat ini penting dikemukakan di awal dalam menelusuri masuknya Islam di Sumenep.

Kondisi geografis pulau Madura kiranya menjadi faktor pendukung yang mendorong masuknya Islam di wilayah Sumenep. Pulau yang memiliki panjang kurang lebih 160 km ini dikelilingi oleh laut. Laut sejatinya memiliki aksesbilitas yang sangat luas, sehingga dapat mengundang banyak orang dari berbagai wilayah untuk datang. Mengenai masuknya Islam di Sumenep, laut sejatinya memiliki andil yang cukup penting sebagai jalan dan gerbang awal agama ini masuk ke wilayah Sumenep. Meski belum ada bukti kuat mengenai hal ini, banyak ahli yang menyatakan bahwa pulau Sepudi dan pelabuhan Kalianget memiliki peranan yang cukup penting dalam mendorong masuknya Islam di Sumenep.

Bila meninjau catatan perjalan Suma Oriental karya Tome Pires yang ditulis pada abad ke-16, Sumenep memang sama sekali tidak diberitakan. Karya yang menjadi laporan Tome Pires kepada Raja Emanuel di Portugis untuk memberikan peluang ekonomi di wilayah baru itu boleh dikatakan menjadi bukti bahwa wilayah Sumenep sama sekali tidak menjadi sorotan penting bagi perdagangan internasional. Sebaliknya, bila merujuk pada legenda Jawa dan Jawa-Madura, keberadaan Sumenep dapat dikatakan cukup penting.

Masuknya Islam di Madura tidak bisa dilepaskan dari penyebaran Islam di pulau Jawa, khususnya di Jawa Timur, seperti Gresik dan Surabaya.[13] Para alim ulama —bisa disebut juga sebagai wali—, selain menyebar ke wilayah-wilayah di pulau Jawa, juga menyebarkan Islam ke pulau Madura. Dengan perlahan kiranya pengaruh agama Islam menjadi sangat kuat di Madura, termasuk pula di Sumenep. Bahkan belakangan ini, pada tahun 2006, dinyatakan secara bersama bahwa Madura adalah Serambi Madinah. Kesepakatan bersama itu menjadi bukti kuat bahwa Islam telah mengental dalam kehidupan masyarakat di Madura. Hal itu tentu banyak dipengaruhi oleh sejarah Madura yang cukup panjang dan sangat erat dengan Islam, termasuk hal yang bersinggungan dengan kerajaan.

Saat mengunjungi Jawa, dalam buku Suma Oriental, Tome Pires menyatakan bahwa salah satu faktor menguatnya Islam di pulau Jawa disebabkan dengan banyaknya bangsawan dan penguasa yang masuk Islam, kemudian mereka memberikan pengaruh Islam kepada masyarakatnya. Lalu yang menjadi pertanyaan, apakah hal seperti itu juga terjadi di Sumenep? Bila ditinjau dari mata rantai para raja Sumenep, memang terjadi islamisasi di dalam kerajaan, namun mengenai pengaruh Islam yang disebarkan oleh raja kepada masyarakatnya masih tampak samar. Yang jelas, Islam memberikan corak yang cukup berpengaruh kepada raja-raja yang pernah berkuasa di Sumenep, mulai dari nama yang digunakan, huruf Arab yang digunakan dalam menulis surat, arsitektur keraton, makam para raja, sampai bukti bangunan khas Islam, seperti masjid.

Agak sulit memang melacak mengapa pengaruh Islam dapat masuk ke dalam kalangan istana di Sumenep. Apalagi secara periode, bila dikatakan bahwa Islam telah masuk ke dalam kerajaan pada abad ke-14, Sumenep masih berada dalam kekuasaan kerajaan Majapahit yang secara agama bukan bercorak Islam, namun Hindu-Budha. Disebutkan dalam Kakawin Nagara Krtagama bahwa Madura merupakan salah satu daerah kekuasaannya:

Kunang tekang nusa madhura tahani lwing para puri, ri denyan tunggal mwang yawa dharani rakwekana dangu, samudra nanggung bhumi keta saka karengo, teweknya -/- ndadyapantara sasiki tatwanya tanadoh”. [14]

_________________________

13 Azyumardi Azra, Jaringan Ulama Timur Tengah dan Kepulauan Nusantara Abad XVII dan XVIII Akar Pembaruan Islam Indonesia, Jakarta: Kencana Prenada Media Group, 2004, hal. 19.
14 Dwi Laily Sukmawati, “Inventarisasi Naskah Lama Madura”, dalam Jurnal Manassa Manuskripta, Vol. 1, No. 2, 2011, Depok: Universitas Indonesia, hal. 18.

Tulisan bersambung:

  1. Masa Kejayaan Kerajaan Sumenep Pra Islam
  2. Raja-raja Sumenep yang Berkuasa Masa Pra Islam
  3. Peperangan Periode Koloneal di Tanah Sumenep
  4. Kerajaan Sumenep Masa Periode Islam
  5. Masa Keemasan Zaman Sultan Abdurrahman
  6. Pengaruh Islam dalam Sistem Birokrasi Pemerintahan Sumenep
  7. Hubungan Kerajaan Sumenep dengan Belanda
  8. Pengawasan VOC Tidak Seketat Madura Barat
  9. Konflik yang Mengakibatkan Keruntuhan Kerajaan Sumenep

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.