Odheng Sebagai Implementasi Pengembangan Wisata Madura

Oleh: Fadhilatul Azhar

odheng_madura Upaya pengembangan pariwisata di suatu daerah, tidak selamanya bergantung pada potensi alamnya. Beberapa daerah seperti Bali, Jogja, Solo, dan Purwakarta misalnya, justru mendorong aspek budaya sebagai variasi destinasi wisatanya. Hal tersebut sejatinya bisa ditiru oleh Kabupaten Pamekasan, yang saat ini sedikit terlihat upaya pengembangan pariwisata berbasis budaya di daerahnya. Analisis maupun kajian mendalam terkait beberapa budaya lokal Madura yang berpotensi diangkat menjadi sebuah pariwisata berbasis budaya di Pamekasan, sangat perlu untuk segera diwujudkan.

Penelitian ini menawarkan sebuah gagasan, yakni odheng (Odheng) sebagai salah satu pakaian adat Madura yang berpotensi untuk dikembangkan menjadi pariwisata berbasis budaya di Pamekasan. Selama ini, pemakaian odheng Madura hanya digunakan dalam beberapa kegiatan tertentu saja. Padahal, jika pemakaian odheng dilakukan secara intensif, maka secara tidak langsung terdapat ikhtiar penyadaran budaya Madura terhadap masyarakat luas.  Sebagai sebuah produk budaya, odheng syarat nilai dan moral, serta berfungsi sebagai sarana ilmu dalam menggeser stereotip masyarakat Madura yang umumnya dipandang keras, garang, dan suka carok.

Tulisan ini bersifat kualitatif deskriptif, dengan sumber data berupa observasi dan wawancara bebas terarah, serta studi literatur untuk memahami beberapa konsep dan terminologi yang dipergunakan. Tulisan ini berupaya menghasilkan output yang bersifat terapan. Konkretnya, pemakaian odheng harusnya mampu diprakarsai oleh masyarakat Pamekasan, dan bisa dikenal sebagai cikal-bakal penggerak dari pemakaian odheng di Madura. Gagasan dalam tulisan ini patut untuk diuji dan dianalisis terkait relevansinya sebagai potensi budaya. Oleh karena itu, tulisan ini disusun akan berisikan gagasan serta untuk melahirkan gagasan dan langkah implemetasinya.

****

Salah satu aspek yang cukup berdampak besar untuk pemasukan daerah selain pendapatan pajak daerah, yakni pariwisata. Di sisi lain, dikenal atau tidaknya sebuah daerah secara nasional, atau bahkan internasional, juga ditentukan oleh pariwisata. Sebagai ajang untuk melepas penat dari rutinitas kerja, pariwisata populer dipilih hampir di semua kalangan masyarakat dunia, termasuk di Indonesia. Beberapa daerah di setiap provinsi, berlomba-lomba memperkenalkan kekayaan lokal daerahnya untuk menarik perhatian para penikmat wisata agar mengunjungi daerahnya. Harapannya nyaris sama, ekonomi daerah dapat meningkat secara signifikan dari kunjungan wisata tersebut, dan secara tidak langsung turut mempromosikan daerahnya untuk lebih dikenal secara umum.

Begitupun dengan Madura, semenjak dibukanya jalur tol Suramadu, efisiensi mobilitas masyarakat Indonesia untuk berkunjung ke pulau ini, setidaknya sudah dimudahkan. Keadaan tersebut langsung di respon oleh sejumlah masyarakat Madura. Terlihat dari arah keluar tol Suramadu menuju Bangkalan, akan banyak dijumpai sejumlah pedagang yang menjual berbagai aneka jajanan, minuman hingga buah tangan khas Madura. Adanya Suramadu, juga menjadi angin segar bagi empat kabupaten di Madura, Bangkalan, Sampang, Pamekasan dan Sumenep untuk lebih memperkenalkan potensi di daerahnya masing-masing. Orientasinya, pengembangan pariwisata.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.