Metamorfosa Budaya Melacak Akar Tradisi

 Oleh :  Zaiturrahiem, RB

Seiring dengan perubahan dan perkembangan zaman, nilai budaya sehagai pijakan dalam membangum dan memelihara tradisi semakin teng gelam. Hal itu wajar.mengingat, meminjam istilah Antonio Gidden tradisi dan akar vvacana di persa da ini akan mati. Akan hancur pada babakan yang dirasa sudah tidak konsis serta relevan terhadap perjalanan sebuah kebudayaan.

Membincang tradisi, ada pcrasaan miris di hati penulis. Saat pulang ke kampung halaman. Desa Kaduara Timur, Pragaan, Sumunep, Jawa Timur

Dulu waktu penulis masih kecil, setiap menje lang sore, di tiap sudut desa pada halaman rumah-rumah penduduk desa dinyalakan sumbu untuk mengingatkan leluhur bahwa generasinya masih selalu mengingat. Istilah yang sering dipake. Ngob ber kampowan. Sebentuk dzikir dalam makna yang lebih elastis. Bukankah Tuhan maha mengetahui apa yang diniatkan oleh hamba-hambaNya?

Terlepas dari pradigma teologis, aktifitas se macam ini sangat bombas mengingat ada nilai budaya yang lahir dengan makna sakral. Menya lakan sumbu dengan polasan wajah demikian syahdu. Kata orang tua dulu, semua itu dilakukan bukan hanya untuk mengingatkan arwah lefuhur, namun berguna mengusir setan roh halus yang hendak mengganggu pekarangan rumah. Anda boleh percaya atau tidak, namun yang jelas penu lis hanya ingin menyampaikan suatu pesan kebu dayaan yang pernah terlahir dari pendahulu kita.

Sekian hari penulis bertanya, akan tenggelam hudaya itu. Bahkan suatu ketika penulis keliling kampung hanya untuk mencari tahu. kenapa tradisi itu harus dihilangkan? Jawaban yang sangat simple, lantaran keadaan sudah terlalu modern. Imposible!

Secara apresiatif, penulis tidak menafikan bahwa imbas dari modernisasi adalah menggilas tapak tradisonalis-mistis. Logika modernitas adalah logi ka evolusi dan kemajuaan disemua lini. Sehingga lahirlah pradigma generasi modern, siapa yang cepat itu yang dapat. Tinggalkan sesuatu yang ritualis, bergeserlali pada pradigma yang lebih progressif. (Ujung-ujungnya, kebanyakan orang menganggap apa yang dilakukan oleh orang tua dulu adalah sebuah pekerjaan yang membuang waktu.

Benarkah?

<

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.