
Raja sangat murka melihat enam prajurit tiba di istana dengan badan berlumur darah. Raja merasa dirinya dilecehkan karena enam prajurit pilih tanding yang sakti-sakti itu lumpuh begitu saja. Raja memerintah Sang Pati dan beberapa prajurit berpanah untuk datang ke rumah Sunima. Kala itu raja tidak memerintah untuk menarik Landaur bekerja di istana, tapi memerintah menculik Sunima untuk dimasukkan ke penjara. “Hanya dengan cara itu Landaur akan bisa tersakiti,” kata raja kepada prajurit.
Sang Pati dan puluhan prajurit berpanah akhirnya berangkat menuju rumah Sunima pada malam hari. Mereka berhasil menculik Sunima pada dini hari karena kebetulan Landaur sedang tidak ada di rumah. Sesuai perintah raja, Sunima dijebloskan ke dalam penjara. Landaur baru mendengar kabar itu dua hari kemudian setelah dia pulang dari berkelana. Batin Landaur sangat pedih ketika mendengar kabar ibunya telah diculik pihak istana pada dini hari. “Ini pasti siasat licik agar aku datang ke istana,” gumam Landaur sambil menatap celurit ayahnya yang tergantung di sisi jendela.
Keesokan harinya Landaur memutuskan untuk pergi bersemedi sebelum pada suatu saat nanti datang ke istana untuk membebaskan kedua orang tuanya sekaligus untuk membebaskan mata rantai penderitaan rakyat. Dia menyelipkan celurit pada sabuknya kemudian pergi menuju Asta Guranggaring untuk bersemedi. Asta Guranggaring adalah tempat guru Landaur yaitu Kiai Mahfuz dimakamkan.
Asta Guranggaring terletak di sebelah timur Pantai Lombang Sumenep. Di sanalah Landaur bersemedi untuk mendekatkan diri kepada Sang Pencipta, memohon agar diberi jalan terbaik untuk menyelesaikan masalah yang sedang di hadapi. Konon kabarnya Landaur duduk bersila di atas batu hitam menghadap ke arah kiblat. Landaur bersemedi selama empat tahun empat bulan empat hari. Selama bersemedi Landaur hanya makan sebiji buah siwalan setiap bulan sekali. Buah siwalan itu diantarkan burung merpati yang memang bertugas menjaga Asta.
Setelah purna empat tahun empat bulan empat hari, tepat pada dini hari malam terakhir Landaur bersemedi, seberkas cahaya datang merasuki tubuhnya. Landaur hanya merasakan tubuhnya sangat ringan dan hangat. Cahaya itu sesap begitu saja ke dalam tubuhnya tanpa memberi apa-apa, bahkan celurit Landaur yang dibawa tiba-tiba hilang entah ke mana. Seusai shalat Subuh Landaur tertidur sejenak, saat bangun pada pagi hari dia terkejut melihat postur tubuhnya yang tiba-tiba besar dan tinggi mirip manusia raksasa yang sering dia dengar dari cerita ibunya. Batu hitam yang dia duduki saat bersemedi sudah hancur karena tidak kuat menahan berat badan Landaur. Dengan sangat hati-hati Landaur mencoba berdiri, setelah berdiri dengan tegak dia dapat melihat kawasan dan desa-desa yang jauh karena tinggi badannya jauh di atas pohon kelapa yang paling tinggi sekalipun.
Saat Landaur berdiri, tiba-tiba dari langit terdengar suara Kiai Mahfudz seperti tengah berbisik kepada Landaur. “Daur! Langkahkan kakimu ke arah barat daya. Lewatilah sawah-sawah dan ladang-ladang warga. Teruslah berjalan lurus ke arah itu sampai kamu tiba di istana Raja Dulkemmek Banakeron. Singkirkanlah raja yang sangat kejam itu. Lalu bebaskan kedua orang tuamu dan para warga yang mendekam dalam penjara. Ayo langkahkan!”












CERITA INI SANGAT SERU DAN MENYENANGKAN