
Landaur pun melangkahkan kakinya. Ketika dilangkahkan, setiap kali kakinya memijak tanah, maka kaki Landaur akan terbenam ke tanah sedalam tiga meter dan setelah diangkat, dari bekas tapak itu memancar mata air. Begitu seterusnya setiap tapak kaki Landaur memancar mata air. Para warga yang sebelumnya ketakutan melihat sosok Landaur, tiba-tiba mereka gembira dan menari-nari ketika melihat mata air memancar dengan sangat derasnya. Para warga berduyun-duyun datang ke sumber mata air bekas tapak Landaur itu. Sumber mata air dari bekas tapak Landaur itu berjarak satu kilometer antara yang satu ke yang lainnya, terletak lurus berjajar dari Asta Guranggaring ke arah Barat Daya.
Setiba di istana, Landaur berdiri di depan pintu gerbang. Para prajurit berkumpul sambil melepas anak panah ke tubuh Landaur, tapi sia-sia. Anak panah itu tak mempan bahkan patah berkeping-keping setelah menyentuh kulit Landaur. Beberapa prajurit yang lain lari ketakutan. Landaur hanya berdiri seraya menatap suasana istana yang tampak hanya seukuran timba kecil. Para tahanan tersenyum dari balik jeruji besi melihat sosok Landaur datang.
Raja Dulkemmek Banakeron keluar lengkap dengan senjata dan pakaian perangnya. Dia sangat terkejut melihat sosok tubuh Landaur yang menyerupai raksasa. Raja Dulkemmek sadar bahwa tubuhnya hanya seukuran jari Landaur. Dia mulai ketakutan dan merasa senjata yang dimiliki tak berguna. Saat raja kebingungan tiba-tiba Landaur menghentakkan kakinya satu kali. Bersamaan dengan itu atap istana berguguran dan sebagian temboknya retak. Hentakan kaki Landaur menyebabkan gempa. Para prajurit bergerak mundur karena ribuan anak panah sudah habis sia-sia. Kemudian raja membuka pakaiannya lalu menusukkan sebatang keris ke jantungnya sendiri. Tubuhnya bersimbah darah, roboh, dan mati terkapar.
Warga dan para tahanan bersorak sorai atas kemenangan mutlak Landaur. Para prajurit bertekuk lutut tanda menyerah. Tangan Landaur kemudian dengan enteng melantakkan jeruji besi penjara. Para tahanan berhamburan keluar sambil bersorak-sorai. Di antara tahanan itu tampaklah Sunima, ibu Landaur sedang bergandeng tangan dengan lelaki tua. Landaur tersenyum bahagia bisa bertemu lagi dengan ibunya.
Setelah kebahagiaan Landaur memuncak tiba-tiba tubuhnya mengecil kembali ke postur yang normal. Lalu ibunya memperkenalkan lelaki tua itu kepada Landaur. Dialah Mattali, ayah Landaur yang belum pernah melihat Landaur. Akhirnya Sunima, Mattali, dan Landaur berpelukan sambil menangis haru. Beberapa hari kemudian para warga mengangkat Landaur sebagai raja di Maddupote. Tapi, Landaur mengembalikan wilayah dan kekuasaan Maddupote kepada Panembahan Mandaraga, putera Panembahan Joharsari.
Sejak saat itu tidak ada lagi penyiksaan dan penarikan pajak. Sawah dan ladang sangat subur, hasil pertanian melimpah. Bekas tapak Landaur dari Asta Guranggaring ke istana masih terus memancarkan mata air sehingga rakyat tak lagi kekurangan air. Mata air itu selanjutnya oleh masyarakat dibuat sumur dan disebut sebagai Sumur Tanto.
Sumur Tanto yang berasal dari bekas tapak kaki Landaur itu terus memancarkan air. Kedalamannya hanya tiga meter. Sumur-sumur itu terletak lurus ke arah Barat Daya dengan jarak satu kilometer antara yang satu ke yang lain mulai dari arah Timur Pantai Lombang sampai ke istana. Hanya saja yang tersisa sampai saat ini hanya beberapa saja. Di antaranya terletak di Dusun Bungduwak Desa Gapura Timur.
Tulisan cerita ini telah terbit dalam bentuk buku “Bunga Rampai Cerita Rakyat Sumenep, MUTIARA YANG TERSERAK” (penerbit Rumah Literasi Sumenep, 2018)












CERITA INI SANGAT SERU DAN MENYENANGKAN