
“Lantas apa yang dapat kita lakukan selain berdoa, Ki?”
Mattali hanya menarik napas panjang dan mengembuskannya pelan-pelan sambil menunduk. “Saya tidak tahu, tapi yang jelas dengan doa bersama semacam ini, Allah pasti akan memberi jalan dengan cara yang tidak kita sangka-sangka.”
“Semoga seperti itu, Ki!”
Mattali dan para warga hanyalah rakyat jelata yang tak punya kekuatan apa pun untuk menumbangkan raja yang sangat kejam tersebut. Mereka hanya terus berdoa dari waktu ke waktu. Namun untuk masalah air, selain berdoa mereka juga berusaha mencari mata air di beberapa titik di kawasan itu, mulai dari lembah, ladang hingga di bukit-bukit berbatu. Usaha untuk mencari air dilakukan dengan sangat gigih meski harus melalui banyak rintangan. Kenyataannya masih sama seperti tahun-tahun sebelumnya. Mencari mata air di tanah Madura khususnya di daerah Maddupote kala itu sama sulitnya dengan meletakkan air di daun talas. Akhirnya kegigihan Mattali dan para warga membuahkan hasil. Sebuah mata air ditemukan di lereng Bukit Montorra. Para warga bergiliran gotong royong menggalinya dengan diam-diam agar tidak diketahui pihak kerajaan.
Setelah mencapai kedalaman enam belas meter, mata air memancar sangat deras. Para warga tersenyum bahagia. Kala itu para warga mulai menimba air ke lereng Bukit Montorra melalui cara yang rahasia agar tidak diketahui pihak kerajaan. Banyak warga yang merasa senang dengan adanya mata air tersebut, tak terkecuali Mattali. Kebahagiaan Mattali pun berlipat ganda. Selain berhasil membuat sumur untuk para warga, isterinya ternyata hamil tiga bulan. Sungguh kebahagiaan yang berlipat bagi Mattali.
Hanya dua bulan Mattali merasakan hidup bahagia. Setelah itu dia harus merasakan kenyataan yang teramat getir. Sumur yang dibuatnya bersama warga tiba-tiba dirampas pihak kerajaan. Salah seorang warga yang khianat telah membocoran keberadaan sumur itu kepada raja. Raja Dulkemmek Banakeron murka. Dia tidak hanya merampas sumur dari tangan rakyat, namun dia juga memasukkan Mattali ke dalam penjara.
Tepat ketika usia kandungan Sunima lima bulan, Mattali harus rela meninggalkan isteri tercintanya itu karena harus menjalani hukuman dalam penjara. Raja sangat murka, setiap hari dia selalu menghukum Mattali karena telah membantu warga menemukan mata air.
Di dalam penjara, Mattali benar-benar tersiksa. Ia dicambuk setiap hari sedang batinnya setiap saat selalu didera rasa rindu kepada sang isteri karena sedang hamil. Mattali yang semestinya hidup bahagia dengan isterinya yang sedang hamil setelah bertahun-tahun menginginkan keturunan ternyata harus hidup dalam takdir perpisahan.
Mattali selama dipenjara tak mengabaikan suasana malam hari begitu saja. Dia gunakan waktu malam untuk beribadah, berzikir, dan berdoa agar isteri dan janin yang di kandungnya sehat. Mattali berharap kelak anak yang lahir dari rahim isterinya akan tumbuh menjadi kesatria yang bisa menumpas kedzaliman raja. Dia memohon kepada Allah agar anaknya hidup menjadi pejuang bagi rakyat jelata yang tertindas.












CERITA INI SANGAT SERU DAN MENYENANGKAN