Kisah Asal Mula Sumur Tanto

sumur tanto
Ilustrasi: Tamar Saraseh

Pada suatu siang, Mattali dan Sunima terpaksa membakar singkong untuk bahan makanan karena persediaan air yang mereka miliki hanya cukup untuk berwudu. Para tetangga banyak yang mengadu tidak tahan pada kebijakan raja yang sangat tidak adil. Tidak jarang anak-anak pulang dengan tubuh yang memar dan sebagian anak yang lain pulang dalam keadaan lunglai dan lemas. Setiba di rumahnya, banyak anak-anak yang jatuh sakit karena seharian dipaksa mengambil air dari beberapa titik mata air yang jaraknya puluhan kilometer dari Kerajaan Maddupote.

Setiap malam Mattali dan Sunima mulai punya kesibukan baru menjenguk tetangga mereka yang anaknya sakit. Biasanya Mattali membawa singkong bakar sebagai oleh-oleh dari rumah ke rumah. Singkong bakar menjadi makanan pilihan semenjak air sulit didapatkan karena singkong bakar tidak perlu dimasak memakai air. Di salah satu tetangganya yang bernama Sadikin, Mattali tidak bisa membendung air matanya ketika mendengar cerita Sulaiman, anak Sadikin yang masih berusia 6 tahun. Sulaiman sedang sakit terbaring karena disiksa ketika bekerja mengambil air untuk kerajaan.

“Mengapa kulitmu penuh dengan memar seperti ini, Liman?” tanya Mattali pelan.

“Ini semua terjadi ketika saya bekerja mengambil air untuk kerajaan, Kek. Saya ditugaskan mengambil air ke Dusun Pangabasen yang jaraknya sekitar 3 km dari kerajaan dan harus melewati lereng Bukit Montorra yang dipenuhi batu-batu tajam. Sepanjang perjalanan nyaris tak saya temui rindang pohonan. Saya berjalan menyusuri jalan berbatu dengan terik matahari yang sangat panas.”

“Kamu kelelahan?”

“Iya, Kek! sebab selain terik dan tajamnya batu, saya harus memikul sepasang timba ukuran besar yang terbuat dari daun siwalan.”

Mattali menggeleng-geleng bisu. Matanya melinangkan air mata. Ia tidak bisa membayangkan bocah seumur Sulaiman harus memikul beban seberat itu.

“Apa timbamu yang besar itu diisi penuh?” sambung Sunima.

“Iya, Nek, bahkan seorang prajurit yang mendampingi saya melarang keras air dalam timba itu tumpah meski hanya sedikit. Jika tumpah walau hanya sedikit maka prajurit itu mencambuk saya berkali-kali.”

“Sungguh biadab!” Ucap Mattali seraya menyeka air matanya.

“Tidak hanya itu, Kek, kalau saya istirahat karena lelah maka cambuk beraksi kembali.”

“Berapa kali kamu bolak-balik dari sumur ke kerajaan?”

“Seharian penuh saya membawa enam pikul air ke kerajaan dengan beragam macam siksaan.”

“Apa pihak kerajaan memberimu makanan?”

Response (1)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.