“Kalau banyak makan biasanya banyak tidur, kalau banyak tidur biasanya jadi temannya setan. Coba ibu lihat para prajurit yang kejam itu, mereka jadi temannya setan karena banyak makan,” jawab Landaur kepada Sunima sambil bergegas keluar menuju teras.
Sunima mengernyitkan dahi, dia kebingungan dengan tingkah laku Landaur yang sering nyeleneh, tapi setiap kali ditanya alasannya selalu masuk akal. Sunima juga merasakan kalau Landaur sudah memiliki pemikiran yang cukup dewasa meski dia masih balita. Satu lagi kenyataan buruk masuk ke dalam pikirannya, raja di Maddupote kejam.
Menginjak umur sembilan tahun Landaur mulai melaksanakan puasa Daud, meniru kebiasaan guru ngaji Kiai Mahfudz. Sehari makan sehari puasa begitu selanjutnya, tapi anehnya tubuh Landaur tumbuh di luar kebiasaan anak-anak pada umumnya. Di umur sembilan tahun tubuh Landaur sudah setinggi tubuh ibunya. Ketika sedang bergurau, biasanya Landaur ditanya oleh Sunima mengapa tubuhnya cepat kekar. Landaur menjawab “Biar cepat bisa membebaskan ayah dari penjara.” Rupanya satu kenyataan buruk masuk lagi ke dalam otak Landaur, ayahnya dipenjara.
Seiring berjalannya waktu, Landaur tumbuh memasuki masa remaja. Wajahnya sangat rupawan, berkulit kuning, dan berbadan gagah dan tinggi. Di usia lima belas tahun Landaur mulai gemar berkelana dari satu daerah ke daerah lain untuk mengetahui keadaan dusun-dusun di kawasan Maddupote. Selain itu Landaur juga bisa mengobati berbagai penyakit yang diderita warga. Dengan demikian dia memilih berkelana agar bisa leluasa mengobati warga yang sedang sakit. Kehadiran Landaur menjadi kebanggan warga. Mereka merasa telah kedatangan pahlawan baru. Setiap hari warga mulai ketagihan didatangi Landaur karena selain mengobati, dia juga pandai memberi nasihat dan menyalakan semangat warga.
Kabar tentang Sunima yang telah punya anak terendus oleh pihak kerajaan. Raja Dulkemmek Banakeron mengutus prajurit untuk menemui Sunima agar mau mengirim anaknya ke istana untuk bekerja mengambil air. Setiba di rumah Sunima, mereka tidak bertemu dengan Landaur. Ketika prajurit datang Landaur sedang pergi berkelana. Prajurit marah dan membentak-bentak Sunima. Prajurit utusan raja itu akhirnya pulang dan datang lagi keesokan harinya, tapi lagi-lagi Landaur tidak ada.
Prajurit semakin marah dan mengancam akan membunuh Landaur. Sunima menangis histeris mendengar ancaman itu. Baru pada kunjungan ketiga kalinya mereka bertemu dengan Landaur. Dengan senyum lembut dan sapa yang santun, Landaur mempersilakan prajurit yang berjumlah enam orang itu masuk ke ruang tamu, namun ketua prajurit itu membentak dengan sangat kasar. Landaur berusaha tenang dan sekali lagi mempersilakan masuk dengan kata-kata yang lembut, tapi lagi-lagi prajurit itu kasar dan mengajak berkelahi. Akhirnya dengan terpaksa Landaur mau menuruti permintaan keji prajurit itu. Mereka berkelahi satu banding enam. Hanya dengan waktu yang singkat Landaur mampu melumpuhkan enam prajurit itu terjatuh ke tanah dan berlumur darah. Meski tanpa menggunakan senjata, Landaur sangat mudah mengalahkan enam prajurit tersebut. Anehnya, tubuh Landaur tidak terluka sedikit pun meski berkali-kali disabet pedang, golok, dan celurit oleh prajurit yang licik itu. Akhirnya enam prajurit lari meninggalkan halaman Sunima dengan badan penuh luka.












CERITA INI SANGAT SERU DAN MENYENANGKAN