Hubungan Kerajaan Sumenep dengan Belanda

Awal terbentuknya hubungan antar-kerajaan Sumenep dan Belanda tidak dapat dilepaskan dari perkembangan Mataram. Dalam hal mendapatkan wilayah Sumenep, VOC tidak melakukan penaklukan secara langsung terhadap penguasa pribumi, namun dengan proses yang cukup panjang serta intrik-intrik politik yang dimainkan terhadap penguasa yang menghegemoni, dalam hal ini Mataram. Konsep ini digambarkan oleh Raffles dalam buku The History of Java, ia menggambarkan bahwa usaha yang dilakukan VOC untuk memperkuat posisinya adalah dengan terus memperlemah para penguasa lokal, hingga mereka tak berdaya, kemudian menyerahkan segalanya kepada VOC.[36] Dalam penguasaan wilayah Sumenep, intrik itu berawal dari Perang Trunajaya.




Perang Trunajaya merupakan suatu representatif dari tanda-tanda keruntuhan tradisi Jawa (Mataram). Peristiwa ini berawal dari perpecahan di dalam istana antara Amangkurat I dan Putra Mahkota (Adipati Anom), anaknya, yang selanjutnya bergelar Susuhunan Amangkurat II. Perpecahan itu timbul disebabkan Amangkurat I menyerahkan pengasuhan Putra Mahkota kepada keluarga ibunya, sehingga tidak heran membentuk mental yang berat diakibatkan pembunuhan yang dilakukan oleh ayahnya terhadap keluarga ibunya dan Pangeran Pekik, ayah dari ibunya. Wataknya pada masa remaja juga sangat suka bermain wanita cantik. Ini menimbulkan konflik dengan ayahnya yang memiliki selera yang sama. Pada tahun 1660, pihak Belanda mendengar desas-desus bahwa Amangkurat I bermaksud membunuh putranya, namun segera desas-desus itu terbukti tidak benar. Pada tahun 1663, muncul desas-desus lain mengenai usaha raja untuk meracuni anaknya.[37]

Mulai tahun 1660, Putra Mahkota sebenarnya sudah berusaha menjalin hubungan dengan VOC. Antara tahun 1667 dan 1675, dia mengirim sembilan perutusan ke Batavia untuk meminta apa saja, dari ayam Belanda sampai kuda Persia dan gadis-gadis Makassar.[38] Pada tahap selanjutnya, Putra Mahkota menjalin hubungan dengan seseorang yang kelak menjadi titik perubahan Mataram dan memunculkan gejolak Perang Trunajaya, yaitu Raden Kanjoran, yang merupakan mertua dari Raden Trunajaya.

Trunajaya sangat membenci kezaliman yang dilakukan oleh Amangkurat I yang pada tahun 1656 telah membunuh ayahnya dan mengancam nyawanya. Raden Kajoran kemudian memperkenalkan Putra Mahkota kepada Trunajaya. Dari pertemuan inilah muncul persengkokolan politik untuk menjatuhkan Amangkurat I. Bila ia dapat dikalahkan, Putra Mahkota akan menjadi susuhunan baru dan Trunajaya dapat menjadi penguasa atas Madura dan sebagian Jawa Timur.

Setelah persengkokolan itu, Trunajaya pergi ke Madura untuk menggalang kekuatan untuk memberontak. Selain itu, ia juga menghimpun prajurit-prajurit dari Makassar, yang telah menjadi korban penindasan Arung Palakka. Mereka kemudian, pada tahun 1675, menyerang pelabuhan-pelabuhan Jawa. Sesungguhnya, permusuhan Madura terhadap Mataram pernah terjadi pada kisaran tahun 1620-an awal, namun dapat diatasi oleh Sultan Agung pada tahun 1625.[39] Bersamaan dengan adanya pemberontakan Trunajaya, banyak bencana yang menimpa wilayah kekuasaan Mataram. Rickleffs menggambarkan bahwa pada tahun 1672, beberapa gempa bumi dan gerhana bulan terjadi, hujan turun tidak pada musimnya, gunung Merapi meletus, pada tahun 1674-1676 bahaya kelaparan dan wabah penyakit menimpa.

Pada kisaran tahun itu, tersebar ramalan-ramalan bahwa hari-hari akhir kejayaan Mataram akan tiba. Puncaknya pada tahun 1675, pemberontakan Trunajaya menggalang kesuksesan. Pelabuhan-pelabuhan di pesisir utara Jawa banyak ditaklukan dan istana Plered berhasil jatuh ke tangan Trunajaya. Bahkan Trunajaya pada tahun 1676 menggunakan gelar panembahan dan raja, yang berarti telah menggagalkan rencana yang dicanangkan oleh Putra Mahkota yang masih berada di dalam istana.

Mataram pun terpaksa meminta bantuan kepada pihak VOC. Permintaan inilah yang nantinya menyebabkan Mataram sangat bergantung kepada VOC. Tercatat terdapat tiga kali VOC dan Mataram merevisi perjanjian yang telah disepakati terkait pinjaman saat Perang Trunajaya. Perjanjian itu pada akhirnya sangat menguntungkan VOC dan merugikan Mataram. VOC berhasil mendapatkan pelabuhan-pelabuhan  di wilayah Mataram, Semarang, dan desa-desa di sepanjang Kaligawe. Keuntungan-keuntungan itu VOC dapatkan dari hasil utang yang dipinjam oleh Mataram sebesar 763.900 (Dutch Florin/D.fl.).[40] Sedangkan sampai pada tahun 1685, masa Amangkurat II, uutang itu baru dapat dibayar D.fl. 71.368 atau sekitar 8,99%.[41] Berdasarkan perjanjian-perjanjian itu, VOC untuk pertama kalinya melibatkan diri dalam peperangan berskala besar dan harus menjelajahi pedalaman Jawa, yang belum banyak dikenalnya.

Saat Amangkurat I wafat pada tahun 1677, Putra Mahkota menggantikan ayahnya dan menjadi Amangkurat II, persekutuan antara VOC dan Mataram diperkuat. Para pemimpin VOC dikerahkan, mulai dari Speelman, yang selanjutnya digantikan perannya oleh Anthonio Hurdt karena harus menjadi Direktur Jenderal di Batavia menggantikan Jenderal Rijklof van Goens, Jonker Abraham Daniel van Renesse, Francois Tack, Frederik Hendrik Muller, Jacob Couper, Jeremias van Villet, Jan Albert Sloot van Bakelo, dan Casper Altmeyer.

Setiap pemimpin perang itu membawa ratusan hingga ribuan prajurit untuk menyerang Trunajaya dan pasukannya. Inilah yang menyebabkan utang Mataram terhadap VOC sangat besar dan pada akhirnya menjadi senjata makan tuan bagi Mataram. Namun terlepas dari itu, hasil yang dicapai, pasukan Mataram dan VOC berhasil merebut kembali Kediri pada tanggal 25 November 1678 dari Trunajaya dan berhasil menangkap Trunajaya dan dibunuhnya setahun setelahnya.

Diceritakan pada Babad Trunajaya-Surapati, pembunuhan Trunajaya sangat kejam, orang yang membunuhnya adalah Amangkurat II dengan cara menghunus keris ke bagian dada Trunajaya sampai menembus ke punggung, sehingga menyebabkan darahnya menyembur deras keluar. Dilanjutkan oleh Ki Antagopa, seorang punggawa rendah. Amangkurat II pun juga memerintahkan para bupatinya untuk memakan hati Trunajaya, kepalanya dipotong dan diletakkan di bawah singgasana untuk digunakan sebagai keset, yang pada esok harinya kepala Trunajaya ditumbuk sehingga melebur dengan tanah. Sang adik raja yang menjadi istri Trunajaya tidak sanggup melihat peristiwa itu dan selalu menangis.

Pada saat Perang Trunajaya, wilayah Madura, termasuk Sumenep, sebenarnya tidak masuk ke wilayah Mataram, karena Trunajaya berhasil menguasai seluruh wilayah Madura. Hal ini berdasarkan laporan manuskrip yang berasal dari instruksi Amangkurat II pada tanggal 2 Desember 1677 kepada seluruh bupati untuk mengekspor padi ke VOC, yang kemudian disalin oleh G.P. Rouffaer di Yogyakarta.  Bila dilihat dari kronologis raja di Sumenep, pada masa itu Sumenep dipimpin oleh  R. Temenggung Pulang Jiwa dan Pangeran Sepuh, yang lebih dikenal sebagai pimpinan kembar. Hal ini menunjukkan ada hubungan politik yang dijalin oleh Trunajaya dengan pemimpin di Sumenep itu. Namun, bila dilacak lebih jauh hubungan politik itu tercipta oleh Raden Bugan, raja Sumenep sebelum R. Temenggung Pulang Jiwa dan Pangeran Sepuh.

_____________________

36 Aminuddin Kasdi, dkk., Sejarah Perjuangan Raden Trunajaya, Surabaya: Unesa University Press, 2003, hal. 110.
37 M.C. Ricklefs, Sejarah Indonesia Modern 1200–2008, Jakarta: Serambi, 2008, hal. 160.
38 Ibid
39 Nugroho Notosusanto, Op.Cit., hal. 48.
40P.B.R. Carey, Oriental Documents III, The Archive of Yogyakarta Vol. I Documents Relating ti Politics and Internal Court Affairs, Oxford: Oxford University Press, hal. 199.   
41 H.J. De Graaf, Terbunuhnya Kapten Track, Jakarta: Grafiti Pers, 1989, hal. 34-35.




Tulisan bersambung:

  1. Masa Kejayaan Kerajaan Sumenep Pra Islam
  2. Raja-raja Sumenep yang Berkuasa Masa Pra Islam
  3. Peperangan Periode Koloneal di Tanah Sumenep
  4. Kerajaan Sumenep Masa Periode Islam
  5. Masa Keemasan Zaman Sultan Abdurrahman
  6. Pengaruh Islam dalam Sistem Birokrasi Pemerintahan Sumenep
  7. Hubungan Kerajaan Sumenep dengan Belanda
  8. Pengawasan VOC Tidak Seketat Madura Barat
  9. Konflik yang Mengakibatkan Keruntuhan Kerajaan Sumenep

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.