Ungkapan Madura: Abhantal Syahadat, Asapo’ Iman

Penutup

Kebudayaan apapun namanya ternyata telah mengalami perubahan sejalan dengan dinamika –internal dan eksternal— masyarakat itu sendiri. Perubahan masyarakat menunjukkan kecenderungan proses mencairnya batas-batas ruang (fisik), mobilitas fisik dilengkapi pula dengan mobilitas sosial dan intelektual yang jauh lebih padat dan intensif. Demikian pula media komunikasi yang semakin canggih telah menyebabkan masyarakat terintegrasi ke dalam suatu tatanan yang lebih luas, dari yang bersifat lokal menjadi global. Berbagai desa tidak terkecuali menjadi bagian dari global village yang memperlihatkan betapa nilai-nilai yang dipelajari dan diyakini, kemudian bukan hanya berasal dari lokalitas dimana seseorang berada, tetapi juga nilainilai dari suatu pusat dunia atau bahkan suatu daerah.22)

Dunia yang semakin terintegrasi dengan tatanan global, batas-batas antara negara, daerah menjadi mencair akibat arus orang, barang, informasi, ide-ide, dan nilainilai yang semakin lancar, padat, dan intensif. Itulah juga yang menyebabkan mengapa tradisi-tradisi lokal –termasuk tradisi Madura— mengalami perubahan dan cenderung ditinggalkan oleh masyarakatnya.

Sebab lain adalah karena mandeg-nya pewarisan nilai-nilai (tradisi lokal) tersebut pada generasi berikutnya, sebagaimana ditunjukkan oleh fungsi Kobhung di atas, disamping itu tidak ada lagi kebanggaan dari sang pemilik tradisi. Masyarakat Madura yang sejatinya merupakan masyarakat yang berpegang teguh pada tradisi tunggal yang dianggap luhur –bingkai imagined dalam istilah Bennedict Anderson— saat ini mengalami perubahan tradisi, yakni telah mengalami kesenjangan dengan bingkai virtualnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.