Pangkur atau Pangkor (Madura) berarti penghujung, tembang ini biasanya ditembangkan pada bagian akhir suatu cerita. Tembang ini mempunyai tujuh gatra (baris), dan guru wilangan lagu masing-masing 8a – 11i – 8u – 7a – 12u – 8a – 8i. Pangkor biasanya dipakai untuk mengungkap hal-hal yang bersifat keras, seperti kemarahan, perkelahian dan perang. Meskipun tembang Pangkor identik dengan nuansa heroic, namun banyak diantara-nya memberikan gambaran yang lugas dan gamblang tentang kekerdilan manusia dihadapan Sang Pencipta.
Sinom (Senom) diambil dari pucuk daun asam. Tembang ini mempunyai sembilan gatra (baris), baris pertama sampai kesembilan masing-masing 8a – 8i – 8a – 8i – 7i – 8u – 7a – 8i – 12a. Tembang ini biasanya dipakai untuk mengungkapkan ha-hal yang bersifat romantis, baik dalam hubungannya dengan kisah percintaan ataupun hubungan antar sesama manusia.
Dhandanggula (Artate’) terdiri dari dhandang dan gula, dhandang mengandung arti pangarep (Madura), gula berarti manis. Tembang ini mempunyai sepuluh gatra (baris), guru wilangan dan guru lagu masing-masing 10i – 10a – 8e – 7u – 9i –7a – 6u – 8a – 12i – dan 7a. Tembang ini mempunyai maksud dan sebuah pengharapan tentang sesuatu dengan tujuan akhir mencapai kebaikan. Tembang Macopat ini biasanya dipakai untuk mengungkapkan perasaan suka cita atau pun ketika mencapai sebuah kemenangan.
Megatruh atau Duduk Wuluh (Jawa), duduk artinya suling sedangkan Wuluh berarti bambu. Tembang ini mempunyai lima gatra (baris) dengan guru wilangan dan guru lagu, masing-masing baris 12a –8i – 8u – 8i – 80. tembang ini biasanya dipakai untuk melukiskan perasaan kecewa ataupun kesedihan yang mendalam.
Gambuh dalam bahasa Jawa “prigel”, dengan maksud bahwa segala sesuatu bisa diatasi. Tembang ini terdiri atas lima gatra (baris) dengan guru wilangan dan guru lagu berturut-turut 7u – 10u – 12i – 8u- 8o. watak dari tembang ini adalah memberi penjelasan.(Lontar Madura)
Bhubu’ân berfungsi sebagai mekanisme sosial yang menghubungkan individu dengan masyarakat secara lebih luas, membantu memastikan bahwa dukungan sosial yang kuat tetap menjadi inti dari kehidupan sosial di Madura.
Masyarakat Madura memiliki beragam kearifan lokal yang tetap lestari hingga kini. Salah satu yang paling terkenal adalah tradisi rokat tasek, kerapan sapi dan lainnya
Selain unsur Islam, budaya Madura juga memengaruhi bentuk ritual Pojhiân Hodo. Unsur Madura dapat dilihat dalam teks mantra yang menggunakan bahasa Madura.
Pelaksanaan ritual-ritual kesuburan banyak berkembang dan masih berlangsung dalam kehidupan masyarakat di Indonesia. Salah satunya adalah ritual Seren Taun di Cigugur, Kuningan, Jawa Barat.
Pojhiân Hodo adalah seni tradisi yang berbentuk ritual upacara adat. Ritual ini dilaksanakan sekitar bulan September–Oktober setiap ta- hunnya oleh masyarakat Dukuh Pariopo, Desa Bantal, Kecamatan Asembagus,
Responses (4)
tak ghadhuan mp3 na mamacah madura otabe gendhing madura
tak ghadhuan mp3 na mamacah madura otabe gendhing madura
Silakan Anda unduh di banner sidebar laman ini atau klik Tembhang Macapat Madhurâ
mator sakalangkong ka se abadhi blog ka’ dhintoh…
moga bisa deddiyeh tambaan pangataowan da’ kauleh, tor jugan da’ se abadhi
Lontar Madura, jughan mator sakalangkong atas kapartaja’an panjhennengan se ampon ngaoladhi situs ka’dinto, moga2 daddhiya manfaat dha’ sadajana