Ging-gung, Musik Tiup Ala Bangkalan

Ilustrasi: peragaan permainan ging-gung

Ging-gung adalah sebuah permainan musik tiup yang  menekankan pada bunyi dan irama. Permainan ini jenis ini  sudah mulai langka, dan bahkan anak-anak dan  kalangan muda Madura tidak merasa tertarik lagi untuk memainkannya, karena alat  musik tiup yang lebih modern dan merambah di tengah masyarakat.

Ging-gung, ada juga yang menyebutnya Din-ding, atau Ren-ding adalah alat musik tiup seperti harmonika. Cara maunnya pun disedot dan ditiup dari mulut dengan mengatur irama melalui jari tangan pemainnya.

Permainan dengan irama suara ini pada masanya kerap dimainkan di tengah masyarakat sekitar wilayah Kecamatan Sepulu, Kabupaten Bangkalan, Madura,  Jawa Timur.

Di daerah lain di Madura yang termasuk penggemar permainan ini, yaitu daerah pantai utara kabupaten Sampang dan Pamekasan. Di daerah tersebut permainan ini tidak dikenal dengan nama ging-gung, tetapi dikenal dengan nama ren-ding atau din-ding. Tidak diketahui apa arti rending atau din-ding, hanya yang dimaksud adalah permainan semacam ging-gung itu.

Ging-gung dapat dimainkan di waktu siang dan malam. Tergantung kepada pemainnya. Sebab permainan ini adalah permain­an yang bersifat menghibur diri di waktu senggang. Tetapi karena, menimbulkan suara, maka irama ging-gung ini dapat pula dinikmati oleh siapa pun yang mendengarnya.

Adakalanya permainan ini dimainkan di ladang waktu menggembala ternak atau menjaga ladangnya. Tetapi juga dapat dimainkan di ru­mah atau diundang orang. Siapapun dapat memainkannya, tua, mu­da, anak-anak, laki-laki, perempuan. Hanya kalau perempuan mema­inkannya di dalam rumah.

Ada pula pegunungan yang memanjang dari bagian barat ke timur pulau Madura. Daerah pegunungan ini terletak agak ke bagian utara pulau. Daerah pegunungan ini tak berhutan seperti di pulau Jawa, sekalipun banyak pohon dan semak-semak belukar yang tum­buh di situ. Di beberapa bagian, pegunungan itu merupakan daerah bukit gundul dan gersang.

Di daerah-daerah itu, penduduknya bukanlah termasuk yang hidup makmur. Karena daerahnya minus, maka penghidupan penduduknya sangat kekurangan. Tidak mengherankan kalau daerah-daerah tersebut banyak yang  berimigrasi ke Jawa untuk mencari penghidupan yang lebih baik. Kalau tidak mereka terpaksa bekerja keras untuk mempertahankan hidupnya.

Curah hujan memang kurang di daerah itu. Karena itu lebih banyak ladang dari pada persawahan. Selain usaha pertanian di ladang, ba­nyak penduduknya berusaha dari peternakan. Sebagaimana umumnya, di pulau Madura bagian terbesar terdiri dari tanah ladang, ba­nyak ditumbuhi  bambu.

Dari keterangan para sesepuh, permainan ging-gung tersebut sudah ada sejak dulu. Perma­inan memang timbul semula dari para penggembala ternak. Mereka mula-mula membuat layangan besar yang diberi irisan bambu halus yang kalau terkena angin berbunyi.

Layangan demikian ini dikenal dengan nama layangan wang-nguweng (karena bunyinya wanguweng). Irisan halus bambu yang menimbulkan bunyi itu disebut sabengan (sawangan). Para penunggu ladang di desa itu juga membuat enterran (baling-baling) dari irisan bambu yang menimbulkan bunyi.

Bunyi dan gerakan-gerakan dari putaran enterran itu yang dihubung­kan dengan tali, bergerak-gerak menakutkan burung-burung yang akan mengganggu tanamannya.

Mungkin, katanya, bertolak dari irisan-irisan bambu yang menimbul­kan bunyi itu, maka lalu dibuat alat ging-gung dari irisan bambu yang diberi tali, kemudian tali itu ditarik-tarik adakalanya keras, adakala­nya perlahan didepan mulut yang rongganya dikembung-kempiskan sehingga menimbulkan bunyi yang berbeda-beda. Kesatuan bunyi dapat membentuk sebuah lagu.

Karena kemudian permainan ging-gung yang dirpainkan oleh seorang yang pandai, tampak enak kedengarannya, maka permainan itu tidak untuk dinikmati oleh dirinya saja tetapi juga oleh orang yang mendengarkannya.

Kemudian permainan itu tidak dimainkan seorang diri saja, tetapi beberapa orang bersama-sama memainkan dengan masing-masing menimbulkan bunyi yang berbeda. Tetapi bunyi-bunyi itu kalau serasi, betul-betul melahirkan bunyi seperti permainan musik.

Tetapi kalau terlalu banyak pemain yang ikut serta, mengakibatkan bunyi yang kacau. Karena itu yang pa­ling baik kalau hanya tiga orang saja bermain bersama.

Pemain-pemain ging-gung ini tidak diorganisir, tetapi bersifat spontan. Tidak ada yang memimpin, kecuali yang sudah pandai mengajari mereka yang belum tahu. Pada perkembangannya kemudi­an, permainan ging-gung juga berfungsi sebagai penghibur tamu di suatu peralatan perkawinan, khitanan dan sebagainya. Yang diundang bermain, tentu mereka yang sudah pandai dan biasa bermain bersa­ma. Kalau sudah bubar, masing-masing pemain esalame talpe’ (salam amplop atau salam tempel) karena ada sedikit uang lelah yang di­berikan oleh pengundang.

Butuh daya pernafasan

Permainan ging-gung semula adalah permainan perseorangan, untuk menghibur diri di waktu senggang. Tetapi pada perkembangan­nya kemudian beberapa pemain ging-gung bermain bersama sehingga lebih banyak (enak dan mengasyikkan kalau mendengarnya) bunyi­nya.

Umumnya permainan bersama ini terdiri dari tiga orang atau paling banyak empat orang. Pemainnya umumnya laki-laki, tua atau muda ataupun kanak-kanak. Wanita pun dapat memainkannya, tetapi tidak diluar rumah, hanya terbatas di dalam rumah saja. Pendeknya siapa pun dapat bermain, sebab permainan ini adalah permainan hiburan.

Tetapi kalau memainkan untuk menghibur orang lain, me­mang memerlukan ketrampilan khusus untuk memainkannya. Sebab selain harus bermain baik, nafas pemain harus tangguh, sebab tidak hanya memainkan sebuah lagu, tetapi banyak lagu.

Peralatan yang dimainkan

Tentang peralatannya tidak sulit dibuat, sebab bambu yang baik untuk dibuat ging-gung  banyak didapat di desa tersebut. Alat itu hanya sebuah bambu tipis yang diperhalus, panjangnya se­kitar 30 — 35 cm, lebar sekitar 2 — 3 cm, tebal sekitar 3-4 mm.

Ujung yang sebelah selain makin menipis juga mengecil. Ujung ini nanti akan dipegang tangan kiri. Sedangkan ujung yang satu lagi tumpul diberi bertali, dan di ujung tali diikat dengan lidi sepanjang 2 cm. Tempat itu nanti dipegang tangan kanan di ujung talinya sam­bil ditarik-tarik guna menghasilkan suatu bunyi yang bergetar .Tarikan tali ini dikombinasikan dengan gerakan rongga mulut menghasil­kan suatu kombinasi bunyi, maka peralatannya haruslah yang dapat menghasilkan bunyi bermacam-macam, dengan nada yang serasi.



Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.