Pra Kongres Budaya, Mengkristalkan Budaya Madura

Perubahan waktu yang mulai menggerus kebudayaan Madura, tampaknya mendapat perhatian semua pihak. Untuk mengkristalkan kembali kekuatan budaya Madura ini perlu pemikiran bersama, baik dari kalangan seniman/budayawan, lembaga  pemerintah, institusi masyarakat, serta pihak lain yang perlu terhadap fenomena ini.

Salah satu wujud yang “barangkali” memberikan konstribusi dalam wilayah kebudayaan ini yaitu membangun kesepakatan dan kesepahaman dalam memaknai budaya Madura, yaitu dalam  bentuk kongres, meski pada kongres pertama tahun 2007 di Sumenep menurut sejumlah kalangan kerap dipertanyakan dan dinyatakan kurang berhasil.

Namun usaha untuk meraih kembali kejayaan budaya Madura pada tahapan Kongres Budaya Madura julid II tetap menjadi usaha yang diharapkan menjadi pendulum sebagai bentuk pemikiran melihat budaya Madura kedepan.

Di sejumlah wilayah di Madura, Pra Kongres Kebudayaan Madura dilaksanakan di Sumenep,  bulan Juli 2011 lalu diharapkan menjadi konstribusi pemikiran baru. Ketika , tampaknya kurang banyak mendapat perhatian masyarakat, lantaran pemikiran yang dimunculkan tidak merepresentasi pemikiran masyarakat pelaku budaya di Sumenep.

Seminar Pra Kongres Kebudayaan Madura sebelumnya dilaksnakan di Pamekasan pada bulan April  dan di Bangkalan bulan Juni 2011. Sementara di Sampang dilaksanakan bulan Mei 2011. Tim Rato Ebu dalam laporannya dihttp://www.rbmsampang.com, dengan judul tulisan : “Pertemuan Budaya Di Sampang Madura, Oase di Tengah Kegersangan“, dapat diikuti sebagai berikut:

Tim Redaksi Rato Ebhu mendapatkan kesempatan untuk menghadiri satu pertemuan budaya yang sangat istimewa. Istimewa yang pertama adalah perhelatan ini dilaksanakan oleh politikus kawak dari Sumenep melalui salah satu lembaganya, Said Abdullah Institute, kemudian istimewa yang kedua adalah antusiasme peserta yang mengikuti acara dengan tajuk Seminar Pra Kongres Kebudayaan Madura. Sedangkan keistemewaan yang paling mendasar adalah Orang Madura berbicara tentang Kebudayaannya sendiri. Berada dalam forum itu seperti berada dalam gerak maju rombongan kafilah di luas dan panasnya padang gurun yang tak bertepi, melangkah dengan pasti menuju kedepan meski tujuan masih jauh dari pandangan mata.

Pandangan Paradoks

Seminar untuk Pra Kongres Kebudayaan Madura ini dihadiri oleh tiga narasumber yang semuanya mengklaim asli madura. Yang pertama adalah Drs. H. Shollahur Robbani, Ketua Dewan Kesenian Kabupaten Sampang. Kedua adalah Dinara Maya Julianti, S. Sos. M.Si, yang berprofesi sebagai dosen di Fakultas Ilmu Sosial dan Budaya Universitas Trunojoyo Bangkalan. Sedangkan narasumber ketiga adalah Drs. H. Ali Daud Bey yang merupakan salah satu tokoh kebudayaan Sampang dan sekarang menjabat sebagai Ketua Dewan Pendidikan Kabupaten Sampang. Dari dialog dan dinamika yang berkembang dalam forum tersebut, para peserta sepertinya mendapatkan satu kesepakatan yang tak ter-ucap bahwa madura harus bangkit dari segala masalah yang telah membelenggu mereka sejak lama.

Narasumber pertama membawakan makalah dengan judul “Kebudayaan dan Peradaban”, yang mengedepankan pengaruh pendidikan, ilmu pengetahuan dan kemajuan teknologi dalam tingkat peradaban sebuah masyarakat. Dengan jelas disampaikan bahwa unsur etika dan estetika menjadi dasar penilaian terhadap tinggi rendahnya sebuah kebudayaan masyarakat. Apabila berdasar pada aspek ini sepertinya potret Madura menjadi agak buram, karena Indeks Pembangunan Manusia ( IPM ) Sampang adalah yang terendah di Jawa Timur dan pada posisi di bawah untuk tingkat nasioanal. Dengan menyadur pendapat Rifai, narasumber sepertinya mempertegas tentang tingkat kebudayaan Madura yang bermasalah. “…Mengingat sejak zaman kolonial, orang Madura telah mendapatkan stereotif negatif dan penuh kerancuan, ( Rifai )…”, tulisnya.

Tanpa menjelaskan lebih lanjut tentang masalah tersebut, pada alinea selanjutnya narasumber menyebutkan keunggulan dari bahasa Madura yang dipergunakan oleh 5 % penduduk di Indonesia, atau lebih dari 13 juta penduduk menggunakan bahasa Madura sebagai bahasa sehari-harinya. Banyak pendapat dari para ahli sosial yang menyebutkan bahwa tingkat dan kerumitan sebuah bahasa juga menjadi salah satu ukuran tinggi rendahnya sebuah kebudayaan masyarakat. Ini satu paradoks pertama tentang Madura, dalam hal etika dan estetika mungkin memiliki masalah, tapi dalam hal bahasa, Madura sudah memiliki sejarah yang berusia tua dan memiliki peradaban tinggi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.