Kedua, masyarakat Madura menerima akibat sisa-sisa dari suatu sistem stratifikasi yang ketat, yang telah masuk akibat kekuasaan hak-hak istimewa dari tangan golongan yang memerintah. Maka, penyebaran SI di Madura dapat dipandang sebagai manifestasi kebangkitan wong culik (kenek). Ketiga, Madura terkenal karena rakyat yang taat pada agama, dan terakhir, kerumitan struktur sosial Madura mencerminkan masyarakat Indonesia yang lain (hlm. 31-33).
Apa yang dituturkan Kunto, De Jonge, dan Latief tentu menarik karena menyajikan data-data dan analisis sejarah yang cukup kaya. Dan apa yang dituturkan Helene mungkin juga banyak ditemukan ragamnya di Indonesia. Harga sebuah peradaban, setidaknya kalau memakai alat analisisnya Marcuse, sungguh mahal harga yang harus dibayar. Tetapi dengan kesenian, mereka mencoba mengambil kembali fantasi mereka sekaligus melupakan beban yang menindih mereka. Desantara / Ingwuri Handayani / http://www.desantara.org/
Tulisan bersambung:











