Dengan Kesenian Mengembalikan Fantasi Madura

Mengembalikan Fantasi Melalui Seni

Dera peradaban plus kondisi geografis yang terjadi di Madura ternyata memunculkan sisi-sisi lain yang tak terbayangkan oleh banyak orang. Stereotipe yang muncul, kekuasaan yang terus menerus membelenggu, membuat rakyat Madura memiliki cara sendiri utnuk bersiasat. Kerajaan, kolonialisme, telah membuat mereka selalu bertahan entah dengan cara yang ditunjukkan dengan berserikat sebagaimana ditulis oleh Kuntowijoyo atau melalui cara tak kasat melalui seni.

Membaca Madura mungkin memberi pengertian bahwa ada hal-hal tak terpikirkan yang ternyata menjadi sumber cara orang madura melakukan katarsis. Beberapa hasil ini review ini juga menunjukkan tentang individualisme yang distereotipekan orang tak sepenuhnya genap.

Kunto, misalnya, ia menuliskan tentang gerakan Syarekat Islam yang sempat memberi warna di sana. Kunto, sebagaimana dituturkan di bab kedua dari buku Agama, Kebudayaan dan Ekonomi, menunjukkan bagaimana orang Madura yang cukup sulit menjalin kontak sosial ternyata bisa dimobilisasi saat dibentuk Syarekat Islam terutama di tahun 1912-1920.

Dalam pandangan Kunto, ada beberapa alasan Syarekat Islam berkembang di Madura. Pertama, Madura merupakan satu diantara banyak tempat di mana penetrasi kapitalis pada abad kesembilan belas telah mempengaruhi kehidupan rakyat sehari-hari. Misalnya, akibat penyewaan yang dilakukan oleh aparat (apanege) kepada orang China membuat kesengsaraan luar biasa.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.