Orkes Okol, Musik Pengiring Lomba Merpati

Sebetulnya, di Rubaru terdapat satu orkes khas yang dapat dianggap sebagai sejenis gamelan dari kayu dan bambu. Orkes itu terdiri dari instrumen yang berperan sama seperti instrumen gamelan metalofon dan disebut ghalundhang atau ghelundhang. Instrumen itu dianggap kuno dan kini jarang digunakan. tentang orkes itu, Munardi dkk. (1983: 32) mencatat:

Pada prinsipnya gelundhang merupakan perangkat gamelan juga, hanya bahan instrumennya bukan logam, melainkan hampir seluruhnya terbuat dari kayu dan bambu. Bilah-bilah ataupun pencon digantikan dengan bilah-bilah kayu. Jadi, serupa dengan kolintang. Untuk kendangnya dibuat alat berupa kentongan, yaitu batang kayu yang pendek diberi rongga dan mulut pada sisinya. Alat itu dinamakan dhuk-dhuk atau thuk-thuk.

Alat-alat orkes Okol

Sebagai gongnya dipergunakan ruas bambu yang besar (bumbung), yang ke dalamnya dimasukkan bambu yang kecil? Dengan meniup bambu yang kecil, bumbung itu menghasilkan bunyi rendah yang berfungsi sebagai gong. Di Jawa alat semacam ini disebut “gong bumbung”.

Pasangan Brandts Buys-van Zijp (1928: 50-55) memerikan juga sejenis xylofon “primitif” yang disebut ghâloendhâng. Suatu komposisi repertoar rombongan Sapo’ Alam, yang dimainkan khusus pada kesempatan pertarungan ojhung, disebut Ghalandangan. Akhirnya, pada upacara ritual nyadhar, yang diadakan dua kali setahun di makam keramat Asta Kubang di Saronggi dan di Kalianget, digunakan satu “orkes alam” (klèningan alam).

Apabila orkes okol itu hendak ditempatkan di dalam konteks luas sejarah instrumen dan orkes Madura, sangat mungkin perangkat itu sekeluarga gamelan kayu itu, dengan susunan yang berbeda-beda, tetapi yang selalu dikembangkan dari suatu unsur dasar: yaitu, untuk garis melodis, sebuah xylofon (yang memberikan namanya kepada orkesnya, berdasarkan data-data pasangan Brandts Buys-van Zijp), serta berbagai kentongan yang memberikan struktur ritmis (sebagai ghendhang) dan “sintaktis” (sebagai gong).

Suatu komposisi seperti Ba’-omba’, yang tidak dimainkan pada acara ojhung, tetapi yang termasuk dalam repertoar Sapo’ Alam, memanfaatkan kemampuan instrumental ghambhang dengan lebih baik dibandingkan komposisi yang dimainkan pada acara ojhung, sambil memiliki juga kekuatan ritmenya. Mungkin saja komposisi itu tidak termasuk dalam repertoar gamelan kayu, yang lebih canggih daripada repertoar orkes-orkes okol yang ada sekarang, tetapi yang diciptakan untukinstrumen yang sama.

Apakah orkes yang ada sekarang merupakan “sisa” dari orkes gamelan kayu yang dahulu terdiri dari lebih banyak instrumen, ataukah merupakan suatu cabang khusus, terbatas tetapi fungsional (karena potensi ritmisnya) yang hanya digunakan sebagai pengiring acara pertarungan manusia atau perlombaan burung? Bahan-bahan yang dipakai, penggunaan kehadiran kentongan, serta penggunaan musik itu sebagai pengiring upacara ritual yang berhubungan dengan air memperkuat lagi hipotesis asal-usulnya yang sangat kuno.

Terakhir, patut dipertanyakan apakah kemiripan istilah okol dan pokol (di beberapa desa di sekitar Kolpo’ istilah pokol dipakai untuk ojhung) dapat dianggap sebagai tanda yang relevan mengenai asal-usul orkes itu? Di dalam bahasa Madura istilah pokol berarti “memukul” dan pada umumnya mengacu pada pukulan dari atau yang ditujukan pada seseorang.

Di dalam hal memukul atau membunyikan instrumen musik, istilah yang lebih lazim digunakan adalah atabbhu (misalnya untuk orkes gamelan). Penyamaan istilah antara kedua jenis pukulan, yaitu pukulan pada alat musik dan pada tubuh manusia, seperti yang dapat disimpulkan adanya istilah okol dan pokol, biasanya tidak dilakukan. Lagi pula istilah okol digunakan baik untuk menyebut orkes yang diperikan di atas maupun untuk menyebut sejenis gulat. Dengan demikian, orkes itu masih menunjukkan tanda asal penciptaannya serta tujuan awalnya: yaitu mengiringi perang tanding di mana kedua jago bertarung dengan sebatang rotan atau bergulat.

Dapat disimpulkan bahwa mungkin orkes okol sekarang merupakan elemen dasar dari gamelan kayu yang lebih canggih yang telah mengkhususkan diri dalam iringan ojhung di samping dalam iringan acara lain seperti lomba burung merpati

*****

Tulisan ini diangkat dari buku Lèbur, Seni Musik dan Pertunjukan dalam Masyarakat Madura”, Penulis: Hélène Bouvier, Yayasan Obor Indonesia (2002)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.