Menikmati Alam Keindahan Madura dari Atas

Pantai Gili Labek dari atas (foto: berangan.com)

Selama ini saya mengira bahwa pulau Madura itu gersang, tandus, berbatu, sehingga sulit ditanami apa saja. Penduduknya terlalu padat, sehingga menjadikan sebagian mereka migrasi ke luar. Karena itulah orang-orang madura ada di mana-mana. Umumnya mereka bertani, nelayan, dan berdagang hingga menguasai pasar di berbagai kota. Mereka meninggalkan pulau tanah asalnya, karena tidak mungkin bisa hidup makmur di tanah kelahirannya.

Anggapan saya tersebut ternyata tidak seluruhnya benar. Saya mengenal Madura, setelah beberapa kali datang ke beberapa kota, mulai dari Bangkalan, Sampang, Pamekasan, dan Sumenep. Saya biasanya ke Madura dengan kendaraan darat, sehingga yang saya lihat, keadaan di sekitar jalan besar yang menghubungkan kota-kota yang saya singgahi itu. Selama ini saya belum pernah,——kecuali beberapa, singgah ke kota-kota kecil setingkat kecamatan, sehingga tidak banyak tahu sampai ke sana. Saya hanya tahu di sekitar kota dan belum sampai masuk ke pedalaman.

Saya mengenal Madura sejak awal tahun 1980, mengikuti kegiatan pengembangan madrasah, bertugas sebagai petugas lapangan dalam penelitian pengembangan madrasah bekerjasama dengan Unicef. Selain penelitian, juga memberikan bantuan untuk menambah sarana pendidikan yang dibutuhkan oleh madrasah. Orang Madura saya kenal, sangat menyukai masjid, pondok pesantren dan begitu pula madrasah.

Begitu cinta terhadap masjid, pesantren dan madrasah, jika mereka dibantu untuk pembangunan fasilitas pendidikan, sekalipun tidak diawasi pelaksnaan pembangunannya, hasilnya selalu berlebih. Katakan jika pembangunan gedung madrasah untuk ukuran tertentu, misalnya menurut tafsiran memerlukan dana 50 juta, maka jika mereka diberi dana sebesar itu dan disuruh mengerjakan sendiri, maka hasilnya akan jauh lebih besar dari target itu. Tatkala mendapatkan sumbangan, mereka akan mengembangkan sendiri, melalui berbagai cara yang mereka bisa lakukan. Mereka tidak mau main-main dengan masjid, madrasah dan pondok pesantren. Inilah sedikit pengalaman saya dalam kegiatan pengembangan pendidikan di beberapa kabupaten itu.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.