Madura Untuk Indonesia

Jembatan Suramadu

 D. Zawawi Imron

jembatan-suramadura-malam-hari
Keindahan Jembatan Suramadua malam hari

Berbicara tentang Madura bagi saya ada gampang tapi ada sulitnya- Madura menjadi gampang alias gampangan, jika saya berbicara Madura dengan hanya bermodalkan domisili, karena saya tinggal di Madura, tapi tidak bisa melihat Madura secara jernih apalagi bisa mereguk madunya Madura, karena mata saya lebih tertarik kepada tayangan-tayangan global, baik sinetron asing maupun dalam negeri, iklan-iklan cantik yang mempesona dan moralitas baru yang sebagian mungkin merugikan bagi tradisi kemaduraan. Ketika dunia ini saya pandang kecil, maka Madura menjadi semakin kecil, sehingga Madura bisa saya anggap sebutir debu. Karena Madura hanya sebutir debu, begitu gampangnya saya merumuskan Madura, sehingga memberi kesimpulan yang salah pun saya merasa tidak berdosa. Pandangan seperti itu bisa teijadi karena saya awam, atau saya seorang cerdik pandai tapi yang suka ngawur.

Tetapi, alangkah sulitnya saya berbicara tentang Madura ketika Madura saya anggap sebagai sesuatu yang besar. Alasannya antara lain, budayawan Ikranagara yang lahir di Negara, Bali — dengan ayah dan ibu dari Talango, pulau Poteran — ketika pada tabun 1982 datang berkeliling Madura, ia berkata, bahwa Madura bukan pulau tetapi “benua”. Kenapa benua? Pulau Madura memang kecil, tetapi khazanah budaya yang terdapat di pulau ini sangatlah kaya, mulai dari irama “Durengnget” dari Gegger Bangkalan, “Asta Madeggan” di Sampang, “Topeng Gertak” Pamekasan, ukiran Karduluk dan Sumenep, sampai pesta potong padi “Pangkak” di pulau Kangean. Warisan budaya yang lain tak mampu saya sebutkan.

Etos bahari wan yang yang sering terlukis pada adagium abantal omba’ asapo’ angen, yang menunjukkan vilalitas perjuangan hidup yang penuh energi menghadapi tantangan gelombang kehidupan, bisa dibuktikan secara konkrit dengan banyaknya bentuk- bentuk kreasi budaya orang Madura. Sulaiman BA, pernah meneliti ragam dan hias perahu Madura, ditemukan 32 jenis perahu, dan 2 bentuk yang saat itu telah punah. Sekarang ragam bentuk-bentuk perahu itu sudah tinggal sedikit, tanpa seorangpun generasi sesudah Sulaiman sempat menelitinya lebih dalam. Padahal Sulaiman sendiri menyatakan, bahwa penelitiannya masih dalam tahap permukaan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.