
Arafah Pramasto Sastrosubroto, S.Pd & Sapta Anugrah Ginting, S.Pd
Terpecahnya keluarga bangsawan Sumenep tersebut menyebabkan dua keluarga berseteru secara terbatas dalam perpolitikan. Keturunan Arya Bangah cukup terbilang. patuh dan minim konflik melawan pemerintah yang membawahinya. Arya Wiraraja (saudara Arya Bangah) meski berhasil membuktikan kecerdasannya sebagai politisi pada era berakhirnya Kerajaan Singasari hingga Ikut berperan pada berdirinya Kerajaan Majapahit, nyatanya tidak dapat mengelakkan nasib keturunannya (Rangga Lawe dan Nambi) yang dibunuh pada masa kekuasaan Jayanegara (pengganti Raden Wijaya).Setidaknya dengan pemindahan Rangga Lawe ke Tuban dan kemudian berkuasanya Arya Wiraraja atas Lamajang Tigang Juru sehingga harus berpindah tempat kekuasaan ke Lumajang, spontan telah meninggalkan otoritas kekuasaan ada Arya Bangah yang dilanjutkan oleh para keturunannya.
Perlu digaris bawahi tampak di sini terjadi pergeseran pusat peradaban Madura yang sebelumnya dalam kisah Raden Segara berada di seputaran Gunung Gegger serta Nepa di barat Madura dan pindah ke timur di Sumenep. Meski demikian di Sampang sempat ditemukan beberapa Candra Sengkala yang memuat keberadaan komunitas keagamaan akan diperjelas dalam bagian selanjutnya.
Dikisahkan bahwa Pangeran Baragung dengan nama aslinya yakni Pangeran Nataningrat yang berkuasa di Sumber Agung mempunyai anak perempuan bernama Endangkilangen. Bramakanda adalah suami Endangkllangen. yang memiliki anak laki-laki bernama Wagung Rukyat. Setelah Wagung Rukyat mendirikan keraton dan memindahkan kekuasaannya ke Banasare, la bergelar Pangeran Saccadiningrat L. Saccadiningrat I mempunyal seorang anak perempuan yang digambarkan memiliki kecantikan menawan pada masanya dari hasil pernikahannya dengan Dewi Sarine/ Dewi Sarini anak Pangeran Bu-Kabu. Putri Saccadiningrat.
Itu bernama Saini, wajahnya yang elok dengan kulit kuning langsat membuatnya mendapat panggilan “Pottre Koneng (Putri Kuning), sebuah julukan yang mengandung pujian. Perkawinan ini-antara Saccadiningrat I keturunan Baragung dan Dewi Sarine sebagai keturunan Bu-Kabu merupakan perkawinan politik yang menyatukan kembali Sumenep (Ma’arif, 2015: 57), Pangeran Saccadiningrat ] menyatukan kembali perpecahan itu di bawah kekuasaannya dan Pottre Koneng adalah hasil dari persatuan tersebut.
Makna perkawinan politik memang sangat luas. Bahkan, pada masa kini, dl saat kondisi perpolitikan menunjukkan kecenderungan bagi para elite untuk kian memperkokoh posisi dan hegemoni politiknya, tidak heran indikasi kekhawatiran akan meluasnya ‘politik krant’ juga Ikut memenuhi dunia penulisan. ‘Perkawinan politik’ menurut Suhartono W. Pranoto (2008: 19) juga termasuk-bisa terjadi-antara kawula (rakyat jelata) yang memiliki kelebihan (achievement) dengan putri raja atau bangsawan. Namun, lumrahnya ditemui perkawinan politik pada masa kerajaan terjadi sesama keluarga bangsawan, walaupun mereka bermusuhan.
Tujuannya ialah untuk mendapat keuntungan politis maupun bisa saja meredam perseteruan yang terjadi. Aspek maslahat bisa ditemukan dalam perkawinan jenis ini (antar-keluarga bangsawan yang bermusuhan). Setidaknya dengan itu maka rakyat akan terselamatkan. Apabila perseteruan di antara dua keluarga bangsawan sampai meletus maka pengerahan kekuatan militer memerlukan sumber daya manusia yang banyak dan hal tersebut bisa terpenuhi dengan memakai para kawula, selain itu korban utama yang paling berat menerima konsekuensi dalam perang masa itu adalah rakyat kebanyakan.
Meskipun terlahir dari keluarga bangsawan, tidak berarti bahwa segala masalah menjadi mudah bagi Potre Koneng. Kebangsawanan bukan hanya sebatas masalah ketinggian seseorang di tengah masyarakatnya, tidak juga gelar ini bisa menjadi jalan keluar untuk segala permasalahan dan kebutuhan. Ternyata predikat untuk segelintir orang yang menjadi elite masyarakat tertentu ikut berpengaruh dalam terbentuknya nilai-nilai kalangan tersebut yang kadang justru menyimbolkan kekhususan dibandingkan dengan masyarakat umum dan ini ditemukan dalam kehidupan Potre Koneng.
Dikisahkan Potre Koneng dicintai oleh seseorang yang juga berasal dari kalangan bangsawan. Orang itu adalah Pangeran Bribin yang dikenal dengan nama Adi Poday. Ayah dari Adi Poday bernama Panembahan Blingi yang bergelar Arya Pulangjiwo dan juga memiliki gelar ‘Kyai Pandita Rato’ di Pulau Sapudi (Madra: Poday). Sama seperti Adi Poday, Potre Koneng turut menyimpan rasa suka kepadanya.
Kedua orang ini memiliki kegemaran yang sama, yaitu bertapa. Biarpun berasal dari kelas bangsawan dan mempunyai kegemaran yang sama, tetapi hubungan keduanya tidak berjalan lancar. Pangeran Saccadiningrat I tidak menyetujui hubungan keduanya dan bahkan istri penguasa Sumenep itu juga sependapat dengan suaminya untuk menolak hubungan anak mereka dengan Adi Poday.
Penyebab ketidaksetujuan Saccadiningrat untuk memberi restu pada hubungan anaknya telah berdampak jauh hingga beberapa generasi selanjutnya, contohnya pada masa kini ditemukan dalam banyak penulisan sejarah Madura tentang “perkawinan batin” Potre Koneng-Adi Poday yang menghasilkan seorang putra. Tampaknya dalam penulisan sejarah tradisional telah dimasukkan unsur “penghalusan” tentang kisah keduanya, contohnya adalah kepercayaan tentang “…suatu ketika Potre Koneng pergi ke Gunung Pajuddan (Sumenep) untuk bertapa, setelah tujuh hari tujuh malam tepat tanggal 14 bulan purnama la bermimpi bertemu seorang yang tak lain adalah Adi Poday dan melakukan hubungan badan dalam mimpi itu.” Imam Farisi (1993:80-81) menyimpulkan bahwa perkawinan Potre Koneng dengan Adi Poday sebenarnya tidak mendapat persetujuan ayahnya sebab Pulau Sapudi/Poday merupakan kerajaan bawahan Sumenep.
Sangat mungkin sekali Sapudi pernah mengalami permasalahan politik dengan Sumenep. Keadaan faktual yang bisa diterima adalah bahwa Adi Poday menikahi Potre Koneng secara diam-diam. Kegiatan bertapa yang disukai keduanya menjadi kesempatan untuk mereka saling bertemu.
Putra yang dilahirkan oleh Potre Koneng kemudian dititipkan pada seorang empu asal Desa Pakandangan bernama Kelleng (dipanggil Empo Kelleng). Kehamilan Potre Koneng disembunyikan sedemikian rupa dan hanya diketahui oleh pembantunya yang bernama Toya. Empo Kelleng dan istrinya telah lama tidak memiliki anak, mereka merasa sangat senang dengan dititipkannya anak itu. Mereka memberi nama ‘Joko Tole’ kepada putra Adi Poday itu.
Keduanya tidak tahu bahwa anak itu merupakan cucu Raja Sumenep. Keberadaan Joko Tole bukan hanya memberikan kebahagiaan saja, Joko Tole dikisahkan mempunyai tumbuh kembang fisik melebihi anak seusianya selain dari parasnya yang tampan. Beberapa tahun kemudian Joko Tole tumbuh sebagai anak yang cakap dan rajin serta mampu membantu pekerjaan Empo Kelleng sebagai pandai besi di samping kegiatan bertani untuk menghidupi keluarga.
Beberapa tahun setelahnya, Potre Koneng kembali melahirkan seorang anak laki-laki, berbeda dengan sebelumnya, menurut kepercayaan ia bertemu dalam alam mimpi dengan seorang lelaki paruh baya bernama Ki Pademawu yang juga telah lama tidak memiliki anak. Setelah melahirkan anak keduanya ini, dengan diam-diam Nyi Toya membawa anak itu keluar sesuai arahan Potre Koneng ia menuju ke arah pesisir selatan untuk mencari Ki Pademawu yang tengah menunggu di bawah pohon sukun. Setelah bertemu dengan Ki Pademawu, Nyi Toya merasa terkagum karena ternyata lelaki itu telah mengetahui bahwa dirinyalah yang tengah membawa anak dari Potre Koneng.
Ki Pademawu membawa pulang bayi itu, segera ia memberitahukan istrinya. Istri Ki Pademawu merasa sangat senang karena telah lama dirinya berusaha mencari anak untuk diadopsi, tetapi belum ada yang berkenan. Bayi yang konon sama tampannya dengan Joko Tole itu diberi nama Bana’ Wedi, kemudian orang Madura memanggilnya “Banyak Wedi”. Nama tersebut dapat diterjemah sebagai “Angsa” (Bhanyak) “Berilmu” (Wedi), atau “Angsa yang Berilmu”. Angsa adalah tunggangan atau wahana dari Dewa Brahma dalam ajaran Hindu. Kemungkinan Ki Pademawu adalah seorang agamawan terpandang di tempatnya.
Ketika telah beranjak dewasa, Joko Tole ketika itu hidup pada masa Raja Majapahit yang bernama “Prabu Brawijaya” yang diidentifikasi sebagai Raja Wikramawardhana.” Suatu ketika banyak dikisahkan sebagai salah satu cerita rakyat nusantara bahwa Joko Tole berperan dalam memperbaiki pintu gerbang keraton Majapahit. Kisah ini penting untuk diketahui karena Joko Tole cukup dikenal dalam ranah cerita cerita tradisional hingga pada tataran kajian historis.
Berikut ini kita perlu menyimak bagaimana kisah Joko Tole dalam bentuk cerita rakyat nusantara:
“Pintu gerbang Kerajaan Majapahit dahulu dikisahkan rusak karena usianya yang sudah tua dan terkena gempa bumi. Sang raja bermaksud memperbaikinya agar kuat dan tampak mewah seperti awal didirikan pada masa Raden Wijaya.
Berbagai tukang dan empu dikumpulkan untuk memperbaiki gerbang itu. Namun, setiap selesai mengerjakan, gerbang tersebut selalu runtuh berantakan. Kejadian ini terulang selama tiga kali.
Suatu hari satu empu pembuat gerbang itu bersemedi meminta petunjuk. Ia seorang empu yang sakti dari daerah Madura. Setelah beberapa hari bersemedi, ia mendapatkan petunjuk bahwa yang bisa menegakkan gerbang itu adalah cucunya sendiri, Joko Tole, yang berada di Madura.
Kemudian empu meminta izin kepada raja untuk memanggil Joko Tole ke Majapahit….” (Sambangsari, 2008: 176).











