Hermeneutika Cangkolang dalam Proses Pendidikan Berbasis Moral

Netralitas yang disanjung-sanjung dalam dunia ilmu justru menyingkirkan moralitas dalam perjalanan sejarahnya. Dampak negatif yang terlihat dalam sejarah ilmu pengetahuan telah membuat banyak orang miris. Dorongan kepentingan material yang masuk ke dalam proses pengembangan ilmu dan pendidikan semakin memperparah situasi.

Moralitas semakin tergadai dan tidak dipentingkan lagi keberadaannya. Para ilmuwan menjadi sosok yang hanya cerdas secara intelektual, tapi idiot secara moral, apalagi spritual. Calon-calon ilmuwan pun cenderung dididik hanya secara intelektual dan prestasi diukur dengan hasil temuan semata.6

Efek domino dari pandangan tersebut di atas adalah “kematian guru”. Guru sebagai ilmuwan tak lagi diperhitungkan sebagai figur rujukan moral. Pandangan tradisional tentang guru sebagai poros moral masyarakat telah bergeser.7

Guru dipandang tak lebih dari sekedar media atau alat untuk transfer dan pengembangan kemampuan perserta didik. Guru hanya dilihat sebagai profesi biasa, tak berbeda dengan profesi apapun, seperti akuntan, advokat, pilot, bankir, bahkan pembantu rumah tangga. Tak ada lagi penghormatan atas jasanya. Karena penghormatan telah diganti dengan pemberian insentif material (materialisai penghargaan).

Karena itu, ia tidak akan dihormati masyarakat jika tidak elit secara ekonomis. Karena penghormatan atas seseorang tidak bisa dilepaskan dari posisi sosial-ekonominya. Maka tidak aneh kalau seorang bankir atau advokat lebih dihormati sekalipun korup. Dengan ini, masyarakat memang tidak membunuh guru secara klinis atau biologis, tapi telah membunuhnya secara etis.

xx

Moralitas dan ilmu, guru-ilmuwan dan murid-calon-ilmuwan telah berjalan sendiri-sendiri. Bahkan guru dan murid telah memberangus moralitas dengan ilmu itu sendiri. Lembaga pendidikan menjelma menjadi pabrik untuk mencetak mesin-mesin pekerja berupa manusia robot.

Barangkali tidak salah jika ada orang mengatakan bahwa sebenarnya kita tidak semakin pintar. Karena manusia modern tidak selalu menjadi bijak dengan tambahan pengetahuan yang melebihi masyarakat tradisional. Tapi dengan segala kekurangannya di banding pengetahuan modern, masyarakat tradisional, bahkan primitif sekalipun, telah menghasilkan orang-orang bijak dan mengajarkan kebijaksanaan dengan moralitas tinggi dalam proses pendidikan. Dalam setiap kawasan ajaran-ajaran bijak yang dididikkan turun temurn selalu ada, tanpa kecuali masyarakat Madura yang sampai saat ini masih tergolong tertinggal dari banyak kawasan lain. Bahkan dinilai menyandang predikat bodoh, kasar dan miskin.8

Tulisan bersambung:

  1. Hermeneutika Cangkolang dalam Proses Pendidikan Berbasis Moral, baca:
  2. Cangkolang: dari Moralitas Magis, baca:
  3. Cangkolang sebagai Titik Awal, baca:
  4. Keterangan Tulisan Tentang Cangkolang, baca:

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *