Ilmu Impersonal dan Kematian Guru
Yang dapat dilihat lebih lanjut dari dua pandangan dunia di atas adalah semangat kritisisme, liberasi dan produktivitas. Meragukan hal-hal yang dianggap benar, kebebasan dalam menganut, meyakini dan cara mencari kebenaran serta memanfaatkan pengetahuan untuk kepentingan produktif menjadi arus utama semangat belajar, disadari atau tidak. Semangat ini dengan serta merta mampu menyingkirkan semangat moralitas dalam pengertian pandangan tentang nilai baik-buruk Karena nilai dianggap cenderung subjektif.
Apalagi sains yang menjadi “imam” ilmu pengetahuan modern memandang dirinya tidak berhubungan dengan nilai, bebas nilai (value-free), hanya berhubungan dengan data-fakta, teori yang dibangun melalui metode ilmiah dan penerapan dalam bentuk teknologi. Yang terpenting terbukti secara ilmiah dan dapat diwujudkan dalam bentuk teknologi. Ilmu hanya berkutat pada teori dan konsep serta perancangan alat-alat teknologis, mendapat keuntungan material. Selesai! Urusan baik-buruk, termasuk dalam penggunaannya dipasrahkan pada masing-masing individu.
Dampak seterusnya adalah ilmu menjadi terlepas dari pemiliknya secara moral. Hubungan antara ilmu dan ilmuwan dalam hal tanggung jawab menjadi sesuatu yang asing dalam perbincangan. Orang juga tak merasa perlu menghubungan moralitas pribadi sang ilmuwan dengan teori atau temuan yang diperoleh. Sang ilmuwan juga tak merasa perlu memperbaiki moralitasnya terkait dengan kapasitas dirinya sebagai figur ilmuwan.
Ilmu menjadi impersonal, sebatas konsep, teori dan hasil dalam bentuk teknologi, tanpa perlu dikaitkan dengan subjek. Yang perlu dilihat hanya kebenarannya melalui pembuktian ilmiah. Hanya tinggal hubungan ekonomis dalam bentuk penghargaan dan pendapatan material yang tersisa. Lebih jauh Habermas menyebut fenomena ini sebagai keterlepasan ilmu dari praxis sosial dengan tidak memerdulikan nilai-nilai kebajikan dalam kehidupan. Ilmu telah mengalami kematian spirit kebijaksanaan yang menjadi akar kemunculannya.5









