Hermeneutika Cangkolang dalam Proses Pendidikan Berbasis Moral

Salah satu pandangan yang cukup berpengaruh dalam proses pendidikan kontemporer adalah pandangan tentang kebenaran dan metode yang handal untuk mencapainya serta tujuan pengetahuan itu sendiri. Jika dirujuk ke akar-akarnya, pendidikan masyarakat modern banyak dipengaruhi skeptisisme metodis Cartesian dan pragmatisme Baconian.

Skeptisisme metodis yang disebut Descartes (1596-1650) “metode kesangsian” (le doute methodique) adalah cara memperoleh kebenaran dalam pengetahuan yang bertujuan menemukan “kepastian dasariah dan kebenaran yang kokoh” (fundamentum certum et inconcussum veritatis).

Metode itu mengharuskan keraguan atas segala hal. Tak ada pengetahuan yang begitu saja bisa diterima tanpa dipertanyakan dan diuji.2 Karena itu suatu otoritas religius seperti wahyu atau kitab suci dan sabda nabi juga harus diragukan dan dipertanyakan. Pada akhirnya pembuktian yang paling dianggap handal adalah metode ilmiah (scientific method).3

Selain itu, pandangan pragmatisme yang membawa semangat dari pandangan Francis Bacon (1561-1626) adalah bahwa ilmu harus digunakan untuk menguasai alam, bukan sekedar untuk memenuhi kebutuhan intelektual. Asas tujuannya adalah eksplorasi semaksimal mungkin yang tercermin dalam jargonnya “pengetahuan adalah kuasa” (knowledge is power).

Semangat yang tertanam dalam pencarian ilmu adalah fungsionalisasi untuk menguasai alam. Yang menjadi perhatian utama adalah memahami dan mematuhi hukum-hukum alam untuk menguasainya. Dengan itu diharapkan manusia akan memasuki kehidupan serba sejahtera.4 Dengan pandangan dasar ini pendidikan lebih terarah pada keterampilan teknis dan ilmu-ilmu alam (natural sciences) menjadi ilmu idola. Metode yang digunakan bahkan dijadikan metode standar untuk ilmu-ilmu lain karena kehandalannya dalam pembuktian empiris atas fenomena alam.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *