Folklor dalam Pembentukan Kepribadian Masyarakat Madura

Mengacu pada konflik kekerasan yang terjadi di Madura, pelecehan harga diri memiliki arti yang sama dengan pelecehan kapasitas diri. Hal ini berkaitan dengan konsep malo yang dalam bahasa Indonesia berarti malu. Nilai harga diri dalam konsep malo ditanamkan pada anak melalui sosialisasi yang dilakukan oleh orang tua. Sosialisasi nilai dilakukan dengan berbagai cara yang berkaitan dengan pola pengasuhan anak, salah satunya, dengan pewarisan folklor berupa ungkapan rakyat.  Suatu ungkapan rakyat yang berbunyi, “ango’ poté tolang étémbhâng poté mata.”  berarti lebih baik mati daripada harus menanggung malu, memberi indikasi kuat mengenai konsep malo sebagai dasar praktek kekerasan orang Madura.

Selain itu, terdapat pula ungkapan rakyat yang berbunyi demikian, “lokana dhâghing bisa éjhâi’, lokana até tada’ tambhâna kajhâbhâna ngéro. Ungkapan rakyat ini berarti jika daging yang terluka masih bisa diobati atau dijahit, namun jika hati yang terluka tidak ada obatnya kecuali minum darah (mati). Masyarakat suku Madura percaya bahwa nama baik adalah suatu hal yang harus dipertahankan sebagai yang terutama.

Hal ini terlihat dari ungkapan rakyat berikut, Nyama sè saè panèka kodhu èsarè ghu-ongghu, kodhu eparlowagi panyarèèpon, lebbiyâgi parlo polè dâri panyareèèpon kasoghiyân.” yang berarti, nama baik (harga diri) harus diupayakan dengan sungguh-sungguh, lebih daripada harta benda. Pelecehan terhadap harga diri orang Madura menyebabkan legitimasi terhadap perilaku kekerasan dan pembunuhan terhadap orang yang dianggap telah melecehkan harga diri yang bersangkutan. Pokok nilai-nilai budaya/kerangka moralitas orang Madura terlihat dari ungkapan rakyat berikut, “Sèkebbhâ orèng ana-bârna: kerrès, tombhâk, peddhâng, jhambhiyâ, lancor ajâm bân salaènna. Kep-sèkep sè kasebbut e attas jârèya kabbhi tada’ sè bisa ngongkolè so kep-sèkep sè esebbuttaghi è bâbâ rèya:

  1. Tello’ parkara areya kodhu ejâgâ: jhila, adât, kalakowan.
  2. Tello’ parkara reya kodhu ekaandi’: atè socca (esto), atè soccè, jhujh
  3. Tello’ parkara reya kodhu ekabajhi’i: mangghâ’ân, nespa, ta’andi’panarè
  4. Tello’ parkara reya kodhu èengguna: saroju’, kabunga’anna atè, kasennengnganna atè.
  5. Tello’ parkara reya kodhu èpeyara (èomesse): bakto (bâjâ), pèssè, kabârâsâ
  6. Tello’ parkara reya kodhu èhormatè (èajhi’i): omor, uwet (dhang-ondhang), aghâma.”

Pengertian ungkapan rakyat di atas, dalam bahasa Indonesia adalah sebagai berikut, Manusia mempunyai senjata bermacam-macam, keris, tombak, pedang, jembia, celurit dan lain-lain. Senjata-senjata itu semua kegunaannya di dalam kehidupan tidak akan bisa melebihi pegangan yang tersebut di bawah ini:

  1. Tiga hal yang harus dijaga: lidah, adat dan pekerjaan.
  2. Tiga hal yang harus dipunyai: hati yang setia (persahabatan), nurani yang suci dan hati yang jujur.
  3. Tiga hal yang harus dijauhi: tega hati (aniaja), rendah diri (bukan rendah hati) dan tidak bisa menerima kenyataan hidup.
  4. Tiga hal yang harus ditempati: menjunjung tinggi musyawarah, kebahagiaan hati dan kesenangan (ketenangan) hati.
  5. Tiga hal yang harus dipelihara: waktu, uang dan kesehatan.
  6. Tiga hal yang harus dihormati: umur, undang-undang dan agama.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.