Pemuda kelahiran 1992 ini menjelaskan bahwa di kampung halamannya memang banyak yang menjual sate. Menurut dia, orang Madura bisa diidentikkan dengan penjual sate.
“Om saya di sana (Madura) juga sudah jual sate dari awal, tapi warung yang di kampung itu akhirnya dilepas buat anaknya dan om saya akhirnya buka cabang ke Jakarta. Jadi yang di kampung sudah ada yang jagain,” ujar dia.
Lelaki yang suka dengan sepak bola ini menjelaskan bahwa orang Madura memang kurang begitu suka dengan sayur dan lebih senang dengan daging layaknya orang Padang. Hal inilah yang menurut dia kenapa banyak orang Madura menjadi penjual sate.
[junkie-alert style=”yellow”] “Mungkin karena kita suka daging jadi banyak yang jualan sate. Tapi kalau profesi lain paling belok-beloknya jadi tukang besi tua atau tukang kayu. Nah kalau dari keluarga saya memang banyak juga yang jual sate Madura,” ucap lelaki yang suka dengan klub Manchester City ini. [/junkie-alert]
Baresi juga menyadari banyaknya pedagang sate Madura di Jakarta. Bahkan, beberapa warung sate Madura lainnya juga tidak terlalu jauh dan hanya berjarak ratusan meter dari warung sate milik pamannya itu.
Namun, meski begitu dia mengatakan hubungan dengan sesama penjual sate Madura lainnya tidak pernah ada masalah dan baginya rezeki sudah ada yang mengatur.
“Hubungan sih aman-aman saja, iya layaknya setiap orang pastikan tidak mau dicolek, dan itu sama dengan orang Madura yang tidak mau dicolek. Asal enak-enak saja jalanin usaha dan tidak merugikan satu sama lainnya tidak masalah,” ucap Baresi. “Kita tidak saling iri karena rezeki sudah di tangan Tuhan.”
Baresi juga menjelaskan memang ada paguyuban penjual sate Madura. Namun, dia tidak tahu apakah pamannya itu turut ikut dalam suatu paguyuban pedagang sate Madura.
Sementara itu, dia mengatakan duka yang dia rasakan selama kurang lebih lima tahun berjualan sate di Jakarta adalah ketika hujan lebat mengguyur. Ini lantaran pembeli yang datang bakalan sepi.
“Nah kalau untuk masalah pungutan, iya memang biasanya setiap tempat pasti ada yang megang. Tetapi memang pungutan itu tidak setiap hari, paling dia juga minta Rp 10 ribu kalau ada perlu saja, dan saya nanti tinggal bilang ke om kalau ada iuran. Om saya paling bilang iya sudah tidak apa-apa ikutin saja kita harus sadar bahwa kita kan numpang di sini,” ujar Baresi sambil melepas tawa.











