Antar Lelaki Madura dan Carok

Antar Lelaki Madura dan Carok Etnis Madura memandang fungsi perkawinan bukan sekedar penyalur kebutuhan ekonomi, afeksi, seksual, perlindungan, dan penentu status anak. Seorang lelaki Madura baru akan menentukan eksistensinya bila telah berkeluarga. Salah satu responden carok berkata : ” Saya menikah di hadapan penghulu, disaksikan banyak orang, dan memenuhi urusan agama. Jadi barangsiapa mengganggu istri saya, berarti melecehkan agama dan menginjak-injak kepala saya “

Istri adalah perwujudan kehormatan kaum laki-laki karena merupakan Bhentalla pateh (alas kematian) . Menggangu istri merupakan bentuk pelecehan paling menyakitkan bagi kaum laki-laki Madura. Kasus perselingkuhan (Yang dapat berujung dengan Carok) justru mudah terjadi di Madura. Karena perempuan tradisional madura sudah sejak kecil dijodohkan oleh orang tua mereka. Tak aneh, ada istri yang menyeleweng dengan bekas lelaki idamannya tatkala suami merantau ke negara lain.

Tertanamnya kata carok di benak setiap lelaki madura juga didukung oleh banyaknya ungkapan yang “Memberikan persetujuan sosial” dan “Pembenaran kultural” untuk berangkat carok.

Selain mon ta’ bengal acarok je’ ngako oreng Madureh (kalau takut duel satu lawan satu jangan ngaku orang madura), masih ada lagi ungkapan Oreng lake’ mate acarok, Oreng bine’ mate arembi’ (laki-laki mati karena carok, permpuan mati karena persalinan), atau ango’an poteya tolang etembeng poteya mata (lebih baik mati daripada menanggung malu). Carok sebagai manifestasi dan realitas sosial seolah telah diterima sebagai kesepakatan umum.

Lebih dari itu, pelaku carok yang berhasil menewaskan lawan tidak disebut pembunuh, melainkan Blater (Jagoan), terutama jika dilakukan secara ksatria berhadapan satu-satu dan sama-sama bersenjata, Bukan menikam musuh dari belakang (Madura : Nyelep). Di zaman sebelum kemerdekaan, carok banyak dilakukan secara ksatria. Namun semenjak dekade 1980, carok lebih banyak dilakukan secara Nyelep (dari belakang).

Di Madura, seorang lelaki Tako’an ( penakut ) akan di ledek sebagai manusia yang tidak memiliki empedu. Kaum perempuan pun biasanya menyindir Tako’an ungkapan. ” Sayang sekali aku perempuan, andai memiliki Zakar sebesar cabai rawit saja, aku pasti melakukan carok saja.” Di Pamekasan (Madura Timur). Tako’an dijuluki Odi’ ka Colo’, Sementara di Bangkalan dan Sampang (Madura Barat) di juluki Olle Petta. Makna kedua julukan itu sama : orang banyak bicara, suka mengumpat, dan memaki, tetapi pengecut

Carok berkembang menjadi arena reproduksi kekerasan, yang mencatuskan spiral kekerasan baru (carok turunan). Ia diturunkan dari generasi ke generasi melalui sosialisai atau kegiatan ritual. Darah yang belepotan di celurit yang habis dipakai untuk carok Misalnya, akan dijilati pemiliknya bila memenangi pertarungan. Ini manifestasi ungkapan Lokanah daging bisa ejei’, Lokanah ateh tadhe’ tambanah kajabbah ngero dhere ( Luka badan masih bisa di jahit, tapi sakit hati tiada terapinya kecuali minum darah).

Dokter dan paramedis biasanya tidak memberi bius saat membedah atau menjahit pelaku carok. Pengobatana serampangan itu dikerjakan agar pelaku carok jera dan bertobat. Namun, kenyataannya bekas luka yang tampak menonjol karena jahitan kasar itu malah membuat senang pelaku carok. Mereka dengan bangga mempertontonnya dihadapan umum. Korban caro yang meninggal, terutama Blater (Jagoan), tidak dikubur di pemakaman umum, melainkan di halaman rumah. Pakaian yang berlumuran darah disimpan di lemari khusus agar pengalaman traumatis terus bersemayam di hati anak-cucu.

Tak heran pelaku carok yang selesai menjalani hukuman penjara biasanya sudah dihadang dan langsung dibantai di jalanan swebelum menginjakkan kaki di rumah. Biasanya seseorang memilih sasaran yang dianggap kuat secara fisik maupun ekonomi sehingga keluarga musuhnya itu kelak tidak punya kekuatan lagi ( baik secara fisik atau ekonomi ) untuk meneruskan spiral balas dendam. Sebab sumber daya yang dimiliki musuhnya sudah di habisi terlebih dahulu.

Carok oleh sebagian pelakunya juga dipandang sebagai alat untuk meraih status sosial dikalangan Blater (jagoan), sekaligus sebagai media inisiasi untuk seorang bandit sebelum memasuki komunitas Blater. Blater inilah identik dengan perampokan, pembunuhan, Remo, Sandur , judi sabung ayam, dan kerapan sapi. Kultur Blater dengan unsur-unsur religio-magis, kekebalan, bela diri, kekerasan, dunia hitam, poligami, dan sangat menjunjung tinggi harga diri.

Blater, Kendati bergelimang kriminalitas, memiliki peran  sentral sebagai pemimpin informal di pedesaan. Bahkan banyak juga diantara mereka yang menjadi kepala desa. Tentu saja, masyarakat cenderung takut, bukan menaruh hormat, kepada kepala desa bekas Blater itu,

Mengingat asal usulnya yang kelam. Apalagi kebanyakan Blater tidak pernah mengenyam pendidikan formal, meski beberapa diantara mereka dikenang dalam sejarah. Blater bernama Butil, contohnya, terkenal sebagai pembunuh berdarah dingin saat disewa mengobarkan revolusi sosial di Kota Tegal, Pemalang, dan Pekalongan (1945- 1949).
Blater di Madura kerap dihubungkan dengan dua peristiwa dalam masyarakat, yakni pemilihan kepala desa dan Remo (Arisan kaum blater) merupakan institusi budaya pendukung dan pelestarian eksistensi carok.

Belakangan dikenal tiga persyaratan untuk mempersiapkan carok : Kadigdajan (latihan bela diri), Tamping sereng, (meminta jampi-jampi kekebalan supranatural), dan Bendheh (Kecukupan modal). Lelaki yang mencari kekebalan tubuh sebenarnya membuktikan, pelaku carok takut dengan bayang-bayang kematian. persiapan rumit itu membuat carok bukan lagi manifestasi kejantanan, keperkasaan, dan jiwa ksatria, sebagaimana carok di Madura.
Carok sulit diberantas karena secara kultural berurat-akar dalam tradisi.

Sumber : J. Sumardianta, PT. Gramedia Pustaka Utama, 2009, Jakarta; 
akses:  http://bagianjawatimur.blogspot.com/

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.