Tembang Sandur Madura

Sebuah peragaan Sandur Sumenep tempo dulu
Sebuah peragaan Sandur Sumenep tempo dulu

Sebagaimana seni tradisi Madura lainnya, Tradisi Sandur Madura menjadi bagian yang tak terpisahkan dari sebuah kebutuhan masyarakat Madura terhadap fenomena kesenian. Sandur juga sebagai ajang silaturrahmi antar warna dalam sebuah pertunjukan seni yang banyak mengajarkan nilai-nilai kebersamaan, ajaran serta hal-hal yang nantinya menjadi pegangan hidu bagi penikmatnya.

Gambaran ajaran-ajaran yang tersurat dapat diperhatikan dalam tembang Sandur dibawah ini:

Slanget
Senga’-senga’ anak potoh
Tadek maleng e kasogi
Mon dhulat bunga sakejje’

Mon palang etangkel oreng
Tak etemmoh babatangngah
Balanah posang asareh
Bheras maras sampek colgem
Mak colgem ekakan seset
Seset mera sampek celleng
Ma’ celleng polana ecokeb
Dingding kerrep sampek rang-rang
Ma’ rangrang polanah ejemmor

Dalam Bahasa Indonesia  :

Camkanlah wahai anak cucu
Tidak ada pencuri yang kaya raya
Kalaupun beruntung hanya sementara saja
Kalu akan sial di pukuli orang
Mati tidak ditemukan mayatnya
Keluarganya susah mencari
Beras padat berisi sampai cekung
Cekung karena dimakan capung
Capung merah sampai hitam
Hitam karena ditutup dalam kurungan
Dinding yang rapat sampai jarang
Jarang karena dijemur

Menyimak isi syair pada tembang tersebut ada beberapa pelajaran yang dapat diambil. Isi bait yang pertama adalah Unsur Pendidikan, pendidikan yang disampaikan kepada Masyarakat Madura kepada generasi penerusnya ini, berisikan penanaman budi pekerti sejak dini. Lantunan syair-syair dalam pementasan Kethoprak Sandur, merupakan suatu metode bagaimana cara mengajarkan kepada generasi penerusnya agar menjadi orang baik,bukan menjadi pencuri atau kontek yang lebih besar disebut “koruptor”.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.