Raja-raja Sumenep yang Berkuasa Masa Pra Islam

Wilayah Kekuasaan Kerajaan Sumenep

Menelusuri suatu batas-batas wilayah pada masa yang sangat tua, seperti batas-batas wilayah Kerajaan Sumenep pra-Islam, adalah suatu pekerjaan yang tidak mudah. Upaya awal untuk menelusuri batas-batas wilayah itu dapat dimulai dari tempat keraton suatu kerajaan didirikan. Keraton adalah pusat suatu kerajaan menjalankan roda pemerintahannya.  Di Sumenep, ada suatu pola yang menarik dari penempatan keraton kerajaan. Hampir setiap pergantian kepemimpinan di kerajaan Sumenep, penempatan keraton dipindah-pindahkan. Dari sana dapat dilacak wilayah-wilayah kekuasaan Kerajaan Sumenep. Berikut daftar nama raja dari Aria Wiraraja sampai Secodiningrat V dengan penempatan keratonnya:

NO NAMA TEMPAT KERATON
1. Ario Banyak Wide (Aria Wiraraja) Batu Putih
2. Ario Bangah Banasare
3. Aria Lembu Suranggana Danurwenda Aengnyeor (Tanjung)
4. Aria Asrapati Aengnyeor (Tanjung)
5. Panembahan Joharsari Aengnyeor (Tanjung)
6. Panembahan Mandharaka Keles
7. Pangeran Bukabu Notoprojo Bukabu
8. Pangeran Baragung Notoningrat Baragung
9. Raden Anggung Rawit (Secoadiningrat I) Banasare
10. Temenggung Gadjah Pramudo (Pang. Secodiningrat II) Banasare
11. Panembahan Blingi (Aria Pulang Djiwa) Blingi
12. Pangeran Adi Poday (Ario Baribin) Njamplong
13. Pangeran Jokotole (Pang. Secodiningrat III) Banasare (Lapataman)
14. Raden Aria Wegonando (Pang. Secodiningrat IV) Gapura
15. Pangeran Siding Puri (R. Aria Wonoboyo alias P. Secodiningrat V) Parsanga

Sejauh mana kekuasaan kerajaan Sumenep adalah pertanyaan mendasar untuk menjawab permasalahan pokok pada sub-bab ini. Dalam menjawab pertanyaan ini tentu tidak mudah, mengingat konsep yang dipakai oleh kerajaan-keraajan di Asia Tenggara pada abad kurun niaga (bahasa yang digunakan Anthony Reid) bukanlah konsep Barat yang mengenal batas-batas fisik. Heine-Geldern, dalam artikelnya yang berjudul “Conception of State and Kingship in Southeast Asia”, menyatakan bahwa pada masa tradisional, kerajaan-kerajaan di Asia Tenggara tidak dapat dipahami secara mutlak mengenai batasan-batasan wilayahnya.[1] Konsep yang digunakan oleh kerajaan-kerajaan pada masa itu adalah konsep Mandala.[2] Artinya, kekuasaan suatu kerajaan ditentukan oleh wibawa seorang raja dan upeti yang diberikan kepadanya. Kedua hal ini sejatinya perlu diperhatikan dalam membahas batas-batas wilayah suatu kerajaan pada masa kurun niaga. Namun, dalam kajian mengenai batas-batas wilayah Sumenep, yang merujuk pada dua hal itu, sampai sekarang masih sulit ditentukan.

Untuk itu, sebelum membahas lebih lanjut, agar lebih mudah memahami hal ini, perlu kiranya pemahaman mengenai Madura Barat dan Madura Timur. Meskipun tampak memaksa menentukan batas wilayah dengan suatu pembatasan fisik, namun setiap kali nama Madura disinggung dalam sastra Jawa, hampir selalu yang dimaksud adalah Madura Barat. Madura Timur disebut Sumenep. Dalam idiom-idiom bahasa di Madura Barat dan Madura Timur sampai abad ke-20 masih dapat dilihat adanya perbedaan.[1]

Bila yang dimaksud Madura Timur adalah wilayah kekuasaan Kerajaan Sumenep, kiranya perlu ada perbandingan dengan sejarah kerajaan di Pamekasan. Dengan perbandingan ini, apa yang dimaksud dengan Madura Timur dapat menjadi lebih jelas, karena Pamekasan seringkali disebut juga sebagai bagian dari wilayah Madura Timur. Kemunculan sejarah pemerintahan lokal di Pamekasan yang sangat tua lebih sulit ditemukan, karena bukti-bukti tertulis yang bercerita tentang adanya suatu kerajaan di Pamekasan baru diperkirakan muncul pada abad ke-15. Nama yang sering disebut adalah Aria Menak Senoyo. Sementara sebelum abad ke-15, tidak ada cerita yang mengisahkan bahwa ada suatu kerajaan yang berpusat di wilayah Pamekasan.

________________

7 Kobkua Suwannathat, Asia Tenggara Hubungan Tradisional Serantau, Kuala Lumpur: Dewan Bahasa dan Pustaka, 2003, hal. 31-32.
8 Mandala berarti bulatan. Dalam konsep kekuasaan, Mandala diartikan sebagai bulatan raja-raja. Konsep ini diambil dari konsep politik-kosmologi Hindu-Budha. Raja-raja kecil terikat oleh raja besar. Kedudukan raja sebagai unsur penting dalam suatu kekuasaan.
9 H.J. De Graaf dan TH. Pigeaud, Kerajaan Mataram Islam Pertama di Jawa Tinjauan Sejarah Politik Abad XV dan XVI, Jakarta: Pustaka Utama Grafiti, hal. 189.

Tulisan bersambung:

  1. Masa Kejayaan Kerajaan Sumenep Pra Islam
  2. Raja-raja Sumenep yang Berkuasa Masa Pra Islam
  3. Peperangan Periode Koloneal di Tanah Sumenep
  4. Kerajaan Sumenep Masa Periode Islam
  5. Masa Keemasan Zaman Sultan Abdurrahman
  6. Pengaruh Islam dalam Sistem Birokrasi Pemerintahan Sumenep
  7. Hubungan Kerajaan Sumenep dengan Belanda
  8. Pengawasan VOC Tidak Seketat Madura Barat
  9. Konflik yang Mengakibatkan Keruntuhan Kerajaan Sumenep

Responses (3)

  1. Mohon maaf sebelumnya, kalau boleh bertanya apakah raja-raja yang memerintah di kadipaten sumenep itu adalah keturunan langsung dari Prabu Arya Wiraraja? Soalnya saya mencari di google jarang ada yang memberikan keterangan mengenai silsilah beliau (Arya Wiraraja) dan keturunannya. Mohon arahannya???

  2. Untuk melengkapi tulisan ini ada baiknya menengok buku ATLAS WALISONGO karangan Agus Sunyoto. Di buku itu dituliskan bahwa raja’Islam di Madura adalah keturunan dari kerajaan Islam Lumajang yang ada sebelum Demak.

    1. Terima kasih
      Memang tulisan ini memang dibatasi oleh penulisnya. Pihak penulis lain bisa melengkapi dengan referensi tulisan-tulisan lainnya yang ternya mengalami pembaruan informasi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.