Pangeran Saccadiningrat III (Raja Sumenep X)

pangeran_aryo

Moh. lmam Farisi

Sepeninggal Arya Wigananda, Sumenep diperintah delri putra Arya Banyak Modhang yang bemama Pangeran Sumenep. Pusat  pemerintahan dipindah ke Parsanga. Pangeran Sumenep ini bergelar Pangeran Saccadiningrat III. Sejarah Dalem menyebulnya  Arya Wanabhaya (Graag dan Pigeaud: 1985, 217). Diceritakan bahwa peresmiannya sebagai raja Sumenep dilakukan oleh raja Japan (Majapahit) Ratu Masa Kumambang, ini berarti Surnenep .sebagai kerajaan bawahan Majapahit.

Diceritakan pula bahwa ratu Japan inl pernah menyerang Sumenep, sebabnya ratu Japan ingin menjadikan R. Saccadiningrat sebagai suaminya, dan keinginan itu tidak terterima. Kemudian sang ratu memerintahkan patihnya Tumengung Kanduruwan, membawa pasukan sebanyak 3000 orang untuk menyerang SumenePangeran  Adapun Tumengung Kanduruwan sebenarnya masih termasuk keturunan JokoTole (Kuda Panoleh), karena perkawinannya dengan puteri Tanda Terung. Dalam peperangan itu, pasukan Japan dibantu oleh Adipati Arosbaya (Bangkalan), Pahgeran Malaja (Bangkalan), Adipati Baliga (Bangkalan), Adipati Jambaringin (Pamekasan), dan Adipati Lambang Ellor (Pamekasan). Bdk. Sucipto; 1977, 176).

Keikutsertaan raja-raja dari Madura Barat itu, nampaknya dikarenakan adanya permusuhan antara Madura Barat dengan Madura Timur, atau setidak-tidalknya antara kedua wilayah itu menperlihatkan sikap yang tidak bersahabat (Graaf dan Pigeaud; 1985,218) Sedangkan keikutsertaan Adipati Jambaringin dan Adipati Lambang Ellor (Pamekasan), mungkin lebih didorong oleh keinginan untuk mlepaskan diri dari kekuasaan Sumenep, sebab mengingat genealogisnya kedua raja Pamekasan itu masib ada hubungan dengan raja SumenePangeran

Peperangan itu terjadi selama 7 bulan Iebih di Pore (Puri), dan dalam peperangan itulah Pangeran  Saccadiningral II wafat. SeteIah meningal diadigelari Pangeran Sideng Puri. Kepalanya dipenggal oleh Demang Wira Sasmita dan diserahkan kepada Tumenggung Kanduruwan. Sedangkan jenasahnya dimakamkan di dekat makam Sunan Padusan, di desa Pamolo’an, demikian juga dengan jenasah patih Tan Kondur, hingga kini pemakaman tersebut dinam akan “Asta Sideng Pore”

Sepeninggal Pangeran Saccadiningrat III, untuk sementara Sumenep diserahkan kepada Pangeran  Malaja dan  Pangeran Jambaringin, sebelum ada penggantinya. Sedangkan Tumenggung Kanduruwan kembali ke Japan melaporkan tugasnya. Mendengar laporan patihnya ratu Japan marah, dan Tumenggung Kanduruwan dipecat dari jabatannya sebagai patih, dan diangkat sebgai Adipati di Surnenep menggant ikan Pangeran  Saccadiningrat Ill.

Responses (2)

  1. Saya seorang arkeolog tapi lebih mendalami yang berkaitan dengan megalitik (masa prasejarah). Senang sekali ada yang berusaha mengangkat Madura. Saya juga ada darah Maduranya (Sumenep) dari pihak ibu saya. Buyut saya bernama R. Aryo Prabuwinoto. Jika ada kesempatan saya ingin juga menelusuri sejarah nenekmoyang saya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.