Tradisi carok sebagai perilaku budaya dalam dirinya sendiri (tradisi carok — kalau boleh meminjam istilah das ding an sich-nya Kant dalam arti lain—sebagai “das
Lontar Madura
Tulisan Tebaru
Perbincangan Kritis Atas Tradisi Carok
Ainur Rahman Hidayat Carok oleh masyarakat Madura dianggap semata-mata sebagai urusan lakilaki, bukan urusan perempuan….
Aspek Transendensi dan Imanensi Dalam Tradisi Carok
sikap pembenaran terhadap tradisi carok oleh masyarakat Madura diilhami oleh pandangan yang bersifat normatif-ontologis-transendental
Tradisi Carok Sebagai Substansi yang Relasionalistik
Ainur Rahman Hidayat Rumusan masalah yang menjadi mainstream dalam tulisan ini adalah “Apakah tradisi carok…
Refleksi Metafisis Atas Makna Substantif Carok dalam Budaya Madura
Carok sebagai substansi yang relasionalistik tertuang dalam relasi antara “Yang Satu” dengan “Yang Banyak” ungkapan “abango’ poteya mata etembang poteya tolang”
Indentiti Madura sebagai Nilai Ekonomi
Carok di mata orang Madura tentunya ditafsirkan berdasarkan pengalaman, nilai dan norma yang menyelubungi kehidupan mereka. Dari sudut pandang everyday-defined, orang Madura membezakan antara kes bunuh dan carok
Carok; Bentuk dan Penyebabnya
Di dalam masyarakat Madura, carok telah mendapat sokongan dan persetujuan sosial, yang bererti masyarakat tidak memandang hina atau salah kepada pelaku carok yang membela maruahnya yang tercemar
Sudut Pandang Pulau Madura
Pulau Madura dibahagikan kepada empat daerah atau kabupaten iaitu Bangkalan, Sampang, Pamekasan dan Sumenep. Selain pulau besar, terdapat 67 lagi pulau-pulau kecil yang lain, di mana 66 buah pulau daripadanya menjadi sebahagian daripada Kabupaten Sumenep
Carok Sebagai Elemen Identiti Manusia Madura
Carok adalah istilah yang berasal dari bahasa Madura yang bermaksud ‘berkelahi’. Tentunya perkelahian dapat ditemukan di mana-mana masyarakat sekalipun
