Situasi pertempuran yang menegangkan ini ditambah lagi dengan pasukan Kumpeni Belanda yang dipimpin Kolonel Moestich menembaki pasukan Madura sehingga banyak diantaranya yang berlumuran darah, pertempuran ini berlangsung hingga menjelang malam hari pasukan Madura
Lontar Madura
Tulisan Tebaru
KH Abi Sudjak, Pejuang dan Pendiri NU Sumenep
Almarhum KH Abi Sudjak sangat dikenal di kalangan masyarakat Sumenep. Lebih-lebih kaum nahdliyin. Dia merupakan sosok ulama ahli Tarekat Alawiyah yang juga tokoh NU pertama di kabupaten ujung timur Madura.
Nikmati Hamparan Pasir Putih Pantai Sembilan
Keindahan panorama Pantai Sembilan tampak cukup menarik, selain mempunyai halaman pantai berpasir yang bersih, putih dan landai, di beberapa sisi terdapat hamparan terumbu karang dengan kondisi air laut yang jernih.
Makna Tanah, Makam dan Manusia Madura
Bagi manusia Madura tanah adalah kekayaan yang sebenarnya karena dengan tanahlah mereka bisa bertahan dan mengembangkan kualitas hidupnya. Ini bukanlah sekadar peristiwa ekonomi, namun juga meliputi sosial religius
Jejak Bugis-Makasar di Pulau Giliyang Madura
Orang Bugis jika ingin belajar etika kekuasaan datang ke Sumenep sementara orang Madura jika mau belajar soal melaut tentu belajar kepada orang Bugis. Makanya dua etnis ini dikenal sebagai pelaut sejati, hingga detik ini.
Kebudayaan Madura, Tak Ramah Perempuan?
Kadang ada benarnya juga jika dikatakan, kebudayaan Madura sebenarnya tidak ramah bagi perempuan. Persoalan lain adalah ekonomi yang menjadikan pendidikan sebagai sesuatu yang mahal bagi kebanyakan masyarakat Madura
Gilis dan Jurung
Peran Gilis sekarang sudah digantikan mesin penggiling, seiring dengan fungsi jagung yang sedikit bergeser dari makanan manusia menjadi makanan ternak. Bahktan gilis saat ini sulit dijumpai keberadaannya.
Langgar Seribu Kisah, di Ujung Barat Kota Sumenep
Langgar atau kobhung adalah bangunan yang terbuat dari kayu berkaki empat atau lebih yang pada umumnya digunakan untuk untuk kegiatan religi dan sebagainya.
Buku “Embi’ Celleng”; Langgam Baru Bahasa Madura
Membaca buku cerpen Embi’ Celleng Ji Monentar barangkali dapat diteropong dengan perspektif demikian. Terlepas dari semua persoalan di atas, cerpen-cerpen dalam buku ini juga menarik jika dikomparasikan dengan cerpen-cerpen berbahasa Indonesia yang mengangkat lokalitas Madura
