Orang Madura dalam Pendirian Majapahit (2)

Candi peninggalan Majapahit

Kehadiran pasukan Mongol untuk ikut membantu Raden Wijaya juga mempunyai alasan yang tentunya dinilai dapat memberi keuntungan bagi mereka. Kedatangan Mongol ke Jawa tidaklah berlangsung dengan mudah. Invasi ke Jawa yang dikirimkan oleh Kubhilai Khan membawa pasukan sebanyak 20.000 orang (Jaques, 2007: 946). Bisa dibayangkan betapa sulitnya perjalanan di masa itu karena belum ditemukannya kapal bermesin sehingga pasukan Mongol harus berlayar selama 68 hari di lautan.

Ternyata alasan terkuat dari bantuan Mongol adalah karena Raden Wijaya ikut menjanjikan sesuatu yang lebih “menarik”. Bantuan yang diberikan oleh pihak Mongol untuk menggulingkan Jayakatwang akan diganjar oleh Raden Wijaya dengan pengakuan tunduk kepada Kubhilai Khan (Irapta, 2005: 87). Tawaran yang menjadi “janji” dari Raden Wijaya pastinya setimpal atau bahkan lebih besar dari apa yang diharapkan karena pihak Majapahit bagaimanapun telah ikut mempermudah kehadiran militer Mongol di Jawa.

Penyerahan putri Jayakatwang sebagai tanda tunduk kepada Kubhilai Khan juga cukup terbilang memuaskan. Berkaitan dengan apakah mereka tahu tentang Kertanegara yang sebelumnya tewas akibat serangan Kediri, pada akhirnya kekalahan Jayakatwang oleh Raden Wijaya yang “berjanji” untuk tunduk pada kekuasaan Kubilai Khan sudah cukup membayar rasa sakit hati pihak Mongol atas penghinaan dari Kertanegara beberapa tahun sebelumnya.

Majapahit merayakan kemenangan dengan berbagai konsekuensi yang harus diterima akibat janji-janji yang mesti dipenuhi kepada pihak Mongol. Arya Wiraraja mengadakan rapat untuk bertanya kepada para menteri mengenai sikap yang mesti diambil kepada pihak Mongol. Hanya Ken Sora yang berpendapat bahwa tidak baik jika mereka mengingkari janji.

Setelah itu datanglah 200 pasukan Mongol guna mengawal surat yang isinya menagih janji Majapahit. Ken Sora meyakinkan mereka bahwa Majapahit tidak akan ingkar pada janji yang mereka buat. Namun, Ken Sora meminta sebuah syarat pada pihak Mongol, “Putri Tumapel itu miris sekali melihat senjata, Karenanya ia bisa jatuh pingsan. Baik di Tumapel maupun di Kediri, mereka giris-miris melihat senjata! Oleh karena itu, simpanlah baik-baik senjata kalian dalam bilik yang terkunci.

Beritahukanlah kepada semua pengawal yang menjemputnya (putri Jayakatwang), agar mereka jangan membawa senjata apa pun!” Namun, persyaratan dan penjelasan dari Ken Sora belum bisa diterima oleh utusan Mongol. Arya Wiraraja menimpali bahwa hal itu ditujukan agar putri yang akan diserahkan kepada kaisar tidak merasa takut karena baru saja mereka menyaksikan perang, dikhawatirkan putri dan para tawanan perempuan lain menjadi ketakutan dan memilih bunuh diri. Mendengar ucapan itu, pasukan Mongol kemudian setuju (Sadik, 2006: 24-25).

Pasukan Mongol kembali lagi ke keraton dengan pasukan berjumlah 300 orang. Sebagaimana pesta penyerahan dilaksanakan dengan meriah maka orang-orang Mongol itu merasa senang dengan jamuan makan yang didapat. Ketika itu siasat segera dilaksanakan. Keraton dikunci dari dalam. Seketika pasukan Majapahit menyerang saat Mongol sedang lengah. Secara bersamaan penyerangan juga dilakukan pada basis pertahanan Mongol di Canggu maupun yang ada di kapal. Mereka tidak menduga sama sekali bahwa Majapahit dan Madura akan berkhianat.

Serangan yang sama juga terjadi di Kediri saat orang-orang Mongol berpesta merayakan kemenangan dan membagi-bagikan rampasan perang kepada prajuritnya. Dalam kondisi yang sedang berbahagia itu, mereka menjadi lengah dan tidak mampu berkonsentrasi pada keamanan mereka sendiri. Posisi mereka amat rentan untuk diserang oleh bala tentara Majapahit, apalagi di Daha sebagai ibu kota Kediri yang baru saja ditaklukkan, secara faktual hanya ada militer Majapahit dan tentara Mongol saja. Prof. Slamet Muljana (2005: 200) menuturkan bagaimana pasukan Mongol-disebutnya “Tartar”-dapat diusir dari Pulau Jawa:

Tartar yang dimaksud ialah suku Tatar sebagai salah satu sub-etnis Mongol

“……. Ketika tentara Tartar sedang berpesta di puri Kediri dan membagi-bagikan hadiah kepada para prajurit untuk merayakan kemenangannya, dengan serta-merta Kota Kediri diserang dari jurusan utara dan selatan. Kota Kediri sudah dikepung. Sambil menangkis serangan dari selatan, mereka bergerak ke jurusan utara mendekati pantai tempat armadanya. Namun, dari utara mereka pun diserang juga. Demikianlah mereka membelok ke jurusan barat. Namun, juga dari barat diserbu. Demikianlah tentara Tartar itu tidak sempat untuk mengambil siasat. Mereka lari terbirit-birit ke pantai masuk perahu dan berlayar meninggalkan Pulau Jawa. Beberapa ratus tawanan dari Daha ikut terbawa.”

Dengan memanfaatkan kelengahan musuh-musuhnya, Raden Wijaya berhasil memenangkan perebutan kekuasaan dan memastikan tidak adanya pengaruh asing yang akan menghalangi takhta serta pemerintahannya. Ketangkasan perang Raden Wijaya dan pengetahuan militernya serta kelihaian Arya Wiraraja berperan besar dalam kesuksesan ini, meski lebih besar lagi ialah pengorbanan orang Madura yang telah ikut dalam mendirikan Majapahit.

Tidak ada guna seorang panglima perang yang tangkas jika tidak memiliki prajurit yang andal, Raden Wiajaya berhasil membentuk kekuatan militer awal Majapahit dengan komposisi utamanya yakni orang Madura. Strategi yang jitu sekalipun tetap membutuhkan tenaga dari tangan-tangan untuk melaksanakannya: Arya Wiraraja mampu mewujudkan pendirian Majapahit dengan mengirimkan para pekerja Madura. Dengan itu sesungguhnya sejarah telah bisa disaksikan dengan kisah pengalaman orang Madura dalam berbagai bidang sebagai pekerja, petani, nelayan, hingga sebagai prajurit yang berhasil memukul kekuatan militer terbesar di Asia masa itu.

Pendiri Majapahit, Raden Wijaya yang berhasil mengalahkan Mongol pada 1293, beberapa waktu setelahnya segera membangun kembali hubungan dagang bersama China dan orang-orang Mongol dengan kondusif. Kelak pada 1377 Majapahit membawahi beberapa pos di timur Pulau Jawa dan mengendalikan perdagangan lada di Samudera Pasai (Mukherjee (Ed,), 2011: 82). Setelah pendirian Majapahit perlu dilihat mengenai eksistensi Madura sebagai bentang geografis maupun etnis dalam sebuah kerajaan dan kekuatan politik baru yang berdiri di tanah Jawa.

__________________________________________

Disalin dan diangkat dari buku “Sejarah Tanah-Orang Madura”,  Masa Awal Kedatangan Islam Hingga Invasi Mataram; penulis: Arafah Pramasto Sastrosubroto, S.Pd & Sapta Anugrah Ginting, S.Pd, penerbit Leotikaprio 2018, hal. 43-53

Bersambung:

1. Orang Madura dalam Pendirian Majapahit (1)
2. Orang Madura dalam Pendirian Majapahit (2)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *