Marlena; Awal Datangnya Sepi

Marlena, Perjalan Panjang Perempuan Madura; merupakan cerita bersambung (novel) berdasarkan realitas kehidupan masyarakat pesisir wilayah ujung timur Pulau Madura. Novel ini ditulis oleh Syaf Anton Wr , telah terbit dalam bentuk  buku,

Episode Empat Belas

Memang itu yang kuharapkan. Namun akhirnya aku sadar bahwa pilihanku itu salah. Buktinya, keduanya berjalan lamban, seperti bayi yang masih berumur satu tahun.”

“Tapi kini kan mulai berkembang Pak.”

“Yah, meski sedikit.”

Itulah kenyataan-kenyataan yang dihadapi oleh Marlena. Ia seakan telah menemukan dirinya, yang beberapa saat lalu hampir hilang dalam hempasan waktu. Sementara, uraian mimpi-mimpi masa depannya mulai menancap dalam lubuk hatinya. Ia berharap pada suatu ketika kelak, mampu berbuat sesuatu yang lebih berarti lagi. Bukan hanya untuk diri maupun sahabatnya seperti Narti dan Pak Jamil, tapi jauh lebih dari itu, ia telah membangun tekad dalam suatu arena yang lebih luas sebagaimana yang kerap dilakukan oleh pejuang-pejuang pembangunan pada masa sekarang ini.

“Suatu ketika nanti, bila kau makin larut di duniamu, kamu akan menjadi sastrawan besar di negeri ini,” kesan Pak Nurhadi guru bahasa dan sastranya.

“Tidak Pak, saya tidak berniat ke situ,” ujar Marlena. “Saya hanya berkeinginan menjadi manusia biasa saja.”

“Itu sudah kodrat manusia. Tapi profesi yang dibebankan kepada manusia, otomatis akan mempengaruhi status manusia itu lebih berarti dari manusia-manusia yang lain.”

”Itulah yang saya khawatirkan. Sekarang ini kita harus jujur bahwa kehidupan dunia sastrawan-sastrawan itu sendiri. Mereka lebih mementingkan popularitas daripada karyanya. Hingga akibatnya di kota-kota besar banyak bermunculan identitas yang mereka kenakan dari pengakuannya sendiri,” komentar Marlena melihat kenyataan kehidupan sastra Indonesia akhir-akhir ini.

“Benar juga. Sebagai contoh, di Jakarta dan kota-kota besar lainnya bermunculan nama-nama Paus Sastra, Presiden Sastra, hakim sastra dan lain-lainnya.”

“Akhirnya mereka dikultuskan. Bila demikian, apa jadinya?”

Bukan hanya itu Len. Di mass media, kapling sastra saja didominasi oleh sastrawan-sastrawan tertentu, seakan-akan yang lain tidak diberi kesempatan untuk bergerak.” ungkap guru Nurhadi yang juga dikenal sebagai penyair.

“Begitulah Pak. Kalaupun nanti saya ditakdirkan bertahan dalam dunia sastra, saya akan berusaha untuk mengejawantahkan hasil karya saya dalam porsi yang lain.”

“Maksudmu?”

“Akan saya tebarkan, di dalam tubuh masyarakat awam yang belum mengerti apa sebenarnya sastra itu. Atau dengan kata lain, agar sastra kita lebih dihargai oleh semua kalangan.”

“Usaha yang tepat,” puji Pak Nurhadi kemudian.

Dunia sastra bagi Marlena merupakan dunia kenyataan yang tak dapat ditolaknya. Ia yakin, melalui sastra, Marlena akan menjadikan sebuah bentuk manusia yang lebih memahami dan mengenal latar belakang kehidupan masyarakat. Karena dalam etika sastra, ada suatu ilmu yang tersirat di dalamnya, ialah nilai-nilai filsafat kehidupan manusia dalam semua tingkatan peradaban. Sastra tidak peduli suasana, kondisi maupun jaman. Karena sastra mampu menyatukan nilai-nilai jujur dan luhur untuk menentang ketidak jujuran, yang kerap dikhianati oleh alasan-alasan perkembangan jaman.

Perbincangan hati ini terus berlanjut, merangkak waktu demi waktu yang kadang menciptakan pergolakan, percintaan dan ketentraman. Mungkin itulah, kenapa Marlena larut dalam dunia sastra.

Para undangan telah memenuhi ruang Gedung Nasional Indonesia itu, hampir tidak satu kursi pun yang tersisa. Sementara di wajah Pak Toha tersirat rasa bahagia. Demikian juga yang tampak di wajah Bu Rasmi, gemerlap cahaya lampu seakan memenuhi garis-garis wajah yang sudah nampak mulai berkerut di dahinya itu.

Bersamaan gemericik suara kleningan yang mengalun lembut dalam sahutan gendang dan gong, seakan menyambut kehadiran sepasang raja beserta permaisurinya, yang kini sedang menenun suka di atas singgasana.

Di singgasana duduk sepasang pengantin di atas pelamin beludru merah membara dalam pakaian leghã, busana adat pengantin Sumenep. Sedang di sebelah kanan dan kirinya, dua anak kecil mengipas-ngipas kedua pengantin tersebut, layaknya dua orang dayang-dayang yang sedang menemani Raja dan Ratu di Taman Sari Kraton.

Darwis dan Fatimah sekali-kali memandang penuh seantero ruangan gedung, seakan-akan memberitakan kepada para undangan yang menyaksikan kedua mempelai.

Sedang Marlena yang sejak awal memang terlihat sangat sibuk, namun pada puncak acara resepsi perkawinan kakak angkatnya itu, ia masih mampu menampakkan wujud yang penuh gairah. Seakan ia ikut bertanggung jawab atas kesuksesan perhelatan keluarga Pak Toha, yang menurut tradisi Sumenep tidaklah dianggap sempurna bila suatu pernikahan tanpa dimeriahkan pesta yang marak.

Dalam suasana yang agung itu, Taufik, Narti, dan Pak Jamil turut menyaksikan, betapa mereka menyambut dengan antusias, khususnya bagi Narti dan Pak Jamil.

“Kak Fatimah makin cantik,” seru Narti pada tunangannya.

Mendengar kalimat itu, Pak Jamil hanya menyahut dengan angguk.

“Bukan hanya wajahnya yang cantik, hatinya pun aku kira lebih cantik,” sahut Taufik yang sempat menguping pembicaraan keduanya.

“Benar, sewaktu ayahnya menjabat dulu aku belum pernah melihat kak Fatimah memanfaatkan kekuasaan orangtuanya,” tambah Narti.

“Yah, hal itu berkat pendidikan yang diterapkan oleh orangtuanya. Karena hanya orang tualah yang dapat menjadi panutan anak-anaknya. Kalau kita lihat, memang kerap terjadi jabatan orang tua dijadikan kesempatan meraih kemenangan anak-anaknya tanpa mempedulikan bagaimana cara mendapatkannya,” jelas Pak Jamil.

“Benar,” sahut Taufik, yang termasuk dari kelompok anak yang tidak memanfaatkan keberhasilan orang tuanya. “Jabatan orang tua hanya dijadikan jembatan untuk memenuhi kebutuhannya. Maka akibatnya, produk yang demikian justru akan menjerumuskan masa depan anak-anaknya.”

“Yah, itulah kelemahan bangsa kita,” timpal Pak Jamil. “Bila hal itu terus berlanjut, entah bagaimana masa depan bangsa dan negara kita nanti.”

“Wah, sudahlah, kita jangan sok idealis. Biarlah mereka dengan sejuta perbuatannya. Yang penting kita sendiri, apa yang harus kita perbuat demi bangsa dan negara pada masa berikutnya,” sela Narti dalam gurau.

“Heh, merasani saya ya?” tiba-tiba Marlena muncul di antaranya.

“Yah,” sahut Narti singkat. “Aku tidak tega melihat Taufik matanya jelalatan memandang mempelai.”

“Atau mungkin kamu sendiri.”

“Kalau aku sih, sudah diambang gerbang.”

“Gerbang atau gerbong?”

“Keduanya.”

Mereka berempat tertawa terkekeh-kekeh sehingga beberapa undangan di dekatnya ikut tersenyum.

“Len, sekali-kali duduklah bersama kami. Masa sejak tadi kami lihat seperti petugas keamanan saja,” gurau Pak Jamil.

“Benar. Len. Kasihan Taufik,” tambah Narti seraya melirik Taufik yang menampakkan wajah semu merah.

“Ada-ada saja kamu Nar. Lena kan sibuk. Dia kan sebagai tuan rumah?” sahut Taufik mengomentari.

“Bukan begitu. Aku kan tidak enak pada yang lain. Benar kan Pak Jamil,” sahut Marlena

Pak Jamil mengangguk dalam senyum.

“Saya tinggal dulu ya, itu ibu memanggil,” pinta Marlena.

Suara klenengan masih menggema seantero ruangan, seorang pesinden mengalunkan lagu kidung dalam suara mantap dan utuh, seakan melepaskan biji-biji harapan bagi pendengarannya. Demikian pula rentetan acara resepsi pernikahan tahap demi tahap terlalui, hingga acara berakhir tatkala kedua mempelai menyambut kepulangan undangan di ambang pintu gedung.

Setelah dilaksanakan pernikahan putrinya, maka tuntaslah harapan Pak Toha menyelesaikan tanggung jawabnya setelah perkawinan anak pertamanya. Dalam benak Pak Toha, yang kini harus dipikirkan adalah kelanjutan pendidikan anak angkatnya, Marlena. Marlena sebenarnya tidak mengharapkan sepenuh hati agar Pak Toha tidak terlalu banyak membebani dirinya. Saat ini pun sebenarnya Marlena telah puas atas bantuan dan perhatian keluarga Pak Toha, yang mungkin ia tidak akan mampu membalas budi baik keluarga Pak Toha, meski sepanjang hidupnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.