Simpulan
Dalam setahun sekali, peringatan Maulud, ternyata merupakan salah satu motif keagamaan yang turut mendorong etnis Madura untuk pulang kampung (toron), terutama di kalangan komunitas pedesaan. Selama bulan Maulud, dapat diamati betapa banyak mereka pulang ke desa masing-masing (pathobin) dengan niat untuk memperingati kelahiran Rasulullah yang menurut mereka wajib dihormati. Pola acara peringatan di Madura nampaknya sama, yakni diawali dengan pembacaan suratul fatihah, dilanjutkan dengan pembacaan syarofal anam, dan baru diakhiri dengan doa oleh kyai, tanpa mau’idah hasanah. Setelah itu dilanjutkan dengan ramah tamah untuk menikmati berbagai sajian yang mencerminkan status sosial dan harga diri shahibul hajah (pengundang).
Bagi sebagian mereka dari kalangan santri, mengadakan Maulud di rumah masing-masing ibarat mengadakan haul untuk Rasulullah atas dasar prinsip, jika kedua orang tua dihormati, justru mengapa Rasulullah tidak diperlakukan sama. Sebab itu dengan rasa hormat inilah diharapkan kelak mereka akan mendapat syafaat dari Rasulullah dan akan digampangkan rezekinya. Tidak demikian dengan mereka yang nonsantri, kendati tidak melakukan perintah agama, dengan memperingati Maulud, diharapkan dosa mereka akan terhapus karena kelak akan mendapat syafaat dari Rasul.
Dengan demikian, peringatan Maulud merupakan magnit bagi etnis Madura untuk mudik ke kampung halaman (toron) sebagai sebuah tradisi secara turun-temurun. Dengan melakukan tradisi inilah mereka dapat unjuk diri kepada keluarga dan tetangga teparo bahwa dirinya sukses di rantau orang yang dapat diperlihatkan pada kesemarakan acara Maulud di rumah masing-masing. Dari sinilah kiranya dapat dipahami bahwa nampaknya tradisi toron yang telah membudaya yang antara lain termotivasi dengan peringatan Maulud dapat memacu etnis Madura untuk bekerja keras di negeri orang, yakni sebagai bagian dari harga diri yang harus dipertaruhkan di tengah masyarakat mereka.









