Selanjutnya ia menjelaskan, pasera oneng kalaban shalawat se ebaca lantaran daddi tambanah rahmat kaangguy ngaolle syafaat epon Rasulullah bingkengan neng akherat (siapa tahu dengan pembacaan shalawat kepada nabi, kita akan mendapat rahmat sebagai jalan memperoleh syafaat dari Rasulullah kelak di akhirat).
Sejalan dengan pernyataan Holili, Nizar menambahkan, badha jugan pak amolod ca’epon kaangguy nebus dusah, sala la ta’ ngalakone rokon Islam pasera oneng kalaban amolod daddi lantaran ngaolle syafaat dari Rasulullah (ada juga pak yang mengatakan bahwa mengadakan Maulud adalah sebagai penebus dosa untuk mendapat syafaat, sekalipun tidak melakukan rukun Islam).
Neka kan ta’ lerres pak, monggu oreng santre, masa ta’ asalat, ta’ apasah, namong klaban amolod pas lebbur dusanah (menurut kaca mata santri, itu kan tidak benar pak, apakah iya, hanya dengan memperingati Maulud, dosanya bisa terhapus, padahal ia tidak shalat, tidak puasa, sebagaimana yang diajarkan oleh Rasulullah), kata Majid.
Karena itu menurut H. Arif yang benar, mengadakan Maulud haruslah dengan niat yang benar dan harta yang kita keluarkan sebagai biaya acara tidak akan ada nilainya jika kita tidak berniat menghormati Rasul kita. Pasera oneng klaban amolod rejekke sajan epagampang amarga cinta da’ Rasulullah, kan enggi pak,
(siapa tahu dengan memperingati Maulud rejeki akan semakin bertambah, karena kita mencintai Rasul, kan begitu pak). Se poko’ yakin pak, insya Allah barakah (yang penting yakin pak, insya Allah harta kita akan barakah), demikian Arif meyakinkan kita. Nampaknya dari pernyataan ini dapat dipahami, ada pertautan antara tradisi toron dengan etos bisnis di kalangan etnis Madura.









