Kepulangan etnis Madura ke kampung halaman (toron) dalam rangka peringatan Maulud Nabi sangatlah fenomenal sekali yang tidak jarang membuat pulau Garam itu bagaikan suasana hari raya. Hanya saja kepulangan mereka, terutama dari kalangan daerah pinggiran, tidaklah dalam skala massif sebagaimana menjelang hari raya, terutama setiap akhir Ramadhan atau awal Syawal setiap tahun. Ketidakbersamaan kepulangan mereka, menurut Humaidi, karena masyarakat yang akan mengadakan Maulud di kampung halamannya masing-masing menyesuaikan diri dengan jadwal aktivitas di daerah rantau.
Dengan demikian acara peringatan yang diadakan di masing-masing rumah mereka di Madura pasti tidak bersamaan. Hanya saja rentang waktu untuk acara itu bisa mencapai satu bulan Rabiul Awal, atau lebih, tergantung mereka dalam memilih waktu sesuai kesempatan masing-masing
Menurut Muhamin dan Darwis tidaklah semua migran Madura mengadakan acara Maulud secara individual di daerah asal (pathobin), karena sebagian dari mereka tidaklah sedikit yang hanya titip sumbangan untuk acara di masjid kampung mereka, sebagaimana tradisi di daerah Socah Bangkalan.
Katakan saja yang sering mengadakan acara sendiri seperti H.Maimun (asli Blega, pengusaha mebel), H.Musleh (asal Blega, pengusaha toko besi), H. Nizar (asal Torjun, pengusaha ponten), H.Amir (asal Blega, pengusaha besi dan bongkaran), H.Halili (asli Kwanyar, pengusaha soto), dan Syahrondi (asal Torjun, pengusaha mie). Para pengusaha di Surabaya ini seringkali mengadakan acara Maulud di daerah asal masing-masing dengan mengundang kyai di mana mereka pernah mondok.









