Keunikan Bahasa Madura Sebagai Identitas Daerah

Mamaca, salah satu bentur syi”ir yang berkembang di Madura

Oleh: M. Hafid Effendy
(Anggota Pakem Maddhu Pamekasan)

Bahasa Madura adalah bahasa daerah yang digunakan oleh warga etnik Madura, baik yang tinggal di pulau Madura maupun di luar pulau tersebut, yang selalu digunakan sebagai sarana komunikasi sehari-hari oleh penuturnya. Tradisi sastra, baik lisan maupun tertulis dengan sarana bahasa Madura yang masih hidup dan dipelihara oleh masyarakat Madura akan membawa semangat untuk melestarikan budaya Madura. Oleh karena jumlah penutur yang banyak dan didukung oleh tradisi sastranya, bahasa Madura mengandung hal-hal yang unik khususnya dalam hal keragaman pengucapan.

Di sisi lain, bahasa Madura diklasifikasikan sebagai bahasa daerah terbesar di nusantara. Perumusan kedudukan bahasa daerah tahun 1976 di Yogyakarta menggolongkan bahasa Madura sebagai salah satu bahasa daerah terbesar di Indonesia. Oleh karena itu, bahasa Madura sebagai bahasa daerah perlu dibina dan dikembangkan, terutama dalam hal peranannya sebagai sarana pengembangan kelestarian kebudayaan daerah dan sebagai pendukung kebudayaan nasional.

Adapun keunikan bahasa Madura telah nampak pada variasi dialektik, variasi tingkat tutur (speech level), dan varian-varian alofonnya.

Keunikan yang pertama pada variasi dialektik, variasi dialektik yang pertama mengacu pada ragam dialek, yakni dialek Sumenep, dialek Pamekasan, dan dialek Bangkalan. Masyarakat Sumenep menggunakan bahasa Madura dengan menggunakan dialek Sumenep yang menggunakan ritme memanjang dan tidak menyingkat fonem, misalnya dalam mengucapkan kata “saronen”Hal ini berbeda dengan masyarakat Pamekasan yang mengucapkan kata “sronen” dengan menggunakan ritme agak cepat dan merangkap salah satu fonem atau menghilangkan salah satu fonem vokal yang berada di posisi awal. Berbeda juga dengan dialek Bangkalan. Yang memang cara pengucapannya lebih cepat ritme yang digunakan dibandingkan dengan dialek Pamekasan. Contoh pada kata lo’cèlo’ “tidak kecut” (dialek Bangkalan) dan ta’ cèlo’ tidak kecut” (dialek Pamekasan). Persepsi kata “ lo’ cèlo’ “ menurut masyarakat Pamekasan, sesuatu yang nilai rasanya kecut, tetapi menurut masyarakat Bangkalan, kata tersebut bermakna tidak kecut.

Keunikan yang kedua pada variasi tingkat tutur. Dalam bahasa Madura yang sudah umum terdapat tiga tingkatan, yakni tingkat tutur Enja’ Iya (jenis tingkat tuturan sama dengan ngoko dalam bahasa Jawa, tingkat tutur Èngghi Enten ( jenis tingkat tuturan sama dengan krama adya dalam bahasa Jawa, sedangkan yang terakhir tingkatan Èngghi Bhunten ( jenis tingkat tuturan sama dengan kromo inggil dalam bahasa Jawa.

Di samping itu, keunikan yang ketiga, yakni pada varian-varian alofonnya. Di dalam bahasa Madura terdapat enam vokal, yakni [ a, I u, e, è, o ] dan terdapat 11 bunyi vokoid, yakni [ a, â, i, I, u, U, ε, è, ∂, o, ﺩ ]. Biasanya fonem vokal [I] bervarian dengan fonem vokal [ i ], fonem vokal [ a ] bervarian dengan fonem vokal [∂] dan fonem vokal [U] merupakan varian dari fonem [u] Misalnya pada kata ” seppor dan ” seppUr”yang bermakna “kereta api”. Telah nampak bahwa masyarakat pedesaan sering menggunakan kata “seppŨr”. Sedangkan masyarakat perkotaan sering mengucapkan dengan kata seppor, yang artinya sama-sama “kereta api”. Dari beberapa varian fonem yang ada dalam bahasa Madura. Maka dapat di sintesiskan bahwa Perbedaan pengucapan tersebut dipengaruhi oleh faktor geografis, usia, dan pendidikan.Akan tetapi tidak menyebabkan perubahan makna kata pada setiap penyucapan. Oleh karena itu, dari beberapa keunikan bahasa Madura itu dapat dijadikan keragaman kebahasaan dalam bidang pramasastra bahasa Madura yang lebih baku. Sehingga kita sebagai masyarakat Madura harus tetap merawat, menjaga, dan melestarikan bahasa Madura melalui pembiasaan terhadap generasi penerus bangsa.

http://pakem-maddhu.blogspot.com/

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.