Kesungguhan dalam Sikap: Belajar dari Salah Paham

Pada perkembangannya sikap kesungguhan yang sangat sungguh-sungguh ini, seperti dalam upaya bertahan hidup, tentu mendapat tanggapan dari pihak lain diluar kultur Madura yang belum mengerti. Tanggapan ini muncul baik ketika orang Madura berinteraksi dengan orang yang berbeda budaya, di berbagai kesempatan maupun pemberitaan di berbagai media masa. Tak jarang hal ini merembet ke cara bersikap dan bergaul dengan orang lain, yang melihat kengototan (kegigihan), namun orang lain mengartikannya berbeda, sehingga timbulah kerras (bukan sebagaimana Orang Madura memaknai) itu.

Konsep Madura tentang ”mon kerras, pakerras sakalè” bukan pada sikap dan perilaku kepada orang lain, namun kerras dalam artian lebih pada usaha untuk menggapai suatu tujuan. Perbedaan konsep Bahasa Madura (kerras) dan Bahasa Indonesia (keras) ini, akhirnya menimbulkan pandangan bahwa orang Madura itu keras. Keras dengan tolak ukur kalau berbicara seperti membentak-bentak, nada bicara tinggi, perilaku agresif, dan tidak sabaran. Ditambah lagi pencitraan yang terbangun oleh orang luar terkait dengan carok, yang selalu mendapat cap negatif.

Konsep kata kerras dalam Bahasa Madura menjadi biasa dan bukan merupakan suatu yang menjadi masalah ketika itu bersinggungan dengan sesama orang Madura. Pada prakteknya dalam kehidupan Orang Madura sehari-hari, bukan perkara keras (seperti pemaknaan dalam Bahasa Indonesia maupun cap-cap yang diberikan oleh mereka yang berbeda latar belakang budaya) tetapi lebih pada usaha menjaga konsistensi dan relasi dengan sesama manusia, yang diwujudkan dalam konsep ajjha’ andi’ kalakowan mèsong otabâ mon alako pateppa’, jha’ song-mèsong (dalam Bahasa Indonesia artinya: jangan punya perilaku yang menyimpang atau jika berbuat harus lurus dan tidak berbelok- belok). Perpecahan dan konflik sebisa mungkin harus dihindari, karena menjaga konsistensi sikap dan relasi dengan sesama merupakan modal bagi Orang Madura untuk bertahan hidup, baik di tanah perantauan maupun di tanah sendiri.

Salah paham merupakan hal biasa di Indonesia, karena perbedaan latar belakang budaya dan juga bahasa. Dalam proses salah paham itu, mudah-mudahan kedepannya tercipta rasa pengertian dan sikap saling memaafkan dalam perbedaan budaya. Dalam fenomena ini, salah paham disini diartikan sebagai suatu hal yang positif, mengarah pada proses memberi dan menerima pelajaran dari budaya yang berbeda-beda.

Penulis: Muhammad Fathul Farikh Fauzy, Mahasiswa Pascasarjana Antropologi UGM

 

Response (1)

  1. semoga tulisan ini bermanfaat… kritik dan saran untuk membangun tulisan yang lebih baik, saya tunggu dan terima untuk jadi bahan penyempurnaan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *