Ada alat yang berfungsi sebagai korbi induk ada alat yang berfungsi sebagai budu’ ana’ dan alat yang berfungsi sebagai kerreb rapat, artinya suara penyeling.
Alat yang agak besar bentuknya (tetapi tetap serupa dengan lainnya) adalah berfungsi sebagai pamola (pemula) yang mulai main dulu yang umumnya dipegang oleh pemain utamanya.
Jalan Permainan
Alat ging-gung yang ujungnya menipis dan mengecil dipegang dengan tangan kiri sedangkan tangan kanan pemain memegang tali berlidi dan alat itu ditaruh tepat rapat di muka mulut atau adakalanya di antara dua bibir. Sentakan-sentakan tali dan kembang kempisnya rongga mulut menghasilkan serentetan bunyi yang dikehendakinya.
Tetapi untuk memainkannya, haruslah menahan nafas atau jalan pernafasan pemain tidaklah normal. Karena itu seorang pemain, hanya kuat memainkannya selama lebih kurang lima menit. Alat itu dapat dimainkan sambil duduk, tetapi juga dapat sambil berbaring santai atau sambil berdiri dan berjalan. Hanya pada umumnya untuk memperoleh suara yang baik dan kuat menahan nafas, dimainkan dengan duduk.
Karena bunyi yang dihasilkan tergantung oleh permainan rongga mulut dan alat itu sendiri yang sifatnya tidak mempunyai ukuran yang tetap, tentu saja tidaklah dapat disamakan dengan suara atau bunyi alat musik. Lagu yang dihasilkan juga tidak seperti hasil permainan musik. Bagi penduduk desa apa yang dimainkan oleh permainan ging-gung sudah cukup memuaskan untuk perintang-perintang waktu.
Lagu-lagu yang dimainkan antara lain, du rengnget, du assetti, dudding, pring. Du rengnget berarti dengan kerinduan hati. Du assem berarti adanya harapan akan pohon-asamnya, agar menghasilkan buah yang banyak. Dudding artinya tunjuk, dan pring mungkin yang berkaitan dengan rumpun-rumpun bambunya yang banyak mendatangkan penghasilan.
Banyak lagu-lagu yang lain. Kalau permainan ging-gung dimainkan oleh beberapa orang, maka yang bermain lebih dulu adalah pamola (yang memberikan lebih dulu). Baru kemudian serempak ketiga alat yang lain seperti korbi, budu, dan kerreb.
Ketiga pemain dengan ketiga alat yang serupa tetapi suaranya tidak sama, akan melahirkan suatu irama lagu yang baik apabila ada kerja sama yang baik. Seumpama gamelan, kalau dibunyikan tanpa mengingat kerja sama antara alat-alat itu, akan menghasilkan suara yang ribut dan tak enak didengar. Begitu pula Ging-gung. Karena itu kalau bermain bersama di undangan peralatan, dicari pemain-pemain yang pandai dan biasa bekerja sama dalam sebuah team.
Di desa pemain-pemain itu biasa memainkan alat ging-gung sambil duduk bersila. Apalagi di muka para undangan. Seusai peralatan pemain disalami oleh tuan rumah dengan di telapak tangannya ada uangnya. Di Madura dikenal dengan salam talpe’ sekedar imbalan jasa atas kelelahannya. Lebih hemat dari pada menyewa tape yang harus didatangkan dari luar kecamatan.
Peranannya Masa Kini.
Peranan permainan ging-gung sebagai permainan yang tidak saja untuk menghibur dirinya sendiri dalam waktu senggang tetapi juga menghibur para pendengarnya, baik terbatas maupun meluas. Keadaan ini tidak banyak berubah sejak beberapa waktu yang lalu hingga sekarang. Sebab desa ini tetap masih merupakan desa yang terpencil (meji), belum banyak terjangkau oleh kemajuan-kemajuan yang dapat merubah meningkatkan taraf hidup mereka.
Kalau ada bentuk-bentuk permainan lain yang mereka lihat di dunia luar desanya, permainan itu tampaknya memerlukan uang. Bagi mereka hal itu sulit, sebab mereka lebih baik menggunakan uang tersebut bagi pemenuhan kebutuhan pokoknya. Mereka sudah puas terhibur dengan permainan tradisional mereka ialah ging-gung dengan lagu-lagu baru yang dikenalnya di luar desanya.
Tanggapan Masyarakat.
Selain berfungsi sebagai alat penghibur, ging-gung dapat berfungsi untuk nyare kanca (mencari teman), artinya kehidupan kelompok akibat permainan kelpmpok, akan tetap terpelihara. Permainan ini tidak melahirkan perbedaan dalam masyarakat, seluruh warga masyarakat menyukainya dan memainkan.
Mereka mempergunakan apa yang disediakan alam, yaitu adanya rumpun bambu untuk dimanfaatkan sebagai sumber penghasilan dan sumber hiburan, karena alat-alat seperti sabangan untuk layangan dan Ging-gung juga dibuat dari pada bambu.
Egoisme dalam permainan ini tidak tampak, sebab lagu yang dimainkan dengan Ging-gung itu tidak terbatas untuk didengar sendiri, tetapi orang lain dapat menikmatinya. Selain itu, lagu akan tampak sanyak kalau dapat bekerja sama yang baik dengan orang lain ikut memainkan Ging-gung.
Demikianlah permainan ging-gung yang merupakan permainan tradisional para petani umumnya, penggembala ternak pada khususnya, di desa Sa-plasa tidak pudar, tetapi terpelihara dan digemari sampai sekarang.
Diangkat dari bebarapa sumber












