Carok Sebagai Bentuk Kesenian Madura

Carok Sebagai Bentuk Kesenian Masyarakat Pandalungan

Moh Badrih

Ilustrasi

Selama ini carok dipahami sebagai perkelahian dengan memakai celurit yang umunya dilakukan oleh sebagian besar masyarakat ‘Madura’. Namun kalau dilihat dari etimologi, definisi tersebut sangat bertolak belakang dengan konsep yang sebenarnya. Secara kebahasaan carok diambil dari kirata basa caca tacorok (berbicara asal) yang bisa mengakibatkan timbulnya emosi bagi yang mendengar.

Awalnya, kasus ini terjadi pada sebagian besar kaum wanita yang merasa tidak suka dengan kehadiran teman sebayanya. Kehadiran teman sebayanya yang dinilai tidak bersahabat dan dicurigai sering menjadi bahan ejekan. Merasa diperlakukan diskriminasi di komunitas tersebut, wanita yang bersangkutan membalasnya dengan ejekan, yang pada akhirnya berujung pertengkaran.

Fenomena serupa juga terjadi pada kaum laki-laki. Namun dalam hal ini, kaum laki-laki tidak mau disebut seperti kaum wanita yang hanya bertengkar dengan mulut. Kaum laki-laki membuat semboyan sendiri bahwa kaum wanita mempunyai mulut dua sehingga suka bertengkar dengan kata-kata sedangkan kaum laki-laki mempunyai senjata sehigga sangat naïf bahkan pecundang jika tidak bertengkar dengan senjata.

Di satu sisi carok merupakan pembelaan hak dan menjaga martabat. Dua hal itulah yang dipertahan kebanyak orang Madura. Di dalam mempertahankan kedua hal tersebut orang Madura sering bersemboyan ketimbang putih mata lebih baik putih tulang. Putih mata berarti harus menanggung malu pada orang banyak sedangkan putih tulang merupakan ujung dari kehidupan (mati).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.