Sementara, Ketua Komunitas Tionghoa, Freddy Kustianto, mengaku sengaja mempersembahkan atraksi Barongsai itu, sebagai bentuk kepedulian terhadap Sumenep. “Ini juga sebagai bukti, bentuk kecintaan kami terhadap Sumenep. Kami hidup di Sumenep. Sumenep seakan sudah menjadi tanah kebanggaan kami juga. Makanya, di momen spesial hari jadi Sumenep, kami dari etnis tionghoa ingin mempersembahkan hiburan untuk seluruh masyarakat Sumenep,” ujarnya sambil
Group kesenian barongsai yang sengaja didatangkan dari Surabaya, Dragon & Lion Dance “Sumber Mulya” Surabaya itu, menampilkan sejumlah atraksi yang cukup mengesankan bagi penonton.
Adalah korelasi kesenian barongsai yang dari Tinghoa itu dengan sejarah budaya Sumenep?, Dalam catatan sejarah etnik Cina pada masa lalu punbya andilo besal terhadap fenomena budaya Madura, khususnya di Kabupaten Sumenep. Dengan korelasi ini masyarakat Sumenep mempunya ikatan persaudaraan yang erat dengan etnik Cina sebagai masyarakat pendatang.
Bahkan asimilasi antara warga masyarakat Tionghoa dengan masyarakat pribumi Sumenep, telah demikian erat dalam memahami setiap persoalan kehidupan. Para warga Tinghoa tidak merasa terpencil atau tersisih dari komunitas masyarakat pribumi, meskipun dalam posisi minoritas.
Salah satu misal keeratan orang Tinghoa dengan budaya masyarakat Sumenep, yaitu dapat dilihat dari pembangunan Masjid Agung Sumenep yang dibangun atas inisiatif Adipati Sumenep, Pangeran Natakusuma I alias Panembahan Somala (1762-1811 M). Adipati yang memiliki nama asli Aria Asirudin Natakusuma ini, sengaja mendirikan masjid yang lebih besar dari masjid sebelumnya yaitu Masjid Laju, oleh Pangeran Anggadipa (Adipati Sumenep, 1626-1644 M).
Konon, setelah keraton selesai pembangunannya, Pangeran Natakusuma I memerintahkan arsitek yang juga untuk membangun keraton, maka ditunjukkah Lauw Piango, untuk membangun Masjid Jami’ (yang kini menjadi Masjid Agung Sumenep). Berdasarkan catatan di buku Sejarah Sumenep diketahui, Lauw Piango adalah cucu dari Lauw Khun Thing yang merupakan satu dari enam orang China yang mula-mula datang dan menetap di Sumenep. Ia diperkirakan pelarian dari Semarang akibat adanya perang yang disebut ‘Huru-hara Tionghwa’ (1740 M). Demikian juga peninggalan-peninggalan budaya yang lain, unsur arsitektur Cina tampaknya melekat pada bangunan-bangunan lama yang ada di Sumenep
Jadi kehadiran barongsai di Sumenep, bila dilihat dalam perpektif budaya, bagi masyarakat Sumenep merupakan kembalinya bentuk kesenian yang kemungkinan besar pada jaman dulu penah di tampilkan dihadapat masyarakat. (Lontar Madura)











