Aroma Du’remmek dan Kembhâng Campor Bhâbur

Dalam kakawin Nagarakretagama secara gamblang telah ditulis oleh Mpu Prapanca bahwa orang Majapahit di abad XIV sudah biasa menghias taman istana dan pelataran candi dengan tanaman nagasari, tepus, angsoka, melati, tanjung dan tanaman berbunga lain. Rupanya penanamannya tidak  untuk dinikmati keindahan bunganya tetapi lebih ditujukan buat menghasilkan bunga guna dipakai dalam sesajian keagamaan, sehingga pasti dirusak seperti kembhâng campor bhâbur Madura. Pendapat ini didasarkan pada praktik penanaman pohon seperti kemboja––tanaman pendatang dari Amerika Selatan yang berhasil menggeser nagasari yang berbunga agak mirip––di kawasan pekuburan di sekitar kita yang sekarang mungkin dilakukan untuk meneruskan pandangan, konsepsi, dan pemahaman akan maknanya yang serupa seperti dilakukan orang Majapahit tempo doeloe. Jadi penanamannya sebenarnya ditujukan untuk diambil bunganya yang putih besar dan menyebarkan aroma wangi seperti bunga nagasari. Kegiatan berziarah ke kuburan sekarang umum dikatakan menyekar, yang artinya memberi bunga. Namun bunga-bunga yang ditaburkan di kuburan itu juga . . . dirusak!

Adanya kontak budaya dengan orang Barat, menyebabkan perubahan sikap bangsa Indonesia sehingga sekarang keindahan kuntum-kuntum bebungaan yang utuh telah disenangi pula oleh bangsa kita, seperti tersaksikan dari maraknya bisnis karangan bunga di perkotaan. Keindahan warna warni dan terutama juga kewangian bunga tentunya mendasari penyebab mengapa tempayan air siraman pengantin sekarang diisi dengan bunga rampai atau kembhâng campor bhâbur. Pesona bunga juga yang menyebabkan adanya motif kembang tetumbuhan pada batik, diukirkannya bebungaan sebagai relief candi atau hiasan keris, dan dipakainya bunga dalam pepatah petitih, serta munculnya bunga dalam nyanyian dan tembang. Akan tetapi kalau dikaji lebih lanjut akan terlihat bahwa bunga-bunga tadi lebih dipentingkan landasan gagasannya dan bukan keseutuhannya.

Dengan demikian dapatlah disimpulkan bahwa budaya menggunakan campuran bunga yang diracik sehingga berubah bentuk yang dari dulu dipraktikkan di Madura memang sudah berterima secara luas di kalangan masyarakat Indonesia.

*****

Tulisan bersambung:

  1. Sumbangan Budaya Madura Kepada Kebudayan Nasional
  2. Pengembangan Bahasa Madura dan Problematikanya
  3. Sekilas Falsafah Abhântal Ombâ’ Asapo’ Angèn
  4. Pembudidayaan Bhâlungka’ dan Tèkay Madura
  5. Tentang Kuliner: Ètèk sè Nyongkem
  6. Sèkep Pelambang Kejantanan Seorang Pria Madura
  7. Aroma Du’remmek dan Kembhâng Campor Bhâbur
  8. Pola dan Bentuk Rumah: Tanèyan Lanjhâng
  9. Ramuan Jhâmo Bagi Wanita Madhurâ
  10. Masa depan Madura Bergantung Pemuda Madura

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.