Pangeran Katandur, Tokoh Penyebar Islam di Sumenep

Selain sunan Padusan, pada abad ke 17, atau saat pemerintahan Pangeran Lor dan Pangeran Wetan tahun 1550-an di daerah Sumenep juga ada seorang tokoh penyebaran agama Islam  lainnya, yaitu Syayyid Ahmadul Baidhawi atau lebih dikenal dengan nama Pangeran Katandur. Kuburannya terletak di desa Bangkal sebelah timur kota Sumenep dan sampai sekarang lebih dikenal dengan Asta Sabu.

Keturunan –  keturunannya banyak yang berhasil dalam mengIslamkan penduduk Madura. Salah satu keturuannya yaitu Bendoro Saud yang akhirnya menjadi penguasa Sumenep dari tahun 1750-1762. Pada abad ke 18, proses Islamisasi di Sumenep semakin meluas ketika diperintah oleh putra dari Bendoro Saud, yang bernama Panembahan Sumolo. Buktinya yaitu adanya keraton Sumenep dan Masjid Jamik. Keraton Sumenep juga berpindah pindah, dari yang semula berada di desa Banasare, kecamatan Rubau, kemudian pada saat pemimpinnya yaitu raja Jokotole (1415-1460) keraton tersebut pindah ke daerah Dungkek.

Dahulu sebelum ada masjid tersebut, sudah ada masjid yang dibangun oleh Raja Pangera Anggadipa (1626-1644), yang letaknya di sebelah Utara. Namanya dulu yaitu Masjid Laju (dalam bahasa Indonesia bernama masjid Lama). Serta kegunaaan masjid dahulu tersebut merupakan masjid keraton yang dikhususkan untuk para raja dan kalangan kerajaan.

Sekarang Masjid Agung tersebut berada di tengah kota Sumenep, tepatnya di jalan Trunojoyo No. 06 kelurahan Bangselok. Letak mesjid ini tidak terlalu jauh dengan bangunan sejarah lainnya yang ada di kota Sumenep, seperti Keraton Panembahan Sumolo.

Masjid Agung Sumenep dibangun oleh Panembahan Sumolo  atau Pangeran Natakusuma I (1762-1811). Sebenarnya, masjid ini adalah pemugaran dari mesjid Laju yang dibangun oleh Pangeran Anggadipa, beliau sendiri pernah pula menjabat sebagai Adipati Sumenep (1626-1644). Dahulu, Pangeran yang memiliki nama asli Aria Asirudin Natakusuma,  menganggap masjid Laju sudah tidak dapat lagi menampung jumlah jemaah Islam  di kota Sumenep yang semakin bertambah.

Rencana pemugaran mesjid Agung Sumenep dilakukan setelah pembangunan Keraton Sumolo  selesai dikerjakan, yakni sekitar tahun 1752. Pada saat itu Pangeran Anggadipa saat melihat hasil karya seorang arsitek Cina yaitu Lauw Pingao dalam membangun keraton Sumolo, maka beliau akhirnya menugaskan kepada arsitek  memugar masjid Laju.

Lauw Piango adalah cucu dari Lauw Khun Thing yang merupakan satu dari enam orang China yang pertama datang dan menetap di Sumenep. Setelah berhasil menyelamatkan diri dari kota Semarang akibat adanya perang “Huru-hara Tionghwa” (1740 M).

Dari tinjauan arsitektural, mesjid Agung Sumenep telah menjadi bukti adanya akulturasi kebudayaan pada masa silam di kabupaten paling timur yaitu Sumenep. Sejarah telah mencatat, pembangunan mesjid Agung dimulai pada tahun 1779 dan selesai tahun 1787. Terhadap masjid bersejarah ini, Pangeran Natakusuma I berwasiat yang ditulis pada tahun 1806, bunyinya sebagai berikut;

“Masjid ini adalah Baitullah, berwasiat Pangeran Natakusuma penguasa di negeri/keraton Sumenep. Sesungguhnya wasiatku kepada orang yang memerintah (selaku penguasa) dan menegakkan kebaikan. Jika terdapat Masjid ini sesudahku (keadaan) aib, maka perbaiki. Karena sesungguhnya Masjid ini wakaf, tidak boleh diwariskan, dan tidak boleh dijual, dan tidak boleh dirusak.”

Selain itu, ada juga makam Pangeran Pulang Jiwa yang berangka tahun 1678 M yang terdapat di Asta Tinggi. Akan tetapi baru baru ini ditemukan makam kuno sebanyak 7 buah di dusun Kampung Baru Desa pandian, Sumenep, yang oenemunya yaitu bapak Sunarto.

Dari penelitian para Sejarawan, ada salah satu nisan makam kuno tersebut terdapat tulisan dalam bahasa Arab yaitu (Syeh Sayyid Abdullah) yang mempunyai julukan Maha Pati Raja Anggadipa, selain itu ada ukiran dua kalimat syahadat, sholawat nabi dan tulisan dalam bentuk huruf jawa kuno, yang menunjukkan tahun wafatnya yaitu 1151 Hijriyah. Serta menurut warga ada yang menyakini kalau ada salah satu makam tersebut merupakan saudara kandung Sunan Bonang. Karena pada nisannya ada tulisan arab yang berbunyi Bonang yang wafat pada tahun 1241 Hijriyah.

Kemudian di desa Kalimo’ok tepatnya di Trunojoyo, Sumenep terdapat makam Asta K. Ali Barangbang. Ternyata K. Ali mempunyai silsilah dari Syekh Maulana Sayyid Jakfar atau lebih dikenal dengan Sunan Kudus. K. Ali Barangbang ini wafat pada tahun 1092 Hijriyah. Selama hidupnya K. Ali ini merupakan seorang ulama besar dan juga seorang penyiar agama Islam . Uniknya K. Ali ini mempunyai kelebihan, yaitu ia bisa mengajar ngaji kepada binatang kera.

Judul bersambung:

  • Penyebaran Islam di Sumenep dan Perkembangannya, baca
  • Persebaran Agama Islam  di Madura, baca
  • Masa Kekuasaan Panembahan Mandaraga, baca
  • Pangeran Katandur, Tokoh Penyebar Islam di Sumenep, baca

 

(Dinukil dari: munasharoh.blogspot.com, dengan judul: Perkembangan dan Pertumbuhan Wilayah Sumenep (Madura) 

Responses (4)

  1. Assalamualaikum.saya shohibun naufal saya masih turunan nasab dr pangeran katandur.untuk silsilahsaya punya di rumah di situ ada di jelaskan bahwa ayah dr pangeran katandur adalah sunan fachalis/facalis/fakhalis.apakah benar?

    1. Silsilah Pangeran Katandur sbg berikut :
      Sayyid Ahmadul Baidawi Pangeran Katandur bin Sayyid Amir Hasan Sunan Pakaos bin Sayyid Ja’far Shodiq Sunan Kudus bin Sayyid Usman Haji Sunan Ngudung bin Sayyid Ali Murtadho Sunan Lembayung Fadlal bin Sayyid Ibrahim Zainul Akbar bin Sayyid Jamaluddin Husein Al Qubra … terus ke Sayyidatina Fatimah Ra binti Rasulullah SAW.

      Sumber : kitab Al Faqir Mujahidun At Tarikhul Auliya (KH Bisri Musthofa – Rembang)

      1. entah,kapan itu saya comment.tapi kini di tahun 2023 baru tau kalau pernah komen..wkwk.
        Tidak,mas.setelah saya telusuri benar silsilahnya seperti yang sampeyan bilang bahwa pangeran katandur anak dari sunan pangaus/pakaos,silsilah di rumah sama tertulis seperti yang sampeyan tulis,silsilahnya ada tapi berupa seperti kaligrafi.untuk minta silsilah tidak bisa saya berikan disini karena privasi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.