Abd. Sukur Notoasmoro atau adalah tokoh yang hidup di era lima jaman merupakan tokoh terutama di antara tokoh-tokoh utama lainnya di era hampir terpuruknya bahasa daerah, dalam hal ini bahasa Madura Timur atau Sumenep. Ia banyak memberi sumbangan terhadap pelestarian bahasa Madura
Tokoh Madura
Sebagai bentuk apresiasi para tokoh dan pejuangan dari Madura, yang banyak memberikan konstribusi terhadap perkembangan di Madura
Daeng Karaeng, dari Makasar Membabat Giliyang
Daeng Karaeng Mushalleh datang ke Giliyang dalam dua tahapan tahap yang pertama dalam rangka observasi sedangkan untuk tahap yang kedua, bertujuan untuk berdomesili bersama kelurganya
Amiruddin Tjitraprawira, Ciptaan Lagunya tetap Abadi
Sejumlah lagu hasil ciptaan R. Amiruddin Tjitraprawira, banyak beredar seperti lagu; Pangèran Trunodjojo, Madhurâ O Madhurâ, Asta Aermata, Kerrabhân Sape, Djoko Tole, Tera’ Bulân, È Pasèsèr, Kè’ Lèsap, Kembhângnga Naghârâ, Tondu’ Majâng, Aèng Tantja’ Torowan, Orèng Matrol dan lainnya
Tumenggung Anggadipa Pembangun Masjid Laju
Sebagai Bupati Sumenep, Tumenggung Anggadipa dikenal sebagai pemimpin yang amar dan dekat hati rakyat. Meski tidak berasal keturunan bangsawan Sumenep namun kepemimpinannya telah menumbuhkan nasa cinta rakyat yang dipimpinnya.
KH. Alawy Muhammad, Tegas Membela Rakyat Kecil
Tokoh dan ulama dari Pulau Madura KH Alawy Muhammad, dikenal sebagai sosok keras dan tegas membela rakyat kecil, khususnya kaum petani di Sampang, Madura, Jawa Timur
Muhammad Irsyad, Seniman Multi Talenta dari Bangkalan
Sebagai kreator, Irsyad mempunyai multi talenta cukup komplit. Selain sebagai guru dan ia juga sebagai seniman musik yang telah mencipta sejumlah lagu, juga ahli dalam sistem pemeliharan dan penyimpanan peluru kendali
Nyi Suratmi, Menari Ungkapan Indah Kepada Allah
tarian atau tembang yang di kidungkan, adalah ungkapan perasaan indah terhadap Allah Taala, junjungan Nabi serta rasa hormat kepada junjungan Ratu”, ungkapnya
Letnan Ramli, Gugur dalam Peristiwa Kamal
Tahun 1946, Letnan Ramli ditugaskan di Madura Barat (Bangkalan). Tepatnya beliau menduduki posisi sebagai komandan Seksi I Kompi IV Batalyon III Resimen V Madura Barat. Tugasnya untuk mempertahankan pantai Kamal, Pier timur dan Jungrate dari rongrongan pasukan Belanda yang tidak mau menerima kedaulatan NKRI.
Posisi ini rupanya sekaligus posisi terakhirnya di BKR
KH Abdullah Sajjad Pejuang dari Pesantren
Secara nasab, Kiyai Abdullah Sajjad berasal dari kalangan elit pesantren. Asal usulnya ini kemudian lebih diperkuat oleh kedalaman ilmu yang lazim dimiliki para anak-anak kiyai setelah lama keluar kandang alias menuntut ilmu agama ke beberapa pesantren terkenal di masa itu
