Sumenep, Ratu Rasmana, dan Angin Perubahan

Pendopo Agung Keraton Sumenep

Menunjuk Putra Mahkota

Angin perubahan yang diprakarsai Rasmana untuk Sumenep tidak berhenti hingga pengalihan hak tahtanya kepada sang suami yang notabene “orang luar” keluarga keraton. Setelah berperan sebagai pendamping sang suami dalam menjalan roda pemerintahan di Sumenep, Ratu Rasmana juga mengambil pilihan sekaligus keputusan besar selanjutnya.

Sadar dirinya tidak memiliki keturunan (baik dari suami sebelumnya, maupun juga dengan Bindara Saot), adik kandung dari Pangeran Jimat (Pangeran Cakranegara III) ini meminta sang suami mendatangkan anak-anak dari isteri pertamanya. Jadi, saat “dipinang” Ratu Tirtonegoro, Bindara Saot sudah beristeri dan memiliki dua anak laki-laki. Isteri pertama dicerai karena tidak bersedia dibawa serta ke keraton. Sementara dua putra, yaitu Baha’uddin (sulung), dan Asiruddin (bungsu) diasuh di keraton.

Seperti sebelumnya, setelah melalui proses pertimbangan, istikharah dan sekaligus istisyarah, Rasmana menunjuk anak tirinya yang paling muda sebagai putra mahkota. Padahal, sekali lagi, masih banyak keluarga keraton atau sanak familinya yang secara garis silsilah memiliki peluang besar sebagai pengganti Bindara Saot. Namun itulah pilihan sekaligus kenyataan. Keunikan Ratu Rasmana jelas bukan pada kata pikiran semata. Beliau juga menggunakan, hati, insting, dan juga kemampuannya dalam melihat masa depan.

Prediksi-prediksi yang digunakan dari kejernihan hati. Beliau melihat kekuasaan bukan semata hal yang harus dipertahankan mati-matian sebagai hak kalangan tertentu. Beliau lebih mengutamakan kemaslahatan dan kemanfaatan setiap pribadi dalam konteks peran kenegaraan. Dibuatlah surat wasiat sekaligus pengukuhan Asiruddin sebagai putra mahkota. Pemuda yang cerdas, dan berkarakter tegas. Pribawanya memang terlihat sejak usia belia. Asiruddin ditetapkan sebagai pengganti Bindara Saot dengan gelar Raden Ario Atmojonegoro.

Setelah Bindara Saot dan Ratu Rasmana mangkat dalam waktu yang hampir bersamaan (hanya selisih hari), keputusan itu dijalankan. Raden Ario Atmojonegoro dinobatkan sebagai penguasa Sumenep pada 1762, dengan gelar Pangeran Adipati Notokusumo (sebelum berganti gelar Panembahan, yang dikenal orang dengan nama Panembahan Sumolo). Rasmana membuktikan bahwa dirinya dan sekaligus keputusannya tidak salah. Notokusumo tampil sebagai raja yang arif dan dikenang rakyat Sumenep sepanjang masa.

Di masa beliau berdiri tegak peradaban Sumenep hingga terlihat dari segenap penjuru. Peninggalan fisik berupa bangunan keraton, masjid jami’, dan pemugaran Asta Tinggi, menunjukkan kecakapan sebagai pemimpin pilihan. Pengganti Sumolo, Abdurrahman (Sultan Pakunataningrat, memerintah 1811-1854) merupakan penguasa terbesar sepanjang sejarah perjalanan keraton Sumenep. Di masa beliau, Sumenep dipandang sebagai daerah yang paling diperhitungkan baik oleh kalangan sejawat (negeri lain), maupun pihak kolonial (asing). Kemajuan keilmuan begitu pesat di kala itu.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *