Makna Sekep dan Nilai Pusaka Madura

Jadi tak heran, hasi binaan Empu Supo selama persinggahannya banyak menurunkan keempuannya, diantaranya selain tempat-tempat diatas, di Aeng Tongtong wilayah Kabupaten Sumenep hingga saat ini turunan murid-murid Empu Supo masih bertahan dalam kehidupannya sebagai pande keris yang merupakan pengrajin terkenal di Madura.

Jadi tak heran, hasil binaan Empu Supo sendiri, sesampai di Blambangan ia membuat pisau-pisau sebagai kebutuhan rumah tangga. Hingga akhirnya didengar oleh raja Blambangan. Singkat kisah akhirnya Raja bertitah agar dibuatkan keris serupa, setelah diketahui bahwa keris “Se Kelap” adalah ciptaannya yang saat itu sedang dicari. Proses pembuatan duplikat “Se Kelap” hanya dalam waktu singkat kemudian dihaturkan kepada Raja Blambangan, yang sebenarnya adalah Macan Caloreng pencuri keris itu yang diangkat oleh rakyat menjadi raja karena kedigdayaannya. Sedang “Se Kelap” asli oleh Empu Supo dimasukkan kedalam paha, sejajar dengan tulang paha, dan tidak meninggalkan bekas luka dan darah dipahanya. Demikian kisah singkat tentang “Se Kelap”. Kebenaran atau tidaknya, Wallahua’lam. Namun demikian sebagian orang Madura berkeyakinan bahwa setiap pusaka memiliki kelebihan yang tidak ditangkap logika.

Selain keris pusaka, masih banyak bentuk sekep-sekep lain yang juga memiliki kelebihan (kajunilan, Mdr) menurut pemiliknya. Yang kerap dikenal dalam bentuk batu-batuan,  ayat-ayat (isim) atau benda-benda lain yang lebih mudah dan praktis bila digunakan setiap saat. Meski demikian, tokoh-tokoh agama mengahawatirkan, bila suatu saat pemilik (pencinta) justru terjerumus dalam kepercayaannya pada benda.

Beberapa pencinta pusaka menyatakan, bahwa keris ataupun sekep lainnya memiliki nilai multifunsional. Yaitu disamping untuk menjaga keselamatan hidup, juga berfungsi sebagai penglaris dalam berdagang, pertanian, perindustrian, kedudukan, kepangkatan atau meningkatkan taraf hidup, social maupun status. Untuk itu dalam kancah modern ini, masih tampak dibeberapa tempat tertentu (keramat) dikunjungi para pejabat (tertentu) untuk mendapatkan wangsit atau kepada para sesepuh, dukun atau orang yang berilmu tinggi untuk minta “bekal”, baik berupa benda maupun amalan-amalan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *