Puisi Mainan Anak-Anak Madura

Puisi mainan anak-anak di Madura pada umumnya berupa nyanyian dan sulit dimengerti maknanya. Kesulitan tersebut adalah karena unsur bunyi yang agak dominan, atau karena kata-katanya banyak yang berubah oleh perjalanan waktu, atau juga memang pengarangnya yang sengaja menampilkan loncatan-loncatan imaji yang sedemikian jauh, kiranya suatu saat perlu diadakan studi khusus. Meskipun agak sulit dimengerti, namun terasa benar bahwa puisi-puisi anak-anak tersebut menyuguhkan dimensi keindahan yang lain. Seperti data di bawah ini:

         Dhi-padhi cemplo’ lelo
         Entara ka na’ subat yang-sayang
         Ambu’ ambang atotop sindhang alalap kacang yang pettes
         Lis-kantulis ba’ayu
         Sindhang katale Mangsur garejjeggan jaran
         Jaran teggar tamy
         No’-lenno’ nyodhu gahwa

 

Kalau dipaksa diterjemahkan dengan perbendaharaan kata-kata Madura yang dimiliki penulis, sementara bunyinya demikian:

         Padi-padi cemplok lelo
         Ku pergi ke nak sobat yang-sayang
         Ambuk ambang bertutup sindang berlalap kacang yang petis
         Lis-kantulis yunda
         Sindang talikan Mangsur derap-derap kuda
         Kuda pacu tamu
         Menari-nari menyendok kopi

Apabila syair di atas dipaksa dicari-cari maknanya tentu bisa punya arti juga. Tetapi sastra bukan sesuatu yang memaksa seseorang mencari-cari atau mengada-adakan makna kalau makna itu memang tidak ada. Karya sastra justru sekumpulan kata-kata yang bisa memberikan beragam makna bukan karena dicari-cari, tapi makna itu datang sendiri sebagai sesuatu yang memancar dari puisi. Sebab itu saya tidak akan memaksakan diriuntuk mencari makna dari puisi lama tersebut. Meskipun demikian puisi di atas masih banyak dinikmati melalui sisi lain, misalnya adanya konsonan yang dirangkai begitu rupa sehingga apabila didengar mempunyai daya pukau yang datangnya dari luar dunia nalar.

Syair-syair anak-anak ini selain hanya sekedar dilagukan ada juga yang digunakan sebagai iringan bagi anak-anak yang baru belajar bertepuk tangan dengan lagu pa’-kopa’ Eling, dan berayun-ayun iringan syairnya jan-anjin. Selain itu masih ada lagi Cong-koncong Konce, Teng-nyalateng, Ma-dalima Ngodha, Ri-ri Kolek, dan lain-lain. Sekarang, syair permainan anak-anak ini sudah jarang ditemukan. Sejak tahun 70-an hampir tak ada yang menyanyikan lagu-lagu ini. (dzi)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.